Dimensi Memory

Dimensi Memory
KETIDAKSENGAJAAN


__ADS_3

Petra udah pulang. Sementara gue masih keluyuran nggak jelas, menelusuri jalanan kota yang semakin sore, semakin ramai. Mungkin, karena ini sudah menunjukkan jam pulang kerja. Kegabutan gue ya selalu begini, gue seakan menikmati kehidupan sendiri tanpa keluarga. Yap, sebenarnya gue kangen sama orang-orang tersayang, tapi Tuhan telah mengambilnya dari gue.


Saat ini, gue berjalan di pinggir jalan, yang kendaraan lalu lintas tidak terlalu ramai. Ya, ini jalan taman yang menuju arah komplek, perumahan gue. Tepat di pinggir jalan, gue nemuin jajan telur gulung, yang menggairahkan nafsu makan gue, gue langsung menghampiri si penjual.


"Bang, beli. 10 ribu aja." gue langsung memesan, dan mendapatkan pelayanan yang cukup baik.


Gue membuka tas gue, bermaksud untuk mengambil uang dari dompet gue. Tapi, gue ngelihat ada anak kecil yang menghitung uang logam di telapak tangannya, sesekali dia melihat telur gulung. Gue ngerasa iba, sepertinya dia ingin membeli telur gulung, namun uang yang dia punya tidaklah cukup untuk membeli jajanan tersebut.


"Kenapa, dek? Mau jajan?" tanya gue pelan, ke anak tersebut.


Dia tersenyum tipis, dan menggeleng. "Uangku nggak cukup, Kak. Aku cuma punya receh 500 perak," katanya.


Gue sangat mengiba. "Yaudah, kamu ambil aja. Kakak traktik kamu deh, kamu ambil sebanyak yang kamu mau. Nanti biar Kakak yang bayarin."


"Serius, Kak?"


"Kakak serius. Anggap aja ini tanda pertemanan. Oh ya, nama kamu siapa?" gue langsung mengulurkan tangan, anak itu pun membalasnya.


"Nama aku, Fatir."


"Oke, Fatir. Aku Lovandra."


"Ini neng telur gulungnya," ucap si Abang tukang jajanan tersebut.

__ADS_1


"Oke, Bang." Gue langsung mengambilnya, dan langsung gue kasihkan ke anak kecil yang berdiri di samping gue.


"Nih, buat kamu," ucap gue pada Fatir. Fatir awalnya diam, "udah ambil aja. Nanti biar Kakak beli lagi," sambung gue. Fatir tersenyum, dan dia mengambilnya dengan mengucap kata terima kasih.


Kemudian, Fatir berpamitan ke gue, dia langsung berjalan ke arah timur, untuk menyebrang. Gue ngelihat dia berlalu, dan...


"AWAS!!!!"


Gue ngelihat 3 kendaraan motor mengebut, dan Fatir yang hendak menyebrang pun, menjadi pusat ketiga motor itu.


Tabrakan yang nyata di depan gue, gue langsung menutup mata, dan lutut gue terasa lemas. Gue langsung menjatuhkan lutut gue ke aspal. Seketika kepala gue ngerasa sakit. Trauma itu, muncul. Gue mendapatkan satu memory yang sama sekali nggak bisa gue jelasin.


Setelah beberapa detik, gue melihat di depan gue telah ramai. Menolong Fatir, dan ketiga pengendara motor tersebut bertanggungjawab atas kecelakaan ini. Gue langsung berdiri lagi, dengan langkah pelan, gue menghampiri kerumunan warga.


"Langsung bawa ke rumah sakit! Biar gua yang tanggung jawab! Gue panik ini, gua panik!" katanya. Gue lihat si pelaku yang tidak sengaja menabrak Fatir itu, langsung panik. Dan, gue mengenal si pelaku tersebut.


"Biru?"


Gue meyakinkan diri gue. Setelah itu, gue menghampiri lebih dekat lagi.


"Ngapain lu buka sepatu, PA!" Gue mendengar salah satu cowok—dari tiga pelaku tersebut, yang masih berseragam SMA. Dia bernametag AGAM B. Gue nggak tau pasti, cowok itu yang pasti memarahi salah satu cowok yang berdiri di samping kanan Biru.


"Gua refleks! Gua panik!" katanya, yang gue lihat namanya TOSCA JIN G. Di nametag baju seragamnya.

__ADS_1


"Ya lo kira, mau masuk mesjid pake buka sepatu. Cuma bopong anak ketabrak doang sampe buka sepatu! Dasar Jin dan Jun," maki Agam.


Cowok yang bernama Tosca itu langsung membawa Fatir ke dalam taksi yang diberhentikan warga. Gue lihat, Biru yang ikut serta pun, membuat gue merasa, harus ikut serta ke dalam kecelakaan tersebut. Bukan karena Biru, tapi gue ngerasa harus ikut serta menyelamatkan Fatir.


"Gua ikut!" gue langsung masuk ke dalam taksi, tanpa mendengar intruksi dari Biru dan dua cowok tersebut.


Biru duduk di depan, dan gue sama dua cowok tersebut duduk di belakang. Sementara Tosca yang duduk di tengah sambil membopong Fatir terlihat merasa sempit.


"Lo kok bisa ada di sini, sih?" tanya Biru ke gue, saat taksi sudah melaju menuju rumah sakit terdekat.


"Gue ikut bertanggungjawab sama kecelakaan Fatir," ucap gue simple.


"Oh, lo kenal sama anak ini?" Tanya Tosca ke gue.


"Iya."


"Lo siapa?" tanya Agam ke gue. "Maksud gue, nama lo siapa? Lo kakaknya bocah ini?" tanya Agam, lagi.


"Gue Lovandra. Bukan. Gue bukan Kakaknya. Tapi, gue ngerasa bersalah aja, seharusnya tadi gue tarik dia, agar terhindar dari tabrakan tadi." gue berujar panjang lebar.


"Oh jadi lo yang namanya Lovandra." Tosca tersenyum miring. Diikuti Agam yang juga tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala. Gue nggak tau apa maksud dua cowok ini, yang pasti di sana Biru langsung memelototi dua cowok tersebut.


TBC!

__ADS_1


__ADS_2