
Udara malam memang sangat dingin. Lovandra kali ini tidak bisa tidur, meski seringkali dia berusaha untuk menutup matanya dan tidur. Namun tidak bisa. Pikirannya sedang kacau. Ingin sekali dia bebas dalam pikiran kalutnya. Namun tetap saja tidak bisa. Setelah kejadian yang telah menimpanya saat ini, Lovandra menjadi pemikir yang keras. Mengapa hidupnya menjadi sangat menyedihkan seperti ini?
Hidup adalah sebuah keberanian, pikir Lovandra. Dia berusaha mengusir kalut yang membelenggu pikirannya.
Kadang ada hal yang membuatnya berubah menjadi hal yang paling lemah. Dia hidup sendirian di bawah atap rumah yang menyimpan segudang memory indah bersama Ayah atau Ibunya. Kini, hanya tinggal sebuah cerita. Lovandra tahu, kehidupan keras yang dilalui oleh kedua orangtuanya sampai pada titik teratas sebuah bisnis yang sukses. Namun, sebetulnya, Lovandra tidak menginginkan hidup dalam harta yang bergelimang. Hanya kebersamaanlah yang Lovandra butuhkan.
Ini sangat menyedihkan, ketika Ayahnya pernah sembunyi-sembunyi merahasiakan rasa sakitnya saat bekerja melawan waktu. Serta Ibunya yang tangguh membesarkan Lovandra dalam kesibukkan yang digelutinya. Saat detik terakhir kedua orangtuanya menghembuskan napas, Lovandra meringis kesakitan. Dia menyaksikan semua hal yang menyakitkan. Memory itu telah kembali, dan terekam jelas dalam otaknya.
__ADS_1
Don't cry.
Karena hidup bukan hanya tentang kebahagiaan, tapi juga tentang kesedihan. Hidup nggak akan selamanya ada di atas, ada saatnya di mana kita ada di bawah, di titik paling tersedih. Tapi, ini bukan tentang siapa yang paling sedih, tapi siapa yang paling kuat bertahan. Lovandra hanya bisa menangis saat ini.
Hanya detik terakhir kedua orangtuanya yang terenggut tak terselamatkan yang bisa Lovandra ingat. Selebihnya, saat kedua orangtuanya dimakamkan, Lovandra tidak bisa ikut hadir. Posisinya dia sedang terbaring koma di rumah sakit. Sebodoh itukah? Cinta sederhananya pada Biru telah menghilangkan segalanya.
Lovandra kini mengingat sosok Ayah dalam hidupnya. Yang senantiasa tangguh menjalani kehidupan kerasnya dalam berbisnis. Bahkan Lovandra pernah memergoki Ayahnya yang seperti menahan rasa sakit di bagian perut sebelah kiri. Lovandra menanyakan keadaanya pun, Ayahnya menjawab selalu saja dengan kalimat; tidak apa-apa.
__ADS_1
Aku menyadari bahwa kehadiran mereka sangat berarti di saat aku merasa sepi dan sendiri, batin Lovandra.
Tiba-tiba ponselnya berdering lagi. Kali ini bukan telepon masuk. Melainkan pesan singkat yang masuk.
Isi pesan:
Jangan sedih, ya. Gue tau Lo pasti lagi kalut sama ceritanya Petra. Iya gue tau, kalau gue nggak tau-menau soal cerita Petra. Tapi, Lo harus istirahat. Ini udah malem. Gue lihat status WhatsApp Lo online terus, jadi gue rasa gue perlu ngingetin Lo, kalau ini waktunya tidur. Tadi katanya Lo mau tidur, pas gue telepon. Yaudah Lo tidur. Besok sekolah. Maaf kalau gue bawel, karena gue rasa Lo pantes dapatin perhatian lebih dari teman lamaaa yang pernah hilang dalam kisah Lo ini. Wkwk. Oke deh, selamat tidur. Apa perlu gue nyanyi Nina Bobo dulu biar Lo tidur? 😂
__ADS_1
Lovandra sedikit tersenyum. Meski dia tidak membalas pesan WhatsApp tersebut, Lovandra langsung menyimpan kontak tersebut dengan nama Osca. Jin memang cowok yang bawel, tapi tak jarang juga dia dapat julukan cowok dingin. Kadang, Lovandra berpikir; ada rencana apa Tuhan menakdirkan bertemu kembali dengan Osca alias Jin itu? Entahlah. Ini menjadi misteri kecil.
BerSAMBUNG....