Dimensi Memory

Dimensi Memory
BIRU AKSARADITYA


__ADS_3


B I R U ' s POV


Tak ada puding yang tak retak. Gue menerka sama tulisan itu, sampai benar-benar mengamati jauh lebih dalam. Sebenarnya itu kalimatnya yang salah atau emang otak gue yang salah. Seharusnya, tak ada gading yang tak retak, lah kenapa jadi puding?


"Biru! Lo lihat kolor gua nggak!" teriak seseorang dari arah timur rumah. Gue langsung mendengus kesal, suara itu berhasil menghancurkan konsentrasi gue pagi ini.


"Nggak denger!"


"Kolor gua PA! Lu lihat nggak?!" katanya lagi.


Kemudian gue sama sekali nggak mau menggubris teriakan itu. Gue hanya fokus sarapan, karena seorang Biru Aksaraditya kayak gue, nggak akan pernah nyia-nyiain sarapan pagi. Sarapan pagi itu penting dari segalanya, kalau pun cuma ada sehelai roti dan selainya di atas meja makan, itu sudah menjadi kebahagiaan tersendiri untuk gue. So, gue nggak peduli sama teriakan tadi.


Kemudian seseorang nyamperin gue yang asyik di meja makan, dia cuma pake lilitan handuk di pinggangnya.


"Lu lihat kolor gua nggak, Bir?" tanyanya lagi.


"Sialan lo jing. Ya mana gue tau, gue bukan duta perkoloran, jadi gausah nanya kolor ke gue." Gue jawab ketus.


"Terus kolor gua dimana dong." eksresinya seperti meminta gue untuk mencarikan kolornya tersebut.


"Lo pake aja yang punya gua. Gak usah dibikin ribet."


"Bukan masalah itunya, Bir. Lo tau nggak kolor-kolornya gua itu belinya di Thailand."


"Terus?"


"Ada sebagian juga yang dapat dikasih dari seseorang yang spesial di hidup gue."


"Bacot lo! Cuma kolor doang juga!"

__ADS_1


"Yaudah di mana jing!"


"Di mana apanya?"


"Kolor lah,"


"Aing teu nyaho PA sia!"


"Awas lu ye kalau ketauan lu yang ngambil. Lu bilangin nyokap bokap gue lu."


"Balik lo sono ke Thailand!"


Gua mendengus amat sangat kesal. Dia adalah Tosca Jin Gayatri, sepupu gue. Dia lebih akrab dipanggil Jin. Bukan jin yang ada di dalam botol—yang diusap-usapin langsung keluar. Nggak. Dia bukan Jin semacam itu. Mukanya emang sebelas dua belas ama gue. Ganteng. Tapi kegantengannya nggak pernah ada titiknya. Asekdah. Dia ngungsi di rumah gue udah sebulanan ini. Dan kabarnya memang, dia mau menetap di Indonesia dan sekolah di sini. Sebenarnya, dari kecil dia emang tinggal di sini, dia ikut orangtuanya pindah ke Thailand ketika dia masih duduk di bangku kelas 2 SMP. Sekarang udah kelas 2 SMA, jadi dia tinggal di Thailand cuma beberapa tahun doang, abis itu balik ke Indonesia dengan catatan; dia akan tinggal bersama gue. Bukan cuma dia, ada satu lagi sepupu gue, namanya Agam Baratayuda. Kita tiga sepupuan yang seumuran, orangtua kita adik-kakaan, dan bokap gue adalah anak pertama, sementara bokapnya si Jin, anak kedua. Dan yang terakhir, nyokapnya si Agam. Jadi, cowok-cowok-cewek. Bokap gue namanya Jingga, Bokapnya si Jin, namanya Arjuna, dan nyokapnya si Agam namanya Violeta.


Bukan hanya itu.


Kampretnya, di rumah yang segede ini gue tinggal bertigaan sama mereka. Sisanya adalah cuma pembantu-pembantu rumah aja. Nggak banyak, cuma ada 2 pembantu doang, yang satu nyiapin makanan, yang satunya lagi beres-beres rumah. Orangtua kita tengah sibuk di luar negeri dengan bisnis-bisnis mereka yang terkesan lebih diprioritaskan daripada anak-anak mereka yang udah setengah waras menjalani kehidupan remaja yang gini-gini aja.


"Buka apa?"


"Torek lo ya?! Buku bukan buka. Mana buku gua. Gua belum selesai baca."


Gue mendengus kesal. "Lo cari dong, Gam. Jangan tanya ke gue. Gue mana tau buku lo. Buku-buku sastra berat lo yang tebelnya kayak buku kitab suci sunggokong."


"Sialan lo nyet. Buku itu ilmu."


Dia langsung nyeleos dari pandangan gue. Ya, dia Agam. Anaknya hobby banget sama baca. Sampai-sampai di kamarnya terpenuhi dengan buku-buku bermacam bentuk. Dipandangan mata Agam, buku sudah seperti seorang pacar. Agam selalu mengistimewakannya. Patut gue akuin, diantara kita bertiga, Agamlah yang paling cerdas. Tapi aslinya, dia sama aja kayak gue dan Jin, sama-sama berengsek kalau urusan cewek.


Nggak percaya?


Dulu gue pernah mergokin Jin nangisin cewek setelah kita balik liburan dari dufan. Ceweknya ampe nangis, dan Jin sama sekali nggak peduli. Katanya, cewek itu pacarnya Jin, dan Jin mutusin cewek tersebut tanpa sebab. Ya, Jin tipe cowok yang kalau udah bosen, ya tinggalin. Sama kayak si Agam, dia di sekolahnya terkenal sebagai anak paling cerdas dengan nilai yang selalu nyaris sempurna, dan tipe-tipe cowok yang susah digapai, tapi nggak bisa dipungkiri, gue pernah mergokin Agam jalan ama ceweknya ke hotel. Mereka sewa kamar semalaman, dan besoknya gue coba negur Agam, dia cuma bilang; kita abis praktekin teory bagaimana diciptakannya manusia.

__ADS_1


Ngakak. Kita bertiga memang seberengsek itu. Sama halnya kayak gue, sama persis sama kasus dua curut yang gue sebutin tadi, cuma bedanya gua adalah tipe cowok yang jual mahal, dan gua cuma mau deket sama cewek yang high class.


Ah, lupain soal itu. Tiba-tiba, Jin nyamperin gue dengan penampilannya yang udah pakai baju seragam SMA, di susul oleh Agam—yang juga sudah pakai baju seragam SMA. Kita nggak satu sekolah. Kita beda-beda sekolah. Karena kalau sampai disatuin sekolahnya, gue rasa akan menjadi kiamat bagi para wanita-wanita di sekolah. Bagaimana tidak, mereka pasti akan sibuk mencari perhatian dari seorang Biru, Jin, dan Agam, yang memiliki kadar ketampanan yang tak masuk akal. Anjay. Gue emang sealay itu.


"Itu apaan, Bir?"


Jin langsung duduk dan menyantap sehelai roti yang telah disiapin Bibi. Dia melihat tugas bahasa Indonesia gue yang bertulisan; tak ada puding yang tak retak.


"Tugas BI."


"Bir. Lo nggak bisa bahasa Indonesia, ya? Kalimat lo salah tuh." Agam langsung merevisi kalimat itu.


"Bir, sejak kapan gading jadi puding?" Jin menimpal.


"Bukan gua yang nulis. Sumpah."


"***. Otak lo isinya makanan aja sih."


"Bukan gua yang nulis, Jin!"


"Oh gua tau, pasti gadingnya lagi dipanggil pengadilan ya, buat sidang cerai ama gisel. Jadi, lo ganti puding dah. Haha." tawa Jin receh. Gue hanya diam.


"Gak lucu nyet!"


"Bacot! Udah ah gua cabut duluan. Udah telat!" Jin langsung bergegas keluar rumah, tanpa sepatah kata lagi.


"Nih, tugas lo udah gua benerin! Gua berangkat duluan!" Agam bergegas menyusul Jin. Dan, tinggal gue doang sendiri. Sekolah Jin sama Agam searah, itu sebabnya kadang mereka selalu berangkat bareng, padahal bawa motor masing-masing. Sementara gue? Ya, nikmatin ajalah.


A/n


Ini pake POV Biru ya. Ntr bakal selang seling POV nya... Ikutin aja kisahnyaaa....

__ADS_1


5 agustus 2019


__ADS_2