Dimensi Memory

Dimensi Memory
PULANG SEKOLAH


__ADS_3

Di saat mood lagi berantakan, ngaku atau enggak lo bakal nggak ngerti sama perasaan lo sendiri. Ditambah lagi kalau lagi datang bulan begini, udah pasti setiap cewek pernah ngerasain yang namanya ancur mood, sumilang, dan yang paling aneh adalah pernah ada di posisi pengen nangis, tapi nggak tau nangisnya itu karena apa. Entahlah, hari ini perasaan gue lagi bobrok.


Gue pengen nangis.


Bukan karena sesuatu yang udah bikin gue nangis, bukan juga karena seseorang. Gue cuma pengen nangis, karena diri gue sendiri. Menangisi diri gue sendiri, yang terkadang gue ngerasa nggak berguna, pekerjaan apapun yang gue lakuin selalu salah di mata orang yang dengan permanen mandang kita hanya dengan kesalahan-kesalahan yang pernah kita perbuat. Manusiawi, coy. Lo nggak selamanya benar, dan lo juga nggak selamanya salah, kenapa masih menuntut kesempurnaan? Seharus paham, tapi gue ngerasa, selalu gue aja yang harus mengerti dan memahami segala situasi.


Gue benci.


Benci ama waktu dan hati gue.


Tapi kembali lagi, gue harus paham. Setidaknya gue nggak lari bunuh diri lompat dari ketinggian mesjid istiklal, biar gue beragumen kalau matinya gue ini sahid, karena di mesjid. Yakali, gue nggak sebodoh itu. Dan gue selalu berpikir, bahwa Tuhan masih baik terhadap gue. Meski gue telah kehilangan kedua orangtua gue. Hati, perasaan, pikiran, otak gue masih diberikan kelapangan yang luar biasa, meskipun selalu ada titik di mana gue benci sama hati dan otak gue.


Well, nggak ada orang yang ngerti sama konsep pemikiran gue. So, gue nggak peduli. Gue paham semuanya saat gue berhasil bangun dari koma kemarin, ada banyak cerita ganjal yang terjadi saat gue koma, cuma entahlah gue nggak tau bakal ada orang yang percaya atau nggak. Tapi, semua itu, mampu membuat gue membuka mata selebar-lebarnya, bahwa memang hidup ini hanya tentang sebuah luka. Karena kalau lo nggak berusaha menggapai bahagia, lo akan selamanya merasa terluka.


Gue bukan motivator.


Gue cuma gadis bodoh yang telah berhasil bangun dari koma, dan kembali melanjutkan hidup konyol yang isinya hanya seputaran drama-drama ftv, yang menurut gue, seharusnya gue pergi sama bokap dan nyokap. Tapi, gue belum cukup amal, atau bisa dikatakan, gue belum siap mati karena belum kawin. Ngakak, coy. Kadang gue seburuk itu. Aslinya, gue ini pendiem, dan kaku kalau ketemu sama orang baru, dan nggak pernah mau membuka obrolan jika berhadapan dengan orang baru. Tapi kalau lo udah paham sama diri gue, lo bakal selalu ngakak dan memandang gue beda dari kebanyakan mahluk Tuhan yang paling sexy di dunia ini.


Gue nggak sexy, tapi gue ini cantik alami. Anjay.


"Van!"


"Iya, Tra?"


"Lo kok pucet?"


"Iya, gue lemes."


"Why? Lo sakit?" Petra langsung menempelkan telapak tangannya di jidat gue. "Tapi kok nggak anget?"


"Sakitnya tuh di sini, Tra." Gue langsung megang perut. Petra malah cengengesan.


"Kayak judul lagu." dia meledek.


"Nggak lucu."


"Lo sakit apa?"


"Siklus bulanan gue bikin semua badan gue ngerasa pegel dan sakit-sakit gimana gitu. Terutama di perut."


"Perut bisa pegel, Van?"


"Bacot! Stop ngeledekin gue, Tra. Gue lagi sumilang. Ini hari pertama gue menstruasi. Jangan bikin mood gue makin ancur, dong." gue menampakan wajah lesuh dan peduli setan ama komuknya yang berusaha bikin suasana cair, tapi gagal.

__ADS_1


"Gue bisa bantu lo apa?"


"Kayaknya gue dapet banyak deh hari ini."


"Terus?"


"Gue malu."


"Malu kenapa?"


"Kita pulangnya agak sepian ya, Tra."


"Kenapa emangnya?"


Sialan, Petra sama sekali nggak ngerti kalau rok belakang gue udah ngejeplak tanda merah di sana. Itu tandanya gue tembus hari ini. Jadi cewek kadang ribet. Gue sebel.


"Nggak apa-apa."


"Bohong."


"Tapi, kita pulang pake motor, Tra?" gue malah mengalihkan pembicaraan


"Ya iyalah, masa pake pesawat."


"Ya abisnya lo nanya ada-ada aja. Emang lo pernah ngelihat gue bawa kendaran lain selain motor?"


Omongan Petra ada benarnya juga. Gue pun mengangguk pasrah. "Iya, Sih."


"Tapi setidaknya Van, kalau pun gue belum pernah diizinin bokap bawa mobil ke sekolah sendiri, macam film GGS yang mereka pada bawa mobil ke sekolah. Tapi coba lo lihat motor gue, gue udah bawa ninja, di saat anak SMA kebanyakan bawanya matic. Dan dulu waktu SMP, gue udah pake FU, di saat anak-anak SMP lain cuma bawa motor bebek."


"Sialan, lo. Nyombong."


"Biarin. Fakta, kalau gue ini anak orang kaya."


Gue emang ngaku, kalau Petra sekeren itu. Cuma kadang dia sama kayak bunglon, dia selalu ngalir gabung sana-sini tanpa ada perbedaan kasta. Sayangnya ya itu tadi, gue deket ama dianya baru sekarang-sekarang.


"Tra?"


"Iya, kenapa?"


"Gue nggak mau naik motor. Gimana dong?"


"Anjay, lo ngode pengen naik mobil? Atau mau jalan kaki? Biar kesannya romantis."

__ADS_1


"Is. Bukan itu PA!


"Terus?" dia malah menggoda gue dengan tatapan dan senyum cengengesannya yang minta gue getok dari tadi. Komuknya lugu-lugu *******. ****


"Gue tembus, Tra. Lo masih belum paham juga?" tanpa bicara kode-kodean lagi, gue bilang apa adanya. Dan Petra mukanya berpikir sejenak.


"Tembus apanya?"


Sumpah. Gue ngerasa pengen teriak saat itu juga. Dikodein Petra nggak ngerti, dibilang langsung dia masih aja tetep nggak ngarti. Seketika mood gue pun langsung berantakan, sampai gue kewalahan untuk memungutinya.


Lima detik kemudian, Petra menyadari raut wajah gue yang saat ini emang campur aduk, antara nahan sakit heid sama pengen marah karena Petra nggak ngerti sama apa yang gue omongin.


"Ooh, gue paham." Mukanya langsung berubah serius, dan muka jahil pecicilannya seketika itu langsung luntur. Asli, Petra kelihatan maco kalau lagi ekpresi biasa aja.


Petra inisiatip buka jaketnya sendiri, dan dia ngasih jaketnya ke gue.


"Nih, lo pake. Lo tutupin rok belakang lo yang ada noda merahnya. Gue nggak ngerti, lo ngode sana, ngode sini, kenapa nggak bilang aja kalau rok lo ada darahnya."


"Gue malu." gue berujar pelan dan menunduk.


"Yaudah lo pake jaketnya, iket di pinggang lo, biar bisa nutupin bagian belakang rok lo."


"Oke. Thanks."


"Yaudah, yok kita pulang."


Petra narik tangan gue. Tapi gue tahan. "Jangan di motor, Tra. Nanti kalau gue duduk, darahnya bisa ngerembes ke jaket lo, kan secara otomatis kalau gue duduk, jaket lo gue dudukin juga."


"Peduli amat sama jaket, Van. Udah biarin aja."


"Lo nggak jijik Tra sama darah gue?"


"Aelah, lo ngomong apa, sih? Ya nggak lah, ngapain harus jijik. Apalagi darah gadis perawan kayak lo."


"Aish."


"Yaudah, ayok pulang. Ngapain di sini lama-lama. Keburu ujan, Van. Atau kalau nggak nanti kita mampir dulu ke Alfamart, gue beliin lo pembalut deh."


Anjay. Sumpah demi apa pun, apa Petra nggak sadar dengan ucapannya itu? Dia mau beliin gue pembalut, tentu itu akan membuat para penjaga tokot supermarket akan tertohok, seorang Petra si cowok yang punya look manly dan penampilannya yang cuek banget membeli sebuah pembalut. Apa kata dunia?


Tapi dengan caranya yang seolah gue ini segalanya, gue ngerasa sangat nyaman sama Petra. Intinya, cewek mana sih yang nggak gede rasa kalau dapat sikap kayak gitu dari seorang cowok yang punya paras nggak manusiawi itu. Iya, Petra ganteng. Anaknya ajaib. Dia terlalu pecicilan kalau udah akrab, tapi kalau lo baru kenal dia, lo pasti akan bilang; kalau Petra itu pendiem dan dingin, padahal enggak. Aslinya dia itu berengsek. Cuma ya gitu, kayaknya dia nggak akan berani ngebrengsekin gue. So, temenan ama dia ngalir gitu aja kayak eek yang dengan santainya hanyut di sungai, sampai pada akhirnya mendarat di tujuannya.


Et, iya. Tujuan? Bahkan gue nggak ngerti, gue sama Petra berteman memiliki Tujuan yang seperti apa. Entahlah. Saat ini gue hanya sedang menikmati kebersamaan gue sama Petra, yang sedikit demi sedikit gue akan terbiasa, dan lupa tentang bagaimana bodohnya gue mencintai Biru Akraraditya.

__ADS_1


__ADS_2