Dimensi Memory

Dimensi Memory
FLASHBACK OFF


__ADS_3

Lovandra sudah menduga ini semua pasti akan terjadi. Bukan masalah kedua orangtuanya yang seakan brutal dan menghalalkan berbagai cara hanya untuk mempertahankan kekuatan bisnis yang ia punya. Lovandra mengerti, kedua orangtuanya memang penggila bisnis, kadang patut diakui, kekayaan kedua orangtuanya pun terdampar di mana-mana. Bukan hanya memiliki 2 apartemen yang bekelas, ada beberapa aset pula di luar kota yang menambah kekayaan orangtuanya Lovandra.


Tapi, semua itu tak membuat Lovandra bangga dan bahagia. Meskipun sesibuk apa pun, orangtua Lovandra tetap bisa meluangkan waktu untuk Lovandra, bahkan selalu memberikan kejutan hari-hari besar untuk Lovanda—seperti hari ulang tahun Lovandra. Namun, Lovandra menyikapinya dengan cuek. Orangtuanya hanya baik pada dia, tapi tidak pada orang-orang yang dia sayang. Mungkin anak tunggal selalu diistimewakan, disayang, serta dimanja. Tapi, sekali lagi, terlahir sebagai anak konglomerat tidak membuat Lovandra bahagia, jika harus orangtuanya memiliki sisi kriminal yang ambisius dalam dunia bisnis.


Venus, Bumi, Mars.


Gue tau, gue sedang berjuang sendirian. Tapi bahagia gue cukup sederhana, gue hanya ingin melihat orang yang gue sayang hidup bahagia. Bahkan gue nggak rela jika ada yang melukainya atau berusaha untuk melenyapkannya dari kehidupan yang memang menyakitkan ini. Gue bukan ngedrama, gue bukan ngalay. Gue bukan lemah. Tapi kadang gue berpikir, gue adalah venus, dia adalah mars, dan orangtua kita adalah bumi. Bumi adalah sumber kehidupan, namun penghalang bagi gue untuk meraih memeluk mars. Venus tidak akan pernah menentang bumi. Ia hanya mengutuk dirinya supaya terbakar oleh panasnya sinar matahari yang jaraknya cukup dekat hanya terhalang oleh merkurius. Ini bahkan tidak adil. Gue berjuang sendirian.


Lovandra berlari, pikirnya melayang jauh. Sebenarnya apa yang akan ia lakukan saat ini? Bukankah Biru telah mengecewakannya dan dengan tegas menolaknya, bahkan melukai perasaannya. Harusnya Lovandra membiarkan Biru terancam keselamatannya. Tapi mengapa ia harus menyelamatkan Biru? Kadang berpikir, ia tidak mengerti mengapa ia seperti ini.


Sesampainya di rumah orangtuanya. Lovandra sama sekali tidak melihat kedua orangtuanya di sana. Hanya ada beberapa pembantu dan pelayan, serta orang-orang pesuruh Ayahnya yang ada di rumah ini.


"Rumah ini udah kayak neraka!" rutuk Lovandra dalam hatinya. Ia tidak membenci kedua orangtuanya, hanya saja ia tidak mengerti dengan isi kepala kedua orangtuanya.


Bagaimana tidak, rumah ini begitu megah. Tapi isinya sudah seperti kantor polisi yang benar-benar dijaga ketat. Apalagi, beberapa bodyguard Ayahnya begitu sangar dan bertubuh kekar.


"Di mana Papah saya?" tanya Lovandra pada salah satu pelayan rumah.


"Keluar, non."


"Sama siapa?"


"Sama Nyonya berdua, non."


"Terus sama siapa lagi?"


"Sama beberapa orang-orang pesuruh Tuan yang mengawal dari belakang, non."


"Ada polisi?"


"Nggak ada, non."


"Mereka mau ngapain katanya?"


"Sa-saya nggak tau, non." Pelayan itu gugup dan hanya menunduk saja.


"Saya tau, kamu lagi bohong. Mereka sedang merencakan tindakan kriminal, kan?"


Pelayan itu diam, ia takut salah bicara.


Lovandra menghela napas pelan. "Jawab saya!"


"Maaf, non. Saya nggak tau."


"Kamu takut dipecat?"


"Maaf, non. Saya butuh pekerjaan ini."


"Kalau kamu nggak ngasih tau ke mana perginya Mamah Papah saya. Kamu bisa aja saya pecat!"


"Jangan, non."


"Yaudah kasih tau!"


"Me-mereka merencanakan akan membunuh putra sulung keluarga Jingga Aksaraditya."

__ADS_1


Lovandra merasa benar-benar kecewa. Ia mencoba untuk menahan amarah dan tangisnya.


"Apa alasannya?" pertanyaan itu terdengar bergetar—seperti menahan tangis. Dan terdengar cukup berat.


"Alasannya karena, putra sulung dari keluarga Jingga akan berefek pada bisnis Arcivelova Group di masa yang akan datang."


Lovandra menunduk lemas. Ia benar-benar kewalahan dengan situasi seperti ini. Tanpa mengorek informasi lagi. Lovandra langsung keluar dari rumah ini, dan bergegas menolong Biru. Nyawa Biru sedang dalam bahaya saat ini. Lovandra harus pergi ke tempat ia terakhir kali melihat Biru. Ya, ia harus pegi lagi ke tempat Biru nongkrong bersama teman-temannya tadi. Harusnya Lovandra malu jika balik lagi ke tempat di mana Biru nongkrong, tapi ia tidak malu sama sekali, terhadap perlakuan Biru yang menolaknya di hadapan beberapa temannya. Yang terpenting adalah, ia harus menyelamatkan Biru.


Masih dalam kemelut rasa, Lovandra menyusuri jalanan Ibukota dengan langkah yang cemas. Bahkan dia tidak sanggup jika memang takdir bicara lain, dan Biru akan mati di tangan kedua orangtuanya. Mereka adalah orang yang Lovandra sayangi jika harus memilih, maka Lovandra tidak akan pernah punya jawaban pilihan.


Kemudian, setelah beberapa menit ia berlari dan mencari-cari di mana Biru, yang kini sudah tidak lagi berada di tempat tongkrongan sebelumnya. Namun, pandangan Lovandra tercekat, dan pemandangan itu cukup menarik perhatian Lovandra. Beberapa kerumunan warga telah memadari lokasi tersebut, hingga membuat macet jalanan Ibukota pada malam hari ini.


Korban tabrak lari?


Hati Lovandra langsung cemas. Ia berusaha melihat siapa yang menjadi korban tabrak lari tersebut. Dan Lovandra dengan susah payah berusaha melihat si korban yang sudah tertutupi dengan koran-koran bekas. Di sana juga ada garis polisi.


Kasian, ya. Dia meninggal.


Orang yang nabraknya gatau diri.


Darahnya di mana-mana. Ngeri.


Beberapa orang sibuk membicarakan keadaan korban dan kronologis kejadiannya. Lovandra terdiam.


"Apa itu Biru?"


Lovandra menerka.


Jasad itu langsung dimasukan ke dalam mobil ambulance dan Lovandra hanya bisa menyaksikan itu semua tanpa sempat tau, siapa korbannya. Lovandra berlari kecil ke arah polisi dengan cerdiknya, Lovandra langsung memberikan pertanyaan berlapis pada Pak Polisi tersebut.


"Pak, korbannya cewek apa cowok?"


"Ada badge namanya nggak, Pak?"


"Waduh, saya nggak lihat, neng."


"Tapi namanya bukan Biru Aksaraditya, Kan?"


"Kayaknya bukan, neng."


"Ini fotonya." Lovandra langsung membeberkan layar ponselnya, menunjukan foto Biru pada Pak Polisi tersebut. "Yang ini bukan korbannya?" tanyanya lagi.


"Oh. Bukan, neng. Orang yang ada di HP Eneng mah saya kenal, neng. Dia anaknya Pak Jingga, Kan?" katanya ramah.


"Bapak tau?"


"Saya tau. Saya kan pernah bertugas jagain rumah Pak Jingga. Jadi saya kenal semua anaknya."


"Jadi, korban yang tadi bukan salah satu anaknya Pak Jingga, kan?"


"Bukan, neng."


Lovandra menghela napas lega. Ia sudah salah menduga. Ia mengira bahwa korbannya adalah Biru. Tapi ternyata bukan. Lovandra melunturkan rasa cemasnya sejenak. Kemudian ia menoleh ke samping, dan ia melihat seperti sosok Biru yang berjalan menuju arah utara bersama teman-temannya.


"Bir,"

__ADS_1


Dengan segera Lovandra mengejar Biru.


"Bir,"


"Bir, tunggu!"


Lovandra berhasil mengejar Biru dan berhasil menghentikan langkah Biru.


"Ada apa? Lo masih belum puas juga?"


"Lo masih di sini?" bukannya memberikan jawaban, Lovandra malah bertanya balik.


"Ya menurut lo?"


"Tapi lo nggak apa-apa, kan?"


Biru sama sekali tidak mengerti dengan sikap Lovandra yang menurutnya aneh. "Pertanyaan lo lucu."


"Gue serius, Bir."


"Emang lo pikir gue bercanda?"


"Habis ini lo jangan ke mana-mana. Lo langsung pulang. Dan, jaga diri lo baik-baik."


"***. Emang siapa lo, berani ngatur gue."


"Gue cuma takut lo kenapa-napa."


"Bulshit!"


"Bir," tatapan Lovandra sangat memohon. "Kali ini aja lo dengerin apa kata gue."


"Gua males denger segala kalimat lo yang bucin! Minggir! Gua mau lewat!" Biru sama sekali tidak memperdulikan bentuk kepedulian dari Lovandra. Biru pun sama sekali tidak menyadari jika kalimat Lovandra telah berubah—tidak lagi menggunakan aku-kamu saat berbicara dengannya.


Biru sedikit mendorong bahu Lovandra dan berjalan menerobos jalanan. Lovandra hanya merasa dirinya tak berguna. Lovandra diam mematung, ia membiarkan Biru berlalu.


Lovandra melangkahkan kaki pelan. Ia kecewa. Usahanya selalu disalah-artikan. Kemudian, mereka pun berjalan berarah lainnan. Biru sama sekali tidak menoleh ke belakang, untuk sekedar melihat punggung Lovandra yang juga berlalu meninggalkannya.


Namun, langkah Lovandra terhenti, ia melihat dari depannya, ada mobil yang berlaju dengan kecepatan tinggi mengarah pada Biru. Lovandra langsung menengok ke belakang. Dan ...


"Biru! Gua mohon berhenti!"


Lovandra berseru! Mobil hitam pekat berplat nomer yang ia kenali, akan menghantam nyawa Biru. Jika memang ini terjadi, maka Lovandra akan menyaksikan cintanya terenggut tak terselamatkan. Ia bahkan tau, siapa yang mengendarai mobil tersebut. Ya, kedua orangtuanya.


Karena Biru tak merespon. Lovandra berlari kencang ke arah Biru, dan ia mendorong tubuh Biru saat mobil tersebut akan menabraknya.


"Awas!!!!"


Lovandra berteriak, Biru terdorong oleh tangan Lovandra yang seperti entah memiliki kekuatan dari mana. Dorongan itu cukup membuat Biru terhindar dari tabrakan tersebut.


Namun nihil!


Lovandra yang justru menjadi korban! Biru menyaksikan hal tersebut terbelalak sepasang matanya. Perjuangan bodoh macam apa ini? Mobil tersebut pun tersungkur, jungkir balik tak berdaya. Mungkin, setelah melihat Lovandra yang akan tertabrak, mobil tersebut langsung membanting setir, walau pada akhirnya memang Lovandra juga ikut terseret oleh mobil tersebut.


Kepala Lovandra dipenuhi dengan darah. Pandangannya masih bisa melihat kehidupan walau dalam tatap remang-remang. Lovandra menyaksikan mobip itu jungkir balik, ia melihat wajah kedua orangtuanya yang sudah dipenuhi darah, dan tak berdaya.

__ADS_1


"Mah," ucap Lovandra berat. Posisinya lemah tergeletak di aspal jalan. "Pah," ucapnya lagi, ingin rasanya ia menggapai tangan kedua orangtuanya. "Sakit," Lovandra menahan sakit di sekujur tubuhnya. Kemudian, semua pandangan pun gelap, dan ia tak sadarkan diri.


TBC!


__ADS_2