
Gue rasa, semua cewek punya perasaan sama—ketika dia deket sama cowok, pasti baper. Apalagi cowok itu udah super baik sama si cewek ini. Tapi lain hal buat gue untuk mengasih tatapan pada Petra. Yap! Petra emang segalanya bagi gue, sekarang ini. Akan tetapi, waktu yang menutup zona ekstrem gue untuk bisa jatuh cinta pada sahabat gue sendiri. Toh, Petra lebih menyukai gue yang menjadi sahabatnya, dibandingkan menjadi pacarnya. Walau pada hakikatnya, gue ngerasa kecewa. Sebagai cewek, kadang perasaanya itu butuh kepastian, bukan hanya harapan omong kosong.
Sebenarnya, bukan itu yang menjadi ketakutan terbesar gue. Tapi, gue cuma takut terlupakan. Atau ketika Petra udah punya kehidupan baru, dia lupa bagaimana caranya yang selalu mengistimewakan gue seperti sekarang ini. Dan intinya, gue bukan baper, tapi gue selalu berusaha untuk tetap menjaga apa yang seharusnya gue jaga. Yap! Senyumnya Petra, berarti buat gue sekarang ini.
"Tra, suatu saat gue punya cita-cita." gue langsung membuka pembicaraan pada saat kita baru saja duduk di kursi besi panjang yang mengarah ke danau.
Tempat ini sejuk.
Petra noleh ke arah gue, "semua orang pasti punya cita-cita, Van."
"Iya. Tapi cita-cita gue beda, Tra."
"Emang cita-cita lo apa, Van?"
"Pengen jadi istri lo."
Seketika Petra langsung tersenyum miring, tatapannya langsung tertunduk ke bawah—memerhatikan sepasang tangannya yang saling menggenggam, dan gaya duduknya pun terlihat santai—menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi besi tersebut, lalu sebelah kaki diangkat—hingga kaki kanannya yang terbungkus sepatu itu terletak di atas lutut sebelah kiri.
"Lo yakin?" Petra menoleh lagi ke arah gue. Tatapannya bikin gue deg-degan.
"Boleh kan, kalau gue punya cita-cita kayak gitu?" betapa bodohnya gue menanyakan hal tersebut.
__ADS_1
Petra terkekeh santai. "Tapi, gue nggak bisa, Van."
Seketika gue langsung tak berkutik apa pun.
"Nggak bisa kenapa?"
"Gue nggak bisa ngelangkahin rencana Tuhan. Lo bukan takdir gue kayaknya, Van." gue lihat Petra langsung menundukkan kepala, gue ngerasa wajahnya langsung berubah datar.
"Lo tau dari mana kalau gue bukan takdir lo. Lo bukan Tuhan, Tra. Lo nggak tau 'kan, takdir lo kayak gimana nantinya. Bilang aja kalau lo nggak mau kalau suatu saat nanti gue jadi istri lo," gue langsung berekspresi seolah gue lagi berusaha untuk terlihat ceria dan biasa aja. Padahal hati gue nyesek, coy. Gue masih nggak ngerti apa yang ada dipikiran Petra.
"Nggak gitu. Menurut gue, lo segalanya buat gue. Tapi ya itu tadi, gue nggak bisa ngerubah rencana Tuhan."
Petra tersenyum. "Hehe. Nanti lo juga tau."
"Hm." gue menarik napas dalam-dalam, dan menghempaskannya secara perlahan. "Oke, kalau emang seandainya kita nggak berjodoh, gue harap lo atau pun gue, bisa dapatin yang terbaik," sambung gue.
Petra mengangguk. "Ternyata lo ngebet juga ya jadi istri gue."
Gue langsung terdiam dan nggak tau harus ngomong apa. "Lupain soal pembicaraan tadi." gue berusaha untuk tidak memperlihatkan ekspresi malu.
"Van?" Petra memanggil nama gue pelan.
__ADS_1
"Iya?"
"Gue janji sama lo. Gue bakal nunjukin sesuatu sama lo."
"Apa?"
"Masih rahasia, sih."
"Hm. Kalau gitu kenapa ngomong,"
"Eh tapi, maaf ya gua harus cabut. Udah mau sore. Gue harus pulang."
"Yah, kok buru-buru, sih?" gue memasang wajah kecewa.
"Besok kita bisa ketemu lagi, Van." Petra melemparkan senyumnya. Dan dia langsung berlalu ninggalin gue.
Gue tersenyum tipis, sembari melihat punggungnya yang semakin menghilang jauh dalam pandangan gue.
TBC!
A/n : masih pake pov Lovandra ya. Ntr balik ke pov nya Biru lagi. Tapi ikutin terus ya! Ada part flashback nantinya! See u!
__ADS_1