
Gue sadar dengan apa yang gue omongin. Tapi Jin dan Agam, memasang wajah seolah meremehkan apa yang gue katakan. Mereka bahkan tertawa kecil. Dan kampretnya, gue emang nggak pernah ngomong seserius ini dengan mereka berdua. Mungkin itu sebabnya mereka tertawa meremehkan gue.
"Apa kata lo tadi? Nembak Lovandra? Kocak lo bro." Jin meledek gue dengan nada setengah mati menertawakan gue.
"Ck, lo bukan anak kecil lagi, Bir. Kenapa cuma soal lo mau membak Lovandra aja mesti harus menyeret kita berdua. So, biar apa?" Agam tersenyum remeh, sambil memerhatikan ujung rokoknya, api telah membakar hampir habis sebatang rokok tersebut, dan dia langsung mematikan rokok tersebut ke asbak.
"Masalahnya gini, dulu Lovandra ngejar-ngejar gue di sekolah. Dia fans fanatiknya gue," gue berusaha menjelaskannya dari awal, dan masih saja dua curut yang ada di hadapan gue ini seakan menatap gue ini beromong-kosong.
"Kita tau lo artis di sekolah. Kalau dia salah satu penggila lo, apa yang lo takutin?" tanya Agam.
"Najisin lo, Bir. Nggak biasanya lo kayak gini. Nembak cewek doang ribet," ucap Jin menimpal.
"Jadi gini, Gam, Jin. Lo berdua tahu, kan? Kasusnya gue yang hampir ketabrak—eh, sorry bukan ketabrak, tapi sengaja ditabrak sama salah satu mobil pribadi. Lo berdua tahu, kan?" Gue langsung menjelaskannya pada Agam dan Jin.
__ADS_1
"Iya gue tahu. Why?" Agam menanggapi.
"Lovandra hampir mati, nolongin gue. Tapi, di sini gue disuruh bungkam sama pesuruh bokap-nyokapnya si Lovandra, soal insiden itu. Dan lo tau, Lovandra amnesia! Dia lupa bagaimana terakhir kali beraktivitas, sebelum kecelakaan itu terjadi. Otomatis, dia lupaaa bagaimana kecelakaan itu bisa sampai terjadi. Lovandra nggak tau, kalau dia udah nyelamatin gue. Dan, tapi gue ngerasa Lovandra kayak yang marah sama gue. Semenjak dia bangun dari koma, dia banyak berubah. Udah jarang lagi merhatiin gue. Gue seakan takut kehilang dia. Jujur gue ngerasa kehilangan dia. Yang terbiasa gue dapetin hadiah-hadiah kecil dari dia, meski sering gue tolak. Sekarang, dia udah cuek ama gua. Gua harus gimana, ya?" Gue berujar dengan serius.
"Ck, lo lagi kena karma, Bir."
"Betul kata Jin," Agam membenarkan kalimat Jin.
"Gimana kalau nanti malem kita datang ke suatu tempat. Lo setuju, nggak?" saran Jin membuat gue langsung menyimak dengan seksama.
"Ke mana?"
"Ke toko wican. Di sana ada Bibi Along. Dia orang china, bisa ngeramal. Nggak ada salahnya kita coba ke sana," kata Jin.
__ADS_1
"Anjay. Lo percaya ama ramalan?" tanya gue, langsung menciut mendengar saran dari Jin.
"Lagipula, apa hubungannya sama Bibi Along? Dia peramal, bukan dukun santet atau dukun pelet. Nggak ada faedahnya kita ke sana." Agam berdecak malas.
"Masalahnya kan bukan cuma si Biru doang yang punya masalah. Kita bertiga sebenarnya punya masalah, loh. Kitanya aja nggak sadar." Jin menuturkan kalimat yang sama sekali nggak gue ngerti apa maksudnya dia ngomong seperti itu.
"Kita? Anjay. Alay lo!" Agam berseru.
"Eh, Gua mau tanya dong ama lo, Gam. Ama lo juga, Bir. Gini, gue ngaku, kita bertiga emang ganteng abis, kan? Kita jadi rebutan cewek di sekolah kita masing-masing, kan? Tapi apa lo nggak sadar sama diri lo berdua, kenapa sampai detik ini kita jomblo? Ya emang sih, gue paham, kita bisa aja nunjuk cewek yang kita mau. Tapi kan kalau soal nyaman atau nggaknya sama cewek tersebut, itu gimana? Kadang, cewek tercantik di sekolah gue pun, nggak bisa bikin hati gue tertarik. So, apa masalahnya?" Jin mengucap panjang lebar, dan gue mengakui kebenaran dari kalimatnya tersebut.
"Lo ada benernya juga," gue mengiyakan kalimat Jin. "Yaudah, kita ke sana buat ngeramal asmara kita. Siapa tau, ada solusi juga buat masalah gue tentang Lovandra," sambung gue.
Agam tersenyum, "bacot lo kadang ada faedahnya juga, Jin. Oke dah, nanti malam kita pergi ke toko Bibi Along."
__ADS_1