
Lovandra menghampiri Biru dengan tangan yang membawa kue ulang tahun yang terlihat sederhana, namun Lovandra seperti membawa aura baik di sini. Beberapa orang yang sedang berkumpul bersama Biru, langsung seperti takjud dengan apa yang dilakukan Lovandra. Akan tetapi, ada sebagian dari mereka yang menatap Lovandra murahan.
"Selamat ulang tahun! Semoga panjang umur, sehat selalu dan dimurahkan rezekinya. Semoga bahagia selalu." Lovandra mengucapkan selamat dengan wajah yang berseri. Namun sepertinya wajah Biru menunjukkan hal yang sangat tidak suka dengan aksi Lovandra yang seperti ini.
"Lo apa-apaan, sih?" Biru berujar dengan nada yang sama sekali tidak suka.
"Aku mau ngasih kejutan."
"Buat apa?"
"Supaya kamu seneng. Ini kan hari ulang tahun kamu." Lovandra tersenyum.
Biru berdecak kesal. "Biar apa gue tanya?!" Nadanya sedikit membentak Lovandra. Seketika itu senyum Lovandra luntur.
"K-k-kamu marah?" Lovandra bertanya dengan suara gugup.
"Gue tanya sama lo! Biar apa lo ngelakuin hal ini buat gue?! Alasannya supaya bikin gue seneng?! Cuih!" Biru murka, ia langsung menjatuhkan kue yang Lovandra bawa tersebut tanpa meniup api dari lilinnya.
"Gue udah peringatin sama lo, lo nggak usah repot-repot beginian. Gue nggak suka! Lo ganggu acara gue! Lo nggak penting buat gue. Selama ini, gue udah cukup risi ngadepin sikap lo yang kayak orang gila. Sebegitu terobsesinya lo sama gue?!" sambung Biru, sama sekali tidak menjaga perasaan Lovandra yang mungkin saat ini hatinya hancur berkeping-keping.
Untuk pertama kalinya, Lovandra menangis. Padahal, berbagai macam penolakan dari Biru yang ia terima, ia tidak pernah menangis dan tidak pernah luntur semangatnya untuk berjuang membuktikan perasaannya pada Biru. Tapi kali ini, perasaannya hancur menjadi keping-keping air mata yang keluar dari sepasang mata indahnya.
"A-aku minta maaf,"
Bodoh! Mengapa Lovandra meminta maaf? Bukankah seharusnya Biru yang harus meminta maaf atas apa yang ia lakukan terhadap Lovandra saat ini. Cinta memang membutakan segalanya.
"Gak perlu lo nangis! Cukup lo pergi dari sini udah bikin gue tenang. Risi gue!" perintah Biru.
Lovandra tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia hanya mampu menangis. Tanpa sepatah kata, Lovandra berlari dari tempat ini. Berjuta penolakan telah ia dapatkan, dan ini adalah puncaknya.
__ADS_1
Ia berlari menjauh. Sambil menangis. Rasanya begitu memilukan.
Semakin dewasa, lo akan semakin paham, siapa diri lo. Dan untuk apa lo hidup. Kadang berpikir, hidup hanyalah tentang sebuah luka. Bahagia hanya hinggap sebentar, lalu selebihnya dipaksa harus memahami.
Lovandra bukan gadis yang arogan, egois, dan ambisius. Lovandra hanya gadis polos yang sedang berusaha membuktikan apa yang ia rasakan. Namun ternyata, seseorang telah mengecewakannya begitu dalam. Kini, tangis pun menjadi tidak berarti.
Lovandra saat ini berdiri di balkon apartemen, milik Ayahnya. Matanya menatap kosong ke depan sana, ia mengingat kejadian beberapa menit yang lalu, seakan begitu menyakitkan Biru sama sekali tidak menghargai usahanya dari pagi. Perjuangannya hanya sia-sia. Tapi ia berusaha untuk tersenyum, walau terlihat sangat tipis. Seperti memang ada sedikit harapan yang tersisa di relungnya.
Ponselnya kini berbunyi, dengan segera ia mengangkatnya.
"Hallo, Ma?"
"Kamu di mana?"
"Aku di apartemen."
"Nggak. Memangnya kenapa?"
"Baguslah."
"Hm."
"Lebih baik kamu tidur. Besok sekolah. Jangan lupa makan. Jangan lupa cuci muka, cuci kaki, baru tidur. Yang harus kamu lupain itu si Biru. Pokoknya mamah gak suka kamu sama dia!"
"Ya."
Lovandra hanya menjawabnya dengan singkat. Kemudian sambungan telepon itu terputus begitu saja. Lovandra berusaha mengembangkan senyumnya lebih lebar lagi, ia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan perlahan, menciptakan perasaan yang sedikit lega. Seharusnya ia berniat untuk melupakan Biru. Namun nampaknya ia masih menyimpan sedikit harapan.
Tiba-tiba ada seorang wanita paruh baya menghampiri Lovandra.
__ADS_1
"Non, Bibi tadi dapat kabar dari seseorang. Bahwa Mamahnya non sama papahnya non, sedang merencanakan sesuatu untuk membunuh putra sulung keluarga Jingga Aksaraditya," tuturnya luwes.
Lovandra langsung terbelalak. "Maksudnya apa, Bi?"
"Saya nggak tau, Non. Tadi siang, Bibi ketemu sama gadis. Dia itu seumuran kayak non Lovandra. Dia sempat ngenalin namanya. Dan namanya itu Candramawa Sore."
"Candramawa Sore?"
"Iya, non."
"Katanya temennya aden Petra."
Lovandra menerka-nerka. Sebenarnya siapa itu Candramawa Sore. Ah, iya! Lovandra baru mengingatnya. Gadis itu tak salah lagi, pasti adik kandungnya Petra.
"Dia bilang apa tadi, Bi?"
"Anu, itu, non, hm, katanya orangtua non Lovandra akan membunuh putra sulungnya keluarga Pak Jingga," ucapnya gugup.
Siapa? Putra sulungnya keluarga Jingga? Itu berarti Biru Aksaraditya?
"Bibi nggak bohong, kan?" Lovandra langsung seperti cemas. Ekspresinya berubah menjadi ia harus menyelamatkan Biru, meski harus menentang kedua orangnya.
"I-iya, non. Bibi nggak bohong. Bibi serius. Bibi gak bercanda."
"Makasih, Bi."
Lovandra langsung bergegas keluar, berlari kecil dengan wajah yang cukup cemas. Ia seperti tau kemana ia harus pergi. Kedua orangtua Lovandra memang mungkin akan bertindak sebrutal itu, apalagi persaingan bisnis yang cukup ketat dengan keluarga Jingga. Ini menjadi takdir yang cukup sulit bagi Lovandra. Namun apapun yang terjadi, saat ini ia harus bisa menyelamatkan Biru.
TBC!
__ADS_1