
Author's
Lovandra menahan rasa sakit di kepalanya, meski pelukan Jin membuatnya sedikit lega. Tapi, dia masih saja menangis. Setelah dia mampu menerobos dimensi memory yang mencekam. Lihatlah, Jin tampak begitu tenang mendekap Lovandra dalam peluknya.
Lovandra melepaskan pelukannya, dan dia langsung menatap sepasang mata Jin.
"Gue udah inget semuanya. Gue udah tau penyebab gue kecelakaan yang mengakibatkan gue koma. Semua itu karena sodara lo, Jin!" Lovandra berujar pelan dengan kalimat yang penuh penekanan.
Jin terdiam.
"Tapi, gue nggak tau apa-apa." Jin membela diri dengan wajah yang terpasang setenang mungkin.
Lovandra masih menangis. "GUE BENCI SAMA YANG NAMANYA CINTA! GUA BENCI HATI GUE! GUE BENCI SAMA KENYATAAN! GUE BENCI SEMUANYA! LO PAHAM NGGAK SIH, JIN?!" Lovandra meluapkan emosinya sembari memukul-mukul pelan dada bidang Jin.
"Tenang, Van. Lo harus tenang. Kadang kenyataan itu lebih pahit. Dan lo harus bisa lebih dewasa menyikapinya. Tuhan pasti punya rencana lain buat lo. Dan lo juga harus bisa menerima kenyataan kalau Petra sahabat lo itu ternyata udah nggak ada di dunia ini!" Jin berusaha menenangkan perasaan Lovandra yang kemelut-saat mengetahui hal yang membuatnya semakin rapuh.
__ADS_1
"Lo bisa ngomong kayak gitu, Jin. Tapi nggak semudah itu. Lo nggak ngerasain apa yang gue rasain. Gue udah sayang sama Petra, tapi Petra bohongin gue! Ternyata Petra udah meninggal. Dan lo tahu? 100 hari. 100 hari itu tepat di mana gue kecelakaan dulu. Itu berarti peristiwa itu terjadi bertepatan pada saat gue menolong Biru. Tapi, yang selama ini gue temuin itu siapa?!" Lovandra masih terisak.
"Apa lo nggak ngerasa? Gue juga pernah ada di posisi lo. Kehilangan orang yang gue sayang. Ceritanya sama persis kayak gue dulu kehilangan lo. Dan gue susah buat ketemu lo karena jarak dan waktu." Jin menyorotkan pandangan yang serius ke arah Lovandra. Mendapatkan pandangan itu Lovandra tak kuasa menahan tangis.
"Kak?" Tiba-tiba seorang perempuan berusia sekitaran 13 tahun datang menghampiri Lovandra dengan langkah yang pelan, dan pandangan yang menahan rasa sedih.
Lovandra menoleh ke gadis 13 tahun tersebut.
"Kak Petra mencintai Kakak, dan dia belum sempat mengatakannya. Tapi azal telah lebih dulu menjemputnya. Dia selalu bilang, bahwa Kakak adalah orang yang paling istimewa. Itu sebabnya, ketika dia pergi dan menghembuskan napas terakhirnya, dia berpesan untuk semua orang yang tahu kematiannya itu, menutup rapat dan bungkam perihal kematiannya," ucapnya pelan.
"Iya. Aku Candramawa Sore."
"Kamu bisa jelasin, siapa yang kemarin-kemarin aku temuin. Dia Petra, kan?" pertanyaan itu seakan menjulang tinggi bagi Lovandra.
"Iya. Dia adalah Kak Petra. Lebih tepatnya, arwahnya Kak Petra, yang meminta izin pada Tuhan, untuk menyelesaikan tugasnya di dunia ini. Setelah selesai, dia akan pergi ke tempat seharusnya dia berada. Itu sebabnya kan, dia menyuruh Kak Lovandra untuk tidak mencarinya di rumah kan? Karena ya percuma, Kak Petra udah nggak bersama kami lagi. Dia sudah pergi dari rumah, dan sudah pergi menemui Tuhan Yesus."
__ADS_1
Mendengar itu Lovandra meneteskan lagi air matanya. Dengan berlapang dada, Lovandra pun memberikan kalung Petra pada Candramawa Sore.
"Ini punya Petra, aku kembalikan."
"Terima kasih, Kak. Berdoa saja, Kak. Semoga Kak Petra senantiasa bahagia di Surga," katanya, sambil menerima kalung tersebut dari Lovandra.
Lantas, Adiknya Petra itu langsung berlalu dan kembali ke rumahnya.
Kemudian Jin, yang melihat itu, langsung menenangkan kembali Lovandra.
"Petra udah nggak ada. Lo harus ikhlas. Tuhan adil, Van. Karena lo nggak sendiri setelah Petra nggak ada. Di sini ada gue. Gue bisa jadi temen lo," ucap Jin. Lovandra mengangguk dan menghapus air matanya sendiri.
TBC!
Ramekan!!!!!! 🔈🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉
__ADS_1