Dimensi Memory

Dimensi Memory
LOVANDRA DI MATA BIRU AKSARADITYA


__ADS_3

Gue adalah orang yang termasuk paling susah mengawali pembicaraan, walaupun pada dasarnya gue ini punya cover yang bisa dibilang nyaris sempurna. Seharusnya gue lebih percaya diri dengan apa yang gue punya. Entahlah, momok yang paling buruk buat gue adalah, ketika gue datang ke sekolah, dan telinga gue pengang, karena saat gue berjalan menelusuri koridor sekolah, para kaum hawa neriakin gue, nyaris kayak Sehun EXO yang super cool, gue berusaha untuk selalu jaga image. Sudah terbiasa. Mereka yang nganggap gue ini kembarannya Sehun, sama sekali nggak bikin gue rugi, teknisnya. Hanya saja, gue sedikit risi. Kadang ada yang bilang ke gue; kok bisa sih, cowok setampan gue dilahirin di tanah Jakarta yang panas ini, padahal kulit gue putih. Kadang gue nggak habis pikir sama mereka, yang bilang gue dengan sebutan Oppa. Mereka bilang, gue mirip kayak orang Korea, padahal aslinya gue tuh blasteran dari peranakan Sunda-Thailand. Tapi yang Thailand di keluarga gue itu Nenek Buyut, dan silsilahnya jauh di atas sana. Bokap masih asli Indonesia, anak Betawi, dan Nyokap asli Garut. So, pada dasarnya gue ini anak hasil perkawinan Betawi-Garut. Sama sekali bukan peranakan Korea atau apalah sejenisnya. Ada darah Thailand sebenarnya, tapi kan itu Nenek Buyut gue. Jauh kemana-mana.


Oppa? Gue rasa itu panggilan yang paling terburuk yang gua dapat. Bagaimana nggak, gue ngerasa jadi Abah-abah kalau dipanggil itu. So what, Oppa, bukankah itu panggilan aki-aki, ya? Dengan banyaknya pengagum gue yang manggil Oppa, gue ngerasa udah banyak cucu yang jumlahnya bejibun. Aelah, kadang hidup gue sedramatis itu.


"Bir, Lovandra nanyain elu tuh."


Saat gue masuk ke kelas, ada salah satu teman gue yang nyampein salam dari Lovandra untuk gue. So, gue sama sekali nggak peduli, sih. Terlalu sering Lovandra memberikan hadiah-hadiah kecil ke gue, padahal gue sama sekali nggak butuh sesuatu apa pun dari dia. Dia sebenarnya anaknya manis, cuma sayangnya dia bukan tipe gue.


Tapi itu dulu!


kurang jelas, oke gue perjelas.


TAPI ITU DULU!


Lovandra sekarang berbalik dingin sikapnya ke gue, saat setelah dia berhasil nolongin nyawa gue yang hampir mati kelindes mobil. Di situ mata gue terbuka lebar, gue bisa lihat dari semua pengorbanan yang dia lakukan buat gue. Tapi bejatnya, gue sama sekali nggak pernah menghargai dia. Dan lo tau, dia sempat koma 2 minggu gara-gara kecelakaan itu, dan gue ketar-ketir khawatir jika dia akan bernasib hidup atau mati? Kalau dia mati, maka gue akan merasa sangat-sangat-sangat bersalah. Tapi, ternyata Tuhan masih baik sama gue, Lovandra masih hidup dan sadar dari komanya, tapi dengan catatan dia mengalami amnesia—amnesia yang hanya lupa bagaimana terakhir kalinya dia beraktifitas sebelum kecelakaan. Dan di situ gue ngerasa lega sekaligus sedih. Leganya, dia masih hidup. Sedihnya, mungkin dia akan lupa sama gue. Yailah, kok gue seakan-akan takut kehilangan perhatiannya. Ck!


Yang awalnya gue nggak pernah nyapa dia, gue malah nyapa dia duluan. Tapi dia cuek sama gue, gue nggak tau dia inget sama gue atau nggak. Tapi pernah, dia manggil gue cuma karena mau minjem tipe-x. Dia bener-bener berubah, dulu dia sama sekali nggak berani minjem-minjem alat tulis ke gue, mungkin alasannya dia udah malu dan dag dig dug deran duluan ke gue, grogi lah bahasa simplenya. Tapi ini malah terkesan biasa aja. Malah gue yang seolah berharap Lovandra kayak dulu lagi.


Tapi mustahil.

__ADS_1


Itu nggak akan mungkin, Lovandra mungkin marah sama gue. Gue lupa ngasih tau. Ya, Lovandra adalah salah satu fans gue yang sama sekali nggak pernah sedikit pun gue lihat dia lelah dengan sikap gue yang dulu terkesan gue ini brengsek karena selalu menolaknya mentah-mentah. Bahkan, patut gue akuin, sudah berapa banyak kado yang Lovandra kasih ke gue, tapi gue menolaknya, mungkin nilainya bisa terbilang udah lebih dari apapun. Ck! Iya, gue tau gue brengsek.


"Lovandra? Lo nggak inget sama gue?" tanya gue nyamperin dia, dan gue duduk di bangku depannya. Lovandra langsung natap gue dengan tatapan biasa.


"Seorang Biru Aksaraditya, siapa sih yang gak kenal elo, Bir."


"Lo berubah, ya. Nggak kayak dulu."


"Nggak kok. Gue masih sama."


"Lo tinggal di mana sekarang?"


"Di rumah lama Bokap Nyokap gue."


"Berdua, sama Bibi. Pembantu gue."


"Orang-orang pesuruh bokap lo kemana?"


"Mereka gue pecat-pecatin. So, nggak ada yang ngegaji mereka setelah kedua orangtua gue meninggal. Jadi buat apa mempekerjakan mereka. Toh, gue juga nggak butuh."

__ADS_1


"Hm."


"Lo kenapa nanya kayak gitu?"


"Nggak. Gue cuma mau nanya, apa bener lo amnesia?"


"Iya."


"Lo sama sekali nggak inget gue gitu?"


"Lo kok ngomongnya muter-muter, sih. Tadi kan gue bilang, siapa sih yang nggak kenal seorang Biru Aksaraditya. Jadi, gue ingetlah sama lo."


"Lo marah ya sama gue?"


"Nggak kok."


"Hm. Serius?"


"Seriuslah."

__ADS_1


"Oke."


Entah, baru kali ini gue terlihat **** ngobrol sama cewek. Dan Lovandra berhasil bikin gue kayak semacem gue ngomong apa lagi, ya supaya ngobrolnya nggak hambar. Tapi tetap aja, gue rasa, ini sesuatu yang bikin gue sadar. Lovandra di mata gue, adalah sesuatu yang berbeda, nggak salahnya buat gue memperbaiki hal-hal yang pernah terjadi selama ini. So, gue akan berbaik hati sama dia. Dia patut mendapatkan apa yang seharusnya dia miliki.


__ADS_2