
L O V A N D R A ' S POV
Entah, akhir-akhir ini gue ngerasa semacam— gue kehilangan jati diri gue sendiri. Gue menjadi lebih seneng sendiri, dan gue hanya mau gabung sama orang-orang yang punya tempat tersendiri di dalam hati gue. Sekarang, kalau di sekolah, nggak ada teman yang sukses bikin gue nyaman—kecuali Petra. Tapi Petra sudah nggak satu sekolah lagi sama gue. Dia udah pindah. Dan nggak kerasa, udah hampir 3 bulan kita berpisah. Acieleh, sok drama banget hidup gue.
Yap! Secara signifikan, gue ngerasa banyak berubah setelah gue tersadar bangun dari koma beberapa bulan yang lalu. Bacot gue terkadang suka nge-flashback tentang itu. Basi! Bahkan waktu pun menjadi sangat cepat berlalu. Awalnya, Petra yang nyemangatin gue sekolah, di hari pertama gue masuk sekolah lagi setelah bangun dari koma dan sembuh total jasmani rohani, hanya saja dengan catatan; gue amnesia ringan.
Gue malas bahas itu sebenarnya. Toh, gue marah sama Petra dia bisa dengan mudahnya pindah sekolah. Gue cuma takut, takut kalau dia sibuk sama sekolahnya yang baru. Tapi patut gue akuin sih, selama dia pindah sekolah, dia selalu nepatin janjinya kalau semisal gue pengen ketemu dia. Justru malah gue yang terkesan selalu ngaret dan selalu bikin dia nunggu lama di tempat janjian. Petra spesial di hati gue.
"Tra? Sorry gue telat lagi." gue nyamperin Petra yang sedari tadi nunggu di halte bis, yang letaknya gak jauh dari sekolah gue.
Petra mengangguk. "Nggak apa-apa. Rasa ini sudah terbiasa."
Gue tersenyum, "Lo mah gitu, kali-kali kek lo marah sama gue. Bageur teuing sih."
"Jangan. Kalau gua marah, gua takut nggak terkendali. Nanti yang ada lo bisa habis gua makanin."
"Anjer. Serem dong."
"Apa? Genjer?" Petra pura-pura bolot, aslinya mukanya bikin seketika pengen nyubit. Dia bikin gue greget.
"Sialan. Anjer, bro. Bukan genjer."
__ADS_1
"Ya apa bedanya?"
"Bedalah."
"Iya, deh. Gua ngalah." Dia memilih ngalah dalam obrolan receh ini. "Yaudah, yuk." Petra menawarkan telapak tangannya—maksud dia adalah, supaya gue berpegangan tangan sambil berjalan menikmati udara siang Jakarta yang panas ini.
"Maksudnya apa nih?" tanya gue sembari memerhatikan uluran tangan Petra.
"Lo 'kan cewek, masa lo nggak tau gue ngode apa."
Gue tersenyum jahil, "oh mau minta jajan, ya?" gue terkekeh.
Seketika gue langsung diam.
"Ayuk!" Petra langsung meraih dan mengenggam tangan gue. Kita berjalan menelusuri pinggiran pejalan kaki. Gue berdegub, Petra selalu berhasil bikin gue terbang.
"Tra? Tangan lo kok dingin, ya?" gue bertanya pelan.
"Nanti juga angat."
"Lo lagi sakit, ya?" Gue bertanya lagi. Petra cuma diam. "Padahal mah tadi kalau lo nunggu lama, lo bisa pulang dulu. Nanti biar gue yang main ke rumah lo. Sekalian gue mau ketemu sama Adik lo," sambung gue lagi.
__ADS_1
Petra menghentikan langkahnya, dan dia langsung menghadap ke arah gue, tanpa melepaskan genggaman tangannya sedikit pun. Gue lihat dia tersenyum tipis.
"Lo jangan nyari gue di rumah gue. Karena, percuma."
Gue lihat tatapan Petra nyaris sesempurna tatapan James Jirayu, aktor Thailand yang sekarang lagi gue gilain. Gila aja ya, terkadang kenyataan hidup itu nggak semanis sinetron yang berujung penuh dengan drama. Tapi gue lihat lagi, detik ini Petra terlihat amat sangat berbeda.
"Percuma kenapa?" gue mengernyit heran.
"Gue nggak bakalan ada di rumah. Gue sibuk."
"Loh, masa? Tapi lo nggak lagi sibuk 'kan kalau ketemu gue?"
"Nggak. Karena sekarang lo menjadi prioritas gue, Van."
"Absurd lo. Gombel banget."
"Sorry ya, Van. Gue nggak bisa nembak lo buat jadi pacar gue. Padahal kalau boleh jujur. Gue sayang sama lo, dan gue pengen lo jadi pacar gua. Tapi, kayaknya gak perlu deh. Kita temenan aja."
Seketika gue langsung down, tapi gue berusaha untuk tidak memperlihatkan ekspresi kecewa. Yap! Gue baper sama sikap Petra, tapi gue harus berusaha memahami kalau dia pasti punya alasan yang kuat kenapa dia enggan menjadikan gue pacarnya, padahal dia mengatakan perasaan yang sebenarnya ke gue. Entahlah, ini hanya tentang waktu.
TBC!
__ADS_1