
Dan, ya. Gue bertiga larut dalam obrolan receh yang sama sekali nggak ada faedahnya, setelah ngomongin permasalahan gue yang cukup konyol. Gue yang ngerasa harus memperbaiki sisi brengsek dalam diri gue terhadap Lovandra. Ada dorongan kuat buat gue, untuk bisa membahagiakan seorang Lovandra, yang dulunya fans fanatik gue. Aelah, bahasa gue sudah melebihi dalemnya danau samosir, coy.
Gue, Agam, dan Jin memutuskan untuk balik ke rumah. Kita berpencar, pulang dengan kendaraan masing-masing. Dan sepertinya Jin nggak akan langsung pulang ke rumah. Dia pamit ke gue buat pergi ke ATM. Ini tanggal muda, Bokapnya sudah pasti mengirimi dia banyak uang. Jin, emang lebih kaya dari gue sama Agam. Tapi, sebentar lagi, entah besok atau lusa, giliran gue sama Agam yang dapat transferan uang dari Bapak Negara, yang sibuk nyari cicis di Thailand. Yaps, Bapak Negara yang gue maksud adalah bokap gue.
"Bir, Gam. Gua ke ATM dulu. Sorry, kalau semisal gua agak telat nyampe rumah." Jin bergegas buru-buru naik ke motor, dan langsung memakai helmnya. Tanpa mendengar intruksi dari gue dan Agam, Jin langsung melajukan motornya dan berlalu begitu saja.
__ADS_1
"Gam, lo pulang duluan aja," perintah gue pada Agam. "Gue kayaknya mau ke indomaret dulu, mau beli sesuatu," sambung gue.
Agam mengangguk, "oke. Gua nitip, ya. Beliin cemilan yang sekiranya enak buat dimakan. Tapi, pake uang lo dulu aja. Uang gue udah sekarat."
"Siap!"
__ADS_1
Tapi, perasaan gue berubah. Ibarat gue ngelihat wanita bunting yang udah mati dalam kisahnya si Zubaedah dan Udin, yang pernah gue baca dari salah satu penulis amatir di kelas gue, dengan judul absurd; beranak dalam kulkas. Itu kisah yang mustahil, tapi berkemungkinan akan ada. Aneh, tapi nyata. Sama kayak kisah gue. Eit, lo jangan salah kaprah, kisah gue nggak sejomplang sama besarnya kayak judul cerita yang gue sebutin tadi. Tapi, gue bicara soal; kemungkinan yang akan menjadi sebuah kepastian.
Lo tau? Kemungkinan mungkin akan menjadi kepastian. Tapi, kepastian bukan lagi soal kemungkinan. Jadi, kisah gue ini adalah sebuah kemungkinan, yang gue sendiri nggak tau akan berujung pasti atau akan selamanya menjadi mungkin. Tapi, patut gue akui, gue nggak bisa ngelak kalau saat ini gue suka sama Lovandra. Ya, gue seprontal itu dalam berperasaan.
Alasan gue suka sama Lovandra apa? Atau karena dia sudah nyelamatin gue? Nggak! Bukan itu alasannya. Tapi, gue baru sadar sekarang, bahwa cinta tidak sereceh yang gue bayangin, tidak seremeh yang gue pikirkan. Karena selama ini gue berpikir; cinta itu cuma sebatas alay-alay semata. Nyatanya gue salah. Gue tau, dan sadar itu, setelah gue ngelihat sendiri sebuah perjuangan. Jadi, nunggu apa lagi? Gue yakin, Lovandra tulus menyayangi gue. Tapi mungkin keadaan sekarang gue kudu berjuang duluan. Dan wah, ini adalah pertukaran posisi yang menurut gue, gue harus yakin dan siap menjadi sosok yang penuh dengan pengorbanan-seperti apa yang dilakukan Lovandra dulu.
__ADS_1
Anjer. Kok gue seketika jadi puitisman, ya? Gokil. Gue rasa seluruh alam semesta dan waktu menertawakan diri gue saat ini. But, gue nggak peduli.
TBC!