Dimensi Memory

Dimensi Memory
TELP.


__ADS_3

Pada akhirnya, Lovandra mengingat semua apa yang terjadi pada dirinya. Tapi, dia berpikir keras saat ini, mengapa dahulu perasaannya begitu ambisius mempertahankan cinta untuk seorang Biru, hingga Lovandra merelakan nyawanya yang hampir mati. Bahkan, dia kehilangan kedua orangtuanya.


Kini, Lovandra menghela napas pelan, berusaha menenangkan apa yang telah terjadi, dan berusaha mengikhlaskan kepergian Petra yang begitu tak masuk akal. Permasalahan ini cukup sederhana, namun sedikit rumit, karena semuanya berhubungan dengan segala rasa.


Tiba-tiba ponsel Lovandra berdering, tertanda panggilan masuk. Dengan santai, Lovandra meraih ponselnya yang tergeletak di atas ranjangnya. Posisi Lovandra memang saat ini tengah duduk di ubin yang dilapisi karpet hangat, terlihat punggungnya yang menyandar ke sampingan ranjang.


"Hallo?" Lovandra mengangkat teleponnya dengan santai.


"Kalau Biru nanya-nanya soal gue, bilang aja lo nggak tau dan nggak kenal gue sebelumnya, ya, Van. Kalau ketemu sama gue pas gue lagi sama Agam dan Biru, please, gue harap lo pura-pura nggak tau apa-apa, ya. Kita rahasiain kalau kita pernah ada cerita." katanya, langsung menyerocos, membuat Lovandra mengernyit aneh.


"Ini siapa, ya? No tak dikenal."


"Baru pemanasan, kan."

__ADS_1


"Lo siapa, sih?"


"Aelah. Baru pemasanasan kan kata gue tadi. Kalau sekarang mah ya kan lo ceritanya biasa aja, kenal gue seperti biasa. Kalau lagi pas ketemu gue, dan guenya lagi sama Biru atau Agam, gue harap lo pura-pura nggak tau siapa gue."


"Rese lo, ya! Gue tanya lo siapa?! Nelpon langsung ngomong ini-itu. Gue nggak paham."


"Gue salah satu member boygroup BTS!"


"Nah, lo tau. Jangan nanya gue dapet nomor lo dari mana, ya. Semuanya bisa gue lakuin. Intinya, gua senang kita ketemu lagi. Mungkin takdir kali, ya."


"Lo mau ngapain telepon gue malem-malem?"


"Cuma mau mastiin, lo baik-baik aja, kan? Setelah kejadian kemarin malam?"

__ADS_1


"Gue nggak bisa jawab."


"Lo lagi apa, Van?"


Di sana mungkin Jin mengetahui kalau Lovandra sedang tidak ingin membahas soal Petra, itu sebabnya Jin langsung mengalihkan pembicaraan.


"Lagi mau tidur. Kenapa?"


"Oh. Sorry kalau gue ganggu. Gue cuma mau mastiin keadaan lo doang, kok. Kalau gitu, lo istirahat yang cukup aja, Van. Nanti besok gue telepon lagi. Atau kalau nggak kita ketemuan aja. Gue mau kenalin anak-anaknya Owen. Seenggaknya, lo pasti akan terhibur sama anak-anak kita-eh, maksud gue, sama anak-anaknya Owen. Yaudah, selamat tidur, ya. Mimpi indah, dan sampai jumpa. Sekian dan terima jodoh. Hehe."


Tanpa Lovandra menjawab, telepon tersebut sudah diputuskan oleh Jin. Lovandra tersenyum sedikit ke layar ponselnya. Setidaknya, Jin membuatnya jauh lebih tenang. Membuat Lovandra merasa tidak terlalu kehilangan. Bahkan jika memang bisa dijelaskan, Lovandra telah kehilangan segalanya-kedua orangtua, harta kekayaan kedua orangtuanya semakin mengikis, dan juga kepergian Petra. Namun sebagai gantinya, Tuhan menghadirkan lagi sosok Jin untuk bisa mengubah warna kehidupan seorang Lovandra. Namun, bagaimana dengan Biru Aksaraditya? Entahlah.


Bersambunggg guys!

__ADS_1


__ADS_2