
"Kok dunia sesempit ini, ya?" Cowok yang duduk di tengah ini, cengengesan nggak jelas.
"Lo gila, ya?" maki gue, karena sedikit risi dengan cowok yang duduk di tengah sambil memangku Fatir—yang tidak sadarkan diri.
Dia menggelengkan kepala pelan, "Panggil gue Jin. Biar lo nggak kikuk," kata cowok bernametag Tosca Jin G. tersebut.
Gue diem.
"Jin? Lo sadar nggak? Sepatu lo ketinggalan di TKP," Agam memasang wajah seperti malu sendiri atas kelakuan Jin. Gue berusaha untuk tidak menertawakan.
"Bodo amat! Peduli setan ama sepatu. Gue kan lagi panik." Jin langsung berujar datar.
Gue lihat Agam memasang wajah risi dan jijik saat sesekali dia melihat sepasang kaki Jin yang hanya dibungkus oleh kaos kaki saja.
"Lo nggak takut kemaleman, Van?" tiba-tiba Biru bertanya ke gue.
"Nggak. Kenapa emangnya?" gue melemparkan pertanyaan. "Lo terganggu dengan keberadaan gue?" sambung gue, lagi.
"Kita malah seneng ada cewek di antara kita bertiga. Ngurangin rasa kepanikan kita." Jin langsung menimpal.
Gue diem.
"Tapi, nggak masuk akal aja. Gue rasa, lo masih suka ya sama si Biru? Kok lo tiba-tiba masuk ke taksi, dan pengen ikut serta nyelamatin Fatir?" ucap Agam. Perkataan cowok itu seketika bikin gue mikir.
Gue diem, nggak tau harus jawab apa.
"Gue pengen tau, atas dasar apa lo tiba-tiba ikut kita?" tanya Agam intens.
"Pertanyaan lo udah gue jawab, kan? Gue ngerasa bersalah aja. Karena gue nggak nyelamatin Fatir waktu pas dia nyebrang!" gue berujar pelan. Sedari tadi gue hanya memasang wajah biasa aja.
"Tapi kok lo ada di tempat TKP? Kenapa sekebetulan itu, ya?" tanya Agam, seolah mencurigakan dengan keberadaan gue.
"Ya itu rencana Tuhan." gue langsung menjawab sesimple mungkin.
__ADS_1
"Udah stop! Kalian berdua jangan berdebat!" Jin langsung melerai, mungkin karena posisi duduknya yang di apit oleh gue dan Agam, jadi dia merasa sangat sempit dan risi dengan perdebatan kecil gue dan Agam.
Lalu, Biru yang duduk di depan pun nggak terlalu banyak bicara, dia fokus mengintruksi supir taksi menunjuk arah rumah sakit terdekat.
"Berhentiin mobilnya di depan, Pak. Di situ ada rumah sakit 24 jam." Biru menyuruh sang supir memberhentikan laju taksinya tepat di parkiran rumah sakit 24 jam.
Setelah sampai. Dengan sigap, Gue, Jin, Agam, Biru langsung keluar taksi dan masuk ke dalam rumah sakit, untuk meminta bantuan secara intensif. Awalnya gue membiarkan Biru, Jin, dan Agam masuk terlebih dahulu. Karena sadar, mereka bertiga lupa membayar tagihan ongkos taksinya. Alhasil, gue dengan bijaknya langsung membayar ongkos tersebut, dan langsung mengejar langkah Biru, Jin dan Agam yang telah lebih dulu memasuki rumah sakit tersebut.
Gue lihat, Fatir mendapatkan layanan terbaik oleh rumah sakit ini. Fatir langsung ditangani dan dibawa ke ruang UGD. Sementara Biru, Jin, dan Agam berdiri di depan kasir administrasi rumah sakit. Gue lihat mereka tampak kebingungan.
Dan dengan langkah pelan, gue menghampiri ketiga cowok tersebut yang berdiri di depan kasir rumah sakit.
"Gini, Sus. Kita nggak sengaja nabrak anak itu," kata Jin menjelaskan.
"Mohon maaf, apakah keluarga korban mengetahuinya?" tanya Suster tersebut.
"Saya Bapaknya," spontan Jin. Gue yang denger itu seketika pengen ketawa, tapi gue mencoba untuk menahannya.
Agam mendorong bahu Jin pelan, "Rasis!"
Suster itu menggelengkan kepala dan tersenyum remeh. "Anda masih SMA? Kok anaknya sudah sebesar itu, ya?" tanyanya meledek Jin.
"Gini, Sus. Gue kan cowok. Calon Bapak-Bapak. Terus ada yang salah gitu kalau gue ngakuin bocah tadi sebagai anak? Kelinci aja gue adopsi jadi anak." Jin membela diri. "Intinya, gue pengen cepet beres dah. Soalnya gue nggak tau siapa orangtua tuh bocah," sambung Jin.
"Silahkan selesaikan biaya administrasinya. Maka pasien akan ditangani secara lebih intensif." Suster tersebut seakan enggan berdebat jauh lebih dalam lagi dengan Jin.
Jin langsung memberikan ATM card pada suster tersebut. Sementara Biru, mendapatkan intruksi dari suster lain untuk ke ruangan UGD. Agam membuntuti Biru.
Setelah beberapa menit kemudian,
Tinggalah gue dan Jin yang diharuskan menunggu di tempat tunggu rumah sakit ini. Gue belum melihat kedatangan Biru dan Agam, yang gue sendiri bertanya-tanya apakah keadaan Fatir baik-baik saja.
Gue lihat ke samping kanan, Jin yang duduk di sebelah kanan gue, tampak santay. Gue lihat dia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, lalu mengadahkan wajahnya ke atas, dan dia memejamkan matanya. Gue lihat gue, jakunnya naik-turun. Jin terlihat seperti menenangkan pikiran.
__ADS_1
"Lo nggak apa-apa?" dengan konyolnya gue bertanya seperti itu pada Jin. Seketika Jin langsung membuka matanya, dan menoleh ke arah gue.
Dia tersenyum tipis. "Nggak apa-apa."
"Lo nggak risi, lihat orang-orang yang natap lo aneh, karena lo cuma pake kaos kaki tanpa pake sepatu," ucap gue, Jin seakan tidak peduli dengan tatapan orang-orang yang lewat di hadapannya.
"Nggak. Ngapain risi? Nggak ngerugiin mereka, kan?"
"Iya juga, sih."
"Nama lo Lovandra, kan?" tanya Jin.
Gue mengangguk.
"Tapi, muka lo kok nggak asing ya buat gue." Jin menelaah wajah gue dengan tatapan intens. Gue sedikit terganggu dengan tatapan yang seperti itu.
"Ovan?" Jin menyebutkan sebuah nama yang nggak asing di telinga gue. "Jangan bilang kalau lo itu Ovan. Temen semasa kecil gue," sambung Jin.
Seketika gue terkejut bukan main. Jin? Gue berusaha untuk mengingat masa kecil gue. Dan yap! Seketika gue mengingat moment di mana waktu pertama kali gue masuk SD, gue sempet punya temen cowok. Tapi itu cuma berlangsung kelas 1 SD doang. Ketika udah kelas 2 SD, temen terbaik gue malah justru pindah sekolah. Kita sempet berkomunikasi, dan terakhir kali berkomunikasi itu sejak 5 tahun yang lalu, saat gue mengirimi sebuah hadiah untuknya. Setelah itu, kita nggak pernah berkomunikasi lagi.
"Osca? Jangan bilang kalau lo itu Osca?" gue langsung membenatkan kata gue.
Dia langsung tersenyum. "Yap! Gua Osca. Yang nolongin lo waktu SD, yang ngancam semua temen-temen SD kita dan nggak boleh bikin lo nangis atau lecet sedikit pun. Maka, gue akan menghajar orang tersebut. Ya salah satunya, Dirga. Gue masih inget banget dah, waktu si Dirga nyium pipi lo, terus lo nangis nggak terima, dan gue yang ngerasa panas langsung nonjok Dirga. Hasilnya, ya gue dikeluarin di sekolah. Sampai gue nggak bisa ketemu lo lagi. Gue dimarahin bokap karena kasus itu." Jin bercerita panjang lebar.
"Sumpah-sumpah. Gue nggak nyangka kita bisa bertemu lagi." Gue menanggapi dengan ceria.
Kemudian Jin menunduk dan tersenyum, lalu kembali memberikan pandangannya ke gue. "Tapi, ada yang lo nggak tau, Van. Gue saudaranya Biru. Dan gue sedikit tau tentang kisahnya Lovandra dan Biru. Biru ada pernah cerita sih soal cewek bernama Lovandra."
"Emang Biru cerita apa?" tanya gue.
Jin menggelengkan kepala, dan...
"Biru sama Agam udah datang. Yuk samperin." Jin langsung berdiri, dia mengalihkan pembicaraan pada saat mendapati Biru dan Agam yang berjalan ke arah gue dan Jin.
__ADS_1
TBC