
Setelah sampai di sebuah pemakaman umum, Lovandra tahu dia harus berjalan ke mana. Jin pun membuntutinya dari belakang. Lovandra terlihat sama sekali tidak memasang wajah sedih, dia terlihat seperti biasa saja. Tapi kemungkinan, dalam hatinya merasakan sedih yang luar biasa.
Ketika tepat berdiri di sepasang makam yang bertuliskan nama kedua orangtua Lovandra. Lovandra langsung mengubah posisi menjadi jungkuk.
"Kalian apa kabar? Aku minta maaf jika aku sangat jarang ke sini," ucap Lovandra seraya memegang batu nisan makam Ibunya.
"Van? Lo yang sabar, ya." Jin menguatkan Lovandra. Lovandra tersenyum.
"Lo lihat semuanya, 'kan? Tuhan mengambil semuanya dari gue, tanpa gue tahu apa yang akan gue dapatkan nantinya. Gue kehilangan Petra. Gue kehilangan orangtua gue. Dan gue nggak punya siapa-siapa. Gue jadi ngerasa takut untuk menyayangi seseorang," ujar Lovandra pelan, sambil menatap sepasang mata Jin beberapa detik.
"Apa yang lo takutin untuk menyayangi seseorang? Lo berhak untuk menyayangi siapa saja di dunia ini, Van." Jin langsung menyemangati Lovandra dengan semampu yang dia bisa.
"Karena jika gue menyayangi seseorang, maka Tuhan akan melenyapkan seseorang itu dari hadapan gue." Lovandra seakan menyerah dengan apa yang menjadi takdir dalam hidupnya.
"Buang pemikiran lo yang kayak gitu. Tuhan punya rencana lain kenapa lo kehilangan semuanya. Buktinya, lo nggak kehilangan Biru, padahal lo menyayanginya, 'kan?" spontan Jin, membuat Lovandra berpikir lebih dalam lagi.
"Gue bahkan nggak ngerti dengan perasaan gue sendiri."
"Lo harus yakin, Van."
"Makasih, Jin. Lo udah bikin gue sedikit lebih tenang. Dari kecil, lo emang selalu bikin gue tenang dengan omongan lo yang terkadang sedikit bijak." Lovandra menyunggingkan senyum manis di bibirnya.
"Lah, kok cuma sedikit bijak? Harusnya kalimatnya jangan sedikit tapi lumayan." Jin berujar dengan cengengesan.
Lovandra terkekeh. Keduanya saling bertatap dalam seri yang berbeda. Kemudian Lovandra menemukan sosok penenang hanya dengan menatap sepasang mata Jin.
Beberapa detik hening, Jin meraih tangan Lovandra.
"Untuk itu, tidak ada paksaan dan larangan atau ditakutin untuk menyayangi gue. Hati gue terbuka buat lo, Van." Jin berujar dengan nada serius dan tatapan berseri, Lovandra seakan hanyut, suara itu terlontar berbarengan dengan semilir angin yng berhasil menerbangakan anak rambut milik Lovandra.
"Apa? Tidak ada paksaan? Bahasa lo kenapa jadi pake tidak? Baku bener," Ledek Lovandra.
Seketika itu senyum Jin luntur. "Heuh." Jin menghela napas dalam-dalam. "Gagal deh bikin suasana romantisnya."
"Lagian elu ada-ada aja, ya. Ini di makam loh, masa mau romantis-romantisan? Gue nggak bakal terbawa suasana, lah. Kecuali kalau lo ngomong kayak begitunya pas lagi kita di cafe. Lah, ini, di kuburan." Lovandra terkekeh geli.
Jin langsung kembali tersenyum. "Gue suka kalau lo tertawa selepas itu. Dan gue nggak suka lo sedih. Jangan ngerasa kalau lo sendiri, Van. Lo masih ada gue. Bahu gue siap untuk menjadi sandaran beban lo, Van," ucap Jin tersenyum.
***
Saat malam. Jin tampak lelah dengan wajah kusut, duduk di sofa ruang keluarga. Televisi menyala, namun tak dihiraukan. Suasana sepi menentramkan. Lalu, Agam datang menghampiri Jin dengan membawa dua kopi kemasan kaleng—satu untuk dirinya, satu lagi diberikan untuk Jin.
"Gak usah stress nunggu orangtua kita balik. Mereka lagi di perjalanan menuju ke sini. Santai aja, rilex." Agam menegug sekaleng kopinya dengan begitu santai.
"Su'udzon lo. Gua bukan mikirin kedatangan orangtua kita. Gua cuma mikirin satu-satunya cewek yang entah kenapa gue nggak bisa berhenti mikirin dia," ucap Jin dengan santainya.
"Cewek? Siapa?" tanya Agam.
"Ya, ada, lah. Dia teman kecil gue waktu kecil."
"Oh, Terus apa yang menjadi beban dipikiran lo?" tanya Agam lagi.
__ADS_1
"Untuk sekarang gue nggak bisa jawab." Jin langsung memutuskan topik pembicaraan tersebut. Agam hanya mengangguk, mengerti apa maksud kalimat Jin tersebut.
"Ternyata lo berdua di sini." Tiba-tiba Biru datang dan langsung mengambil posisi duduk di sofa yang terlihat kosong.
"Bir, lo tau nggak kenapa orangtua kita balik dan pengen ngobrol sama kita?" Tanya Agam.
"Hm, gua nggak tau persis kenapa mereka balik ke Indonesia cuma mau ngobrol sesuatu sama kita." Biru berujar dengan entengnya.
"Kita coba lihat aja faktanya. Mereka mau ngapain balik. Simple, kan?" ujar Jin.
"Iyalah, gitu aja. Ngapain diambil pusing. Sekarang gini, gue mau ngomong sama lo Jin, sama lo juga, Gam. Salah nggak sih gue kalau gue jatuh cinta sama orang yang dulu gue benci banget?" Biru mulai membahas hal yang menurutnya ini terlalu konyol, tapi dia merasa harus bertindak atas perasaannya.
"Tunggu-tunggu, ini ceritanya lo mau bahas apa ini?" tanya Agam.
"Soal perasaan gue sama seseorang," jelas Biru.
"Ya, kalau lo suka, lo cinta sama dia, kenapa nggak lo tembak dia, jadiin dia pacar lo. Apa susahnya? Akhir-akhir ini lo sering banget ngeribetin diri lo sendiri kalau menyangkut hati dan perasaan lo." Jin berujar seolah memberikan solusi terbaik pada Biru.
Biru terdiam.
"Emang siapa cewek yang udah bikin lo ribet kayak gini, Bir?" Agam terkekeh geli.
"Lovandra," jelas Biru.
Seketika pun Jin langsung menoleh ke arah Biru, melihat seraut yang dicurigai Jin, apa Biru tidak sedang bercanda dengan ucapannya? Pikir Jin mulai menerka-nerka.
"Lo serius?" tanya Agam. Jin menoleh sekilas ke arah Agam, dan langsung sedikit menunduk menghela napas pelan.
Hening beberapa saat. Jin tidak tahu harus bagaimana, perasaanya juga telah jatuh cukup dalam mencintai Lovandra. Tapi Biru? Entahlah. Jin saat ini hanya terdiam saja.
Denting jam seakan dengan cepatnya berlalu. Terlihat Jin, Biru dan Agam yang senantiasa setia menunggu kedatangan para orangtua mereka. Sama sekali tidak ada raut bahagia yang terpancar, ketiganya tampak menyambut malas-malasan.
Waktu menunjukkan pukul 11 malam. Sesekali Jin menoleh ke arah jam dinding, masih saja para orangtua belum juga datang.
"Mau sampe jam berapa sih mereka sampai? Bete gua!" gerutu Jin.
"Sabarlah dikit. Bentar lagi mereka datang," ucap Agam.
Biru di sana hanya diam sembari menahan kantuk yang kian menyerangmya. Kemudian, tanpa aba-aba lagi, terdengar suara bunyi bel pintu rumah. Lantas, seorang pembantu paruh baya pun langsung membukakan pintu tersebut. Namun Agam, Jin dan Biru sama sekali tidak mengubah posisi mereka. Ketiganya masih duduk di sofa dengan masing-masing memeluk bantal.
"Apa kalian tidak bahagia dengan kedatangan kita?" suara bariton itu terdengar dari arah belakang ketiga cowok yang tampak enggan dengan pertemuan ini. Ketiga sepupu tersebut hanya duduk di sofa yang membelakangi arah pintu masuk ke ruang tamu.
"Bahasa mereka jadi aneh. Baku. Kebanyakan nonton Lakorn, jadi agak ke Thailand banget," bisik Agam pada Biru dan Jin.
"Masih mending. Untung bukan kekoreaan. Bisa berabe gue, kalau bokap gue mirip oppa-oppa," celetuk Biru.
Tanpa ada sepatah kata dari Jin, Jin hanya menghela napas dalam lalu bangkit berdiri dan membalikkan badannya untuk menghadap kepada para orangtua yang baru saja tiba.
Seketika,
Mata Jin membulat. Dia terkejut dalam diam. Kenapa? Kenapa harus ada dia?
__ADS_1
"Jin, suruh kedua sepupu kamu menghadap Kami!" ucap Arjuna—Ayah Jin. Jin masih bungkam.
Sementara Biru dan Agam masih saja malas, dan kukuh pada posisinya kini.
"Lu denger, Bir. Kami? Lucu kan? Mereka siapa? paduka dari langit ke tujuh?" Cekikik Agam. Biru hanya tersenyum miring saat mendengar Ayah Jin yang berbicara begitu sangat baku dan terkesan lucu dan asing.
Jin mengisyaratkan Biru dan Agam untuk berdiri dan membalikkan badan. Dengan malas pun, mereka menurut.
Seketika,
Mata Biru menatap serius.
Lovandra?
Ya, mengapa ada Lovandra ikut serta datang di antaran para orangtua tersebut? Seketika hening sejenak. Ada apa ini sebenarnya.
"Kalian tidak begitu senang dengan kedatangan kita? Baiklah, kita hanya akan menginap 1 hari 1 malam di sini. Tapi sebelum itu, Saya mengangkat Lovandra sebagai anak saya. Dan mulai detik ini, dia menjadi saudara kalian," jelas Arjuna.
Deg.
Jin mengerutkan dahi. Ayahnya mengangkat Lovandra sebagai anak dengan tujuan apa?
"Lovandra, kamu ke kamar saja istirahat. Ini sudah malam. Ayah juga akan bicara sama Jin, Agam, dan Biru," perintahnya. Lovandra hanya mengangguk, dia berjalan diantar oleh pembantu, tapi jelas diraut wajah Lovandra dan sorot mata yang berkaca-kaca.
Kemudian, suasana pun menjadi sangat tidak baik. Hening dan begitu tegang. Jin, Biru, dan Agam duduk di sofa berderetan. Para orangtua pun duduk di sofa menghadap ke arah ketiga sepupu itu.
Jin menunduk dengan ribuan pertanyaan.
Agam terdiam dengan ribuan tanya.
Biru? Memikirkan hal yang di luar logika. Jika semua ini pasti akan mencelakai Lovandra.
"Kalian sudah tau? Persaingan sengit bisnis yang dikelola keluarga Aksaraditya, hampir bangkrut dan diambang kehancuran oleh sebuah bisnis kecil yang didirikan oleh orangtua Lovandra. Beruntungnya mereka sekarang telah mati, Bisnis keluarga kita kembali jaya. Dan, sebagai antisipasi, kita mengangkat Lovandra masuk ke keluarga ini. Bukan untuk mencelakai, tapi gadis itu sangat berbahaya jika keluar dari pihak kita. Gadis itu sangat membahayakan bisnis keluarga kita," jelas Violeta—ibunya Agam.
"Tapi apa nggak ada cara lain, Mam?" tanya Agam.
"Tentu saja ada. Tapi ini cara terbaik," ucapnya.
"Kenapa nggak pakai rencana lain aja, Mam?" tanya Agam lagi.
"Ada. Dengan membunuhnya. Atau, menyuruh orang untuk memperkosanya, menyakiti hatinya. Atau diangkat menjadi salah satu dari keluarga kita. Kalian pilih saja." Jingga pun mengangkat suara, Jin terdiam dengan sepasang tangan terkepal.
"Kenapa kalian kejam? Dia nggak bersalah." Biru membuka suara.
"Gadis itu memang tidak bersalah, hanya takdirnya lah yang mengutuk dia menjadi bersalah," jelas Jingga.
"Untuk sementara waktu, biarkan Lovandra tinggal di sini sebagai Adik tiri Jin. Kalian anggap dia sebagai saudara kalian, jika diantara kalian ada yang ingin menyakitinya, silahkan. Gadis itu sudah seperti boneka yang kami hadiahkan untuk kalian bertiga. So?" Violeta berucap dengan begitu entengnya.
"Gua rasa obrolan ini udah cukup untuk gue pahami. Mata gua ngantuk, gua mau istirahat," ucap Jin, lalu berlalu meninggalkan semuanya dengan tanpa mau lagi mendengar kata-kata dari siapa pun.
TBC!
__ADS_1