Dimensi Memory

Dimensi Memory
KESIALAN JIN


__ADS_3

Gue sama Agam sudah berada di rumah sejak magrib tadi. Tapi, sampai ba'da isya begini, Jin belum kelihatan tanda-tanda kalau dia sudah pulang ke rumah. Tuh anak pasti mampir sebentar kalau sudah megang uang. Gue rasa dia diculik tante-tante, dan dia nggak mungkin nolak. Setahu gue, Jin adalah tipe cowok yang suka memanfaatkan sesuatu, selama itu membuatnya senang. Ck, pikiran gue mulai berprasangka buruk mengenai Jin.


Lantas, abis sholat isya pun gue memutuskan untuk cari udara keluar rumah, hanya sekedar menikmati pemandangan taman di rumah gue. Cukup sederhana, gak perlu jauh-jauh untuk menikmati alam sekitar. Di taman belakang rumah gue aja, udah bagus view-nya, bikin adem. Lagipula, letak rumah gue ini cukup strategis. Terlihat kerlipan lampu gedung-gedung apartemen, jika di lihat dari atas balkon lantai 2 rumah, tepat di arah selatan. Kalau di taman belakang rumah gini, gue hanya menikmati langit malam yang banyak bintang, udara seger, enak buat ngopi-ngopi santai, lalu berkhayal nikah sama bidadari. Anjey, gue emang sebrengsek itu. Ck.


"Aduh gimana ini, aduh gimana ini. Gaswat. Jangan sampe. Gua mohon jangan sampai mati!"


Gue ngelihat Jin yang tiba-tiba datang dan langsung riweuh dengan memposisikan dirinya gusar, ke kanan dan ke kiri, tampak kebingungan sambil memerhatikan sebuah kandang kecil mirip miniatur rumah. Ya, sebut saja itu kandang hewan peliharan.


"Woy! Ada apa?" gue berteriak pada Jin. Jin langsung noleh ke gue, dan nyamperin gue dengan wajah setengah panik.


"Owen, Bir. Si Owen!" Jin memasang wajah setengah ****** begonya. Tapi, gue hanya mengernyit biasa.


"Kenapa sama Owen?" tanya gue datar.


"Gue lihat dia udah nggak bernafas lagi. Tubuhnya kaku nggak gerak. Lo bisa jelasin nggak ke gue, apa yang terjadi sama Owen!" Jin semakin panik, Owen—kelinci kesayangannya itu, ternyata telah membutakan hati dan pikiran Jin, menurut gue. Ya jelas, Owen mati aja, Jin udah setengah ****** kayak kehilangan anak darah dagingnya.


"Yealah, cuma kelinci doang. Drama lo, Jin!"


"Sialan lo, Bir. Owen udah gue pelihara dari 5 tahun yang lalu."


"Terus?"


"Dia sekarang mati. Lo tau? Bukan karena 5 tahunnya gue udah ngerawat Owen. Tapi, Owen itu kelinci jantan yang dikasih seseorang yang paling spesial di hidup gue. Gue udah nganggep Owen anak gue sendiri." Jin langsung memasang wajah kecewa atas apa yang gue omongin tadi terkesan menggampangkan.


"Gua tau elo, Jin. Nggak kolor, nggak kelinci, semuanya lo bilang, itu berkat pemberian dari seseorang yang spesial di hidup lo."


"Kalau soal Owen beda, Bir."


"Bedanya?"

__ADS_1


"Ibaratnya, dia itu udah gue anggap anak sendiri."


"Ck, gila lo ya? Kelinci dijadiin anak."


"Terserah deh lo mau ngomong apa. Mau bilang gue gila, kek. Gue sengklek, kek. Tapi satu hal yang perlu lo tau, gue tipe orang yang selalu menghargai pemberian orang lain." Jin menekankan kalimatnya, dan itu membuat gue merasa tersindir.


"Ck. Gue nggak tau kenapa bisa si Owennya elo bisa mati," gue langsung berujar malas.


"Gue, Jin. Sorry. Gue yang bikin Owen mati," Agam tiba-tiba datang dengan pakaiannya yang sudah rapi—sepertinya dia telah siap-siap untuk keluar rumah.


"Sialan lo!" Jin langsung kepancing emosi.


"Weit, santai, Bro." Gue langsung melerai.


"Gue nggak sengaja tapinya. Tadi sore, pas pulang dari sturbucks, gue kan nyoba praktektin obat tidur ke si Owen, tapi gue nggak tau kalau observasi gue ternyata gagal. Dosis yang gue kasih kebanyakan. Jadi, mungkin itu yang bikin Owen mati," kata Agam menjelaskan.


"Kalau bukan lo sepupu gue! Udah abis lo!"


"Sorry, Jin. Nanti gua beliin yang baru," ucap Agam.


"***, lo! Buat kedepannya, mending lo gak usah praktek-praktek lagi deh. Mending lo lebih seringin pratekin teory diciptakannya manusia sama dede-dede emesh lo! Itu lebih nggak ngerugiin gua! Pokoknya gua marah sama lo!" Jin berseru tegas.


"Maaf. Yaudah ayok, kita berangkat." Agam langsung mengalihkan pembicaraan.


"Berangkat ke mana?" tanya gue.


"Ke toko wican. Katanya waktu siang kita mau ke toko wican Bibi Along." Agam mengingatkan obrolan tadi siang. Emang cuma Agam yang memiliki daya ingat yang kuat, gue aja hampir gak inget karena Jin udah semenggurutu ini.


"Widih, terniat," gue tersenyum remeh.

__ADS_1


"GAK JADI! Gua udah nggak mood!" Jin langsung mengagalkan.


"Lah, bukannya elo yang ngasih saran, ya?" tanya Agam.


"Ya kalau emang lo mau ke sana, ke sana aja. Gua nggak ikut." Jin memasang wajah malas.


"Sia mah kitu, Jin. Kan lo yang tau alamatnya." Agam langsung memasang wajah tidak suka. Kemudian, logat sundanya keluar. Agam memang begitu, sundanese banget. Ya, iyalah, sebagian besar keluarga kita berasal dari Sunda vs. Thailand.


"Gua ada urusan."


"Urusan apa?" tanya gue dan Agam berbarengan.


"Ngadain Tahlilan buat Owen. Setidaknya, biar dia pergi dengan tenang. Selebihnya, gue nggak akan mempercayai ramalan, musrik. Kita hidup dengan keyakinan bahwa Tuhan itu ada. Jadi? Buat apa minta solusi sama peramal?" Jin langsung berceramah, membuat gue langsung nepuk jidat.


"Anjer."


"Seorang Jin ternyata bisa tobat. Wkwk." Agam terlihat berusaha menahan tawa.


"Jangan ketawa lo! Nggak lucu!"


"Pede banget lo! Pengen gue ketawain emang?"


"Itu barusan lo cekikikan. Kayak kunti aja lo."


"Yeh, itu mah bukan ngetawain elo, Jin! Itu barusan gue lihat semut tisoledat,"


"Bacot!" Jin menyeleos masuk ke dalam rumah. "Jangan ada yang ganggu gue kalau tidur! Gua nggak mau kamar gua diungsi sama lo Agam! Gak ada alasan kamar Agam sama Biru AC nya mati! Semua AC udah diperbaiki! Jadi lo berdua gak boleh nginep di kamar gua lagi!" Jin berteriak pada saat udah di dalam rumah.


Ck, gue sama Agam cuma menggeleng-gelengkan kepala, sambil tertawa remeh. Terkadang kelakuan Jin terlalu konyol. Dan gue mengenal Jin bukan baru-baru ini, gue tau segala tabiatnya dia. Jadi, semarah apa pun dia, tetap akan ada unsur pengen ketawanya. Point plusnya, dia itu ganteng sama kayak gue. Ibarat gini, Gue kembaran Sehun, Jin kembaran Le Min Ho, dan Agam kembarannya Song Jong Ki. Aelah. Kenapa bawa aktor korea? Padahal gue ngerasa, semua orang korea, entah cowok atau cewek, mukanya sama semua. Njer.

__ADS_1


TBC!


__ADS_2