Dimensi Memory

Dimensi Memory
FLASHBACK 2


__ADS_3

Lovandra mengambil tasnya di kelas. Ia rasa, hari ini ia harus bolos sekolah. Baginya, hari ulang tahun Biru jauh lebih penting daripada mengikuti pelajaran sekolah hari ini. Meskipun dapat perlakuan yang tidak begitu baik dari Biru. Biru sama sekali tidak merespon baik perlakuan Lovandra yang berusaha mati-matian demi hari ulang tahunnya Biru.


Sampai-sampai Lovandra harus bolos hari ini.


Lovandra berlari keluar gerbang, tak ada satu guru pun yang melihatnya. Karena mungkin semua guru sedang sibuk. Lovandra memang cerdik, ia pandai memanipulasi semua orang. Terkecuali, Pak Firman, pegawai kebersihan sekolah. Pak Firman hanya menggeleng-gelengkan kepala pelan melihat anak itu bolos, hanya demi sebuah perasaan cintanya yang sedang ia perjuangankan sendirian. Kalaupun Pak Firman mencegah Lovandra untuk tidak bolos, itu tidak akan berefek, Lovandra akan tetap bolos.


Terlepas dari itu,


Lovandra kini sudah berada di sebuah tempat, yang tampaknya itu adalah sebuah gudang. Tidak-tidak, ini seperti rumah kosong tak berpenghuni, karena terlihat tak terurus. Ya, ini adalah rumah kedua dari orangtuanya Lovandra. Lovandra terlahir dari keluarga yang berkecukupan. Rumah ini pun menjadi aset keluarga Lovandra, namun sayangnya tak terurus.


"Hm,"


Lovandra menghela napas, saat membuka pintu rumah ini, ternyata sudah ada beberapa kado yang—Lovandra maksudkan untuk Biru, namun Biru tetap menolak. Di sinilah terkumpulnya kado-kado yang ditolak Biru


"Apa mungkin ini kado terakhir?" Lovandra meletakkan kado yang tadi pagi sempat ditolak Biru.

__ADS_1


Tiba-tiba ponsel Lovandra berdering, tertanda panggilan masuk. Dengan segera Lovandra mengangkatnya.


"Hallo, Mah. Ada apa?"


"Kamu di mana? Mamah dapat telepon dari sekolah. Kamu hari ini gak masuk."


"Iya, aku nggak masuk. Tapi tadi pagi aku sempat ke sekolah kok, Mah."


"Kebiasaan kamu tuh, ya. Ini pasti gara-gara si Biru itu, ya. Buat apa sih kamu ngejar-ngejar dia? Buat apa? Mamah gak suka kamu ngejar-ngejar si Biru. Dia nggak baik buat kamu. Lagian kamu udah Mamah bilangin dari dulu, jauhin si Biru. Kamu tau, 'kan kedua orangtua si Biru itu adalah musuh besar bisnis Mamah. Mamah nggak suka! Kamu juga sering lupa sama hari-hari besar keluarga kita!"


"Mah, aku lagi sibuk, aku nggak mau debat."


"Mah, udah dong. Stop, Mah. Aku 'kan nggak mau bahas soal itu lagi. Aku cuma menunjukkan perasaan aku doang. Aku suka sama Biru, dia menarik hati aku. Aku kira ini cuma cinta monyet, tapi ternyata aku salah, perasaan ini semakin lama ya semakin betah aja nempel di aku." Lovandra berujar dengan nada mendayu-dayu memohon agar Mamahnya mengerti.


"Oke. Mamah capek debat sama kamu. Tapi, sekarang kamu pulang! Nanti malam kita akan makan bersama. Kamu lupa kan sekarang hari apa?"

__ADS_1


"Aku inget. Ini hari ulang tahunnya Biru, 'kan?" dengan polosnya Lovandra mengatakan itu. Bodoh!


"Mamah kecewa sama kamu, Lov. Kamu jadi seperti bukan anak Mamah sama Papah. Kamu lupa sama hari ulang tahun pernikahan Mamah sama Papah. Otak kamu bener-bener isinya Biru semua."


Tuuuttt...


Panggilan telepon pun terputus.


"Hallo, Mah. Ya Ampun, Mah, aku minta maaf. Aku nggak bermaksud untuk lupain hari jadi pernikahan Mamah sama Papah."


Tanpa basa-basi lagi, Lovandra langsung mengetikkan pesan singkat dan dikirimkan kepada kontak ia tertera nama Mamah di ponselnya.


To: Mama


Mah, maaf ya. Aku malem ini kayaknya nggak bisa ikut ngerayain acara mamah sama papah. Aku ada urusan sebentar, tapi aku janji, aku akan nyiapin kado buat kalian. Pokoknya, happy anniv mamah papah <3

__ADS_1


Bodoh atau polos, Lovandra memilih ngaret datang ke acara makan malam kedua orangtuanya dan ia memilih untuk menyiapkan acara ulang tahun Biru yang sudah jelas-jelas, hanya penolakan yang ia dapatkan.


TBC!


__ADS_2