
Ngaret! Jin dan Agam bener-bener rajanya ngaret. Gue udah hampir sejam nungguin mereka di starbucks dan sampai detik ini pun gue belum ngelihat batang hidung mereka nongol di sini. Gue cuma celingak-celinguk kayak orang bodoh, dan kadang gue ngerasa kok hidup gue gini, ya? Ngerasa standar-standar aja gitu. Nggak ada beban ataupun masalah. Relax.
"Sori, Bro. Gua telat. Nggak lama, kan?" tiba-tiba Agam datang dan langsung duduk di bangku. Dia langsung naro sebungkus rokok beserta koreknya di atas meja.
"Muke gile lu, gua nunggu udah hampir sejam lewat. Lo masih bilang nggak lama? Lo tau kan, menunggu itu adalah hal yang paling gua nggak suka," gua langsung menyemprot datar, si Agam malah cengengesan, sambil ngeluarin buku di dalam tasnya.
"Sori, Bir. Sekali-sekali kan gak apa-apa." setelah meletakan bukunya di atas meja, Agam langsung meraih korek api, dan menyelipkan sebatang rokok di antara jari telunjuk dan jari tengahnya, dan rokok itu pun langsung ia letakan di bibirnya. Dia menghidupkan korek dan menghirup rokok, yang baginya itu adalah sebuah candu setelah buku. Agam sama sekali merasa tak berdosa. Dan gue langsung menatap malas pada buku yang baru saja dia keluarkan.
"Lo bisa nggak jangan libatkan buku dulu."
Agam tersenyum kecut sambil menghembuskan kepulan asap rokok dari mulutnya. "Nggak bisa. Ini pacar kedua gua, setelah rokok."
"***."
"Yaudah B aja dong! Lo ngapain ngajak ngumpul di sini?"
"Ntar gua jelasin. Nunggu si Jin datang dul-"
Belum selesai gua ngomong, tiba-tiba Jin datang dengan tanpa sapaan pembuka, dia langsung datang nyerobot dan ngambil posisi duduk di hadapan gue. Mukanya setengah ****** merasa tak berdosa. Kadang gua muak ngelihat dua sepupu gue ini yang nggak bisa diatur dan lo pikir aja sendiri, betapa tersiksanya hidup gue bersepupuan dengan Jin dan Agam.
"Sori-sori. Gua telat!" kata Jin. "Bagi rokok dong, Gam." Jin tanpa basa-basi dia langsung meminta sebatang rokoknya si Agam. Si Agam diam aja, karena mau dijawab iya atau nggak pun, si Jin akan tetap ngambil tuh rokok.
"Lo kena tilang, Tri?" tanya Gue.
"Iya, mangkanya gua telat ke sininya. Gua kena tilang. Lo bayangin aja ya, tadi pagi kolor gua ilang, pas siangnya tadi di sekolah, gue dipanggil sayang-sayang ama banci-banci di sekolah, yang cowok kecewek-cewekan gitu. Gila aja bro, terus pulang sekolah malah ditilang. Yaudin, gua semaksimal mungkin baik-baikin tuh si polisi. Biasa gua sogok gitu, kan. Aman deh. Sumpah banget dah, hari ini gua ngerasa sial, bro." Jin mengoceh nggak jelas, gue cuma bisa menertawakan kesialannya di dalam hati.
"Lo punya dosa sih ama gua." Agam menimpal.
"Lah, dosa apa gua ama lo? Nih yah, yang gua tahu, makhluk yang baby face semacam gue ini, nggak pernah tuh ngelakuin dosa." Jin berujar songong. Alhasil, gua sama Agam langsung berdecak jijik.
"Anjay. Baby Face? Muka **** maksud lo?" gua langsung meledek Jin.
"Anjing lo!"
"Jadi selama ini, lo udah dinina-boboin ama dedek emesh lo, itu bukan dosa namanya?" Agam menimpal omongan gue, dan gue langsung terkekeh.
"Bukanlah. Kan itu mah bukan mau gua. Jadi, siapa yang dosa? Ya ibaratnya, gue ini termasuk orang yang selalu bersyukur, menerima apapun yang menjadi nikmat tersendiri buat gue. Tanpa gue minta kan? Kalau gue tolak, mubazir dong? Ya mana ada sih handphone lobet menolak chargeran? Ya nggak ada, entar jadi mati itu handphone dan nggak mungkin hidup lagi tuh handphone." Jin berujar sambil merokok.
"Buset. Perumpaan lo udah bawa hidup dan mati." Agam terkekeh
"Ya cuma itu yang gue tau pepatahnya. Daripada si Biru, masa bikin perumpaan tak ada puding yang tak retak. Itu lebih lucu, coy. Haha." Jin terbelakatak.
__ADS_1
"Sialan. Bukan gua yang nulis tuh, Tri!"
"Alah."
"Ya mana gua tahu. Selama ini kan gua kalau ada PR, gua nyuruh orang buat ngerjain, dan gua bayar dia pake uang. Jadi, gua mana tau dia isi begitu."
"Parah lo. Kapan mau pinternya coba." Agam malah menyindir gue.
"Nanti kalau udah naik haji." gua langsung to the point dan semuanya pun menertawakan kalimat gue ini. So, gue nggak ambil pusing. Biarin semuanya ngalir begitu aja.
Ya, kita memang pulang sekolah langsung ngumpul di starbucks, tapi kebiasan kita memang selalu apik kalau berurusan dengan tongkrongan. Gue pake jaket, begitu pun sama Jin dan Agam, hanya saja memang celana kita masih pake abu-abu. Kita nggak pernah terang-terangan pakai baju seragam SMA full dan nongkrong di starbucks macam sekarang. Kesannya terlalu formal. So, beginilah gaya hidup gua, Jin dan Agam. Pemikiran kita kadang berbeda, gesreknya pun berbeda, tapi ada satu pemahaman yang sama di kepala kita. Tentang ... Perempuan.
"Bir. Lo ngapain sih ngajak kita ke sini?" tanya Jin.
"Ada yang mau gua omongin."
"Soal?"
"Soal cewek."
"Anjay, jadi kita ngumpul di sini akan membahas soal makhluk bernama cewek? Ajib-ajib, tau gitu gue semangat nih dari awal." Jin bertepuk tangan pelan.
"Gecrek lu, giliran urusan cewek aja lu semangat!" sentak Agam.
"Apa hubungannya pele!" Agam menyeru pada Jin. Karena kalimat Jin sama sekali nggak begitu nyambung.
"Tapi bentar." Jin menjeda pembahasan topik setelah ia melihat ke luar jendela starbuck, pandangannya melihat ke arah motor gue. "Itu Ninja punya lo, Bir?" tanya Jin.
"Yoi. Kenapa?"
"Baru bukan?"
"Kenapa emangnya?"
"Kok gua baru lihat?" Jin menggaruk kepalanya yang seperti nggak gatal. "Lu beli di mana? Made in mana? China apa Jepang?" tanya Jin lagi.
"Gini, pas gua beli, tadinya kan gua nyobain yang dari China tuh ya, tapi gua ngerasa nggak puas. Agak gimana gitu. Dan setelah gua nyobain yang jepang, lo bayangin aja dari mesin-mesinnya aja udah aduhay bro, body-nya aja udah mantap. Ya gua beli deh yang jepang."
"Ajib gile, Miyabhi emang tak terkalahkan."
"Eh curut, kenape nyambung ke miyabhi? Lu ngomongin motor apa miyabhi? Kebanyakan nonton film anak-anak dewasa sih lu. Otak lo nggak bisa kekontrol." Agam menyentak.
__ADS_1
"Ya namanya juga anak laki baru gede. Wajar. Berarti gua normal."
"Katanya lu nggak pernah berbuat dosa. Nonton begituan ya sama aja lu nabung dosa! Dasar rorombeheun." Agam menimpuk kepala Jin dengan bukunya.
"Bodo amat!"
"Hm, kemarin lo kemana, Jin? Seharian kan lo nggak ada di rumah kemarin?" tanya gue, langsung mengalihkan pembicaraan.
"Oh itu. Gua abis nganterin si Indri."
"Ngapain?" Agam menimpal kalimat gue. "Diajak bobo cantik?" sambungnya lagi.
"Ngeres otak lo, Gam!"
"Ya apa bedanya ama elo! Ngomongin motor, nyambung ke Miyabhi!" Agam berdecak.
"Suka-suka dong."
"Udah-udah. Balik ke topik awal. Gue ke sini ngundang lo berdua kan cuma mau diskusi soal masalahnya gue nih ya." Gue langsung melerai perdebatan Jin dan Agam.
"Emang lo punya masalah apa?" tanya Jin.
"Iya, biasanya juga lo yang nyari masalah duluan, Bir," timpal Agam.
"Gua mau cerita sama lo berdua, tentang si Lovandra."
"Lovandra? Kayaknya gua nggak asing gimana gitu denger namanya." Jin memasang wajah memikirkan sesuatu.
"Lo nggak bakal kenal, Jin. Si Lovandra ini temen sekolah gue."
"Emang kenapa sama si Lovandra, Bir?" tanya Agam.
"Gue mau nembak dia buat jadi pacar gua. Menurut lo berdua gimana?"
,...............
Salam,
Jin Gayatri
__ADS_1
Tbc!