
Ada banyak hal yang belum semua orang tau tentang gue, dan dunia gue. Semenjak gue mengalami koma, gue bahkan merasakan pernah berada pada dimensi—yang gue pun kesusahan menjelaskan suasana dan tempatnya yang seperti apa. Intinya, gue harus paham, bahwa di dunia ini nggak ada orang yang paling sedih, atau orang yang paling bahagia. Semuanya hidup dengan kadarnya masing-masing. Gue bisa aja berubah jadi mellow, saat gue harus dipaksa mengingat kedua orangtua gue yang udah meninggal.
"Lovandra! Lo banyak berubah, ya. Gue perhatiin, lo sering ngomong sendiri tiap pagi, sama tiap pulang sekolah. Lo gila, ya?"
Salah satu temen sebangku gue bertanya hal yang menurut gue itu pertanyaan konyol yang pernah gue terima.
"Menurut lo?"
"Ya, aneh aja."
"Oh."
"Semenjak lo bangun dari koma, lo jadi aneh. Gue rasa, gue harus pindah duduk. Gue nggak mau sebangku ama lo." Dia menatap gue jijik. Dan itu membuat mood gue ancur berantakan. Seakan-seakan gue itu adalah makhluk teraneh di muka bumi ini.
Gue bodo amat.
Gak peduli.
Gue nggak mempersalahkan gue harus duduk ama siapa. Karena itu nggak penting. Kemudian, tanpa gak sengaja gue noleh ke arah si Biru. Dia juga ngelihatin gue. Dia bahkan tau, kalau gue baru saja dapat hinaan dari mantan teman sebangku gue. Tapi diam aja. Abis itu, gue mengalihkan pandangan. Setidaknya, walaupun komuknya si Biru menggoyahkan seluruh iman di dada, tapi gue rasa gue harus tau diri. Dan detik ini juga, gue akan berhenti untuk menjadi pengejar seorang Biru Aksaraditya. Dia juga mungkin gak akan keberatan kehilang satu fans macam gue ini, toh dia punya ribuan cewek yang jauh lebih cantik kemana-mana daripada gue.
So, gue nyerah.
Gue mengalah.
Tapi bukan berarti gue lemah. Gue sama sekali nggak akan pernah mau lagi seribet dulu—yang betapa mirisnya hidup gue. Tapi, gue saat ini cukup menikmati alur cerita ini sampai pada akhirnya gue sendiri gak tau akan berujung seperti apa.
Gak ada guru!
Gue bete! Akhirnya, gue memutuskan untuk keluar kelas. Gue rasa, Petra juga melakukan hal sama. Ini pelajaran pertama, dan kabarnya guru-guru sedang mengadakan rapat, otomatis pelajaran pertama pasti akan kosong. Nggak ada salahnya jika gue harus keluar kelas.
"Lovandra lo mau ke mana?" tanya Regi si ketua kelas.
"Mau ketemu Petra bentar. Gue nggak lama. Nanti pasti gue balik lagi di jam pelajaran kedua."
Saat gue bilang kayak gitu, semua teman-teman sekelas gue langsung diam tanpa sepatah kata lagi. Gak ambil pusing dengan tatapan mereka, gue pun keluar kelas.
***
Saat gue berjalan menuju arah kantin, pandangan gue langsung menemukan di mana Petra berada. Ya, dia sedang berada di pojok kantin, yang letaknya agak lumayan sepi, cuma ada beberapa orang aja, tapi itu pun cuma lewat-lewat doang. Entahlah, kali ini gue bisa ngerasain bagaimana berubahnya tuh bocah satu. Setahu gue, dulu dia orang yang paling jahil, tapi agak pendiem juga, sedikit kaku, tapi senyumnya emang manis banget. Namun, dia gak seterkenal Biru aja, mangkanya gue nggak pernah engeuh sama keberadaan dia-yang ternyata dia cukup menyenangkan orangnya.
Gue samperin dia.
Tatapannya frustasi, gue lihat rambutnya pun sedikit berantakan. Entahlah gue nggak tau apa yang terjadi sama dia.
"Rambut lo gondrong, ya. Cukur dong!" ledek gue tanpa kata basa-basi. Pembuka obrolan yang cukup santai.
"Nggak, ah. Gua lebih keren kayak gini."
"Masa?" gue malah meledeknya, dia tersenyum tipis, namun senyumnya terlihat berbeda. "Lo kenapa?" gue langsung bertanya, karena menurut gue, ada sesuatu yang sedang Petra pikirkan.
"Gua nggak apa-apa."
"Lo bohong, ya."
"Enggak."
"Gue tau lo lagi bohong sama gue. Ayolah cerita. Siapa tau kan gue bisa bantu lo, Tra."
"Nggak, Van. Gua gak apa-apa. Serius, gua nggak bohong." Dia seolah meyakinkan gue. Dan ya, gue nggak terlalu mau mempermasalahkan hal itu.
"Iya, deh. Btw, lo laper nggak? Ke kantin, yuk. Jangan di sini."
"Tapi gua nggak laper."
"Aish. Kenapa? Lo lagi diet, ya?"
"Nggak. Gue udah terlalu kenyang, Van."
"Lah, kenyang kenapa?"
"Kenyang lihat senyum lo. Udah manis, pelipur lapar lagi." Dia cengengesan. Lama-lama gue jitak juga kepalanya.
__ADS_1
"Bilang aja kalau lo lagi bokek."
"Nggak. Uangmah banyak, Van. Sumpah. Sampai gue aja nggak tau bagaimana cara ngabisinnya."
"Anjing lo!"
"Gak ada anjing yang seganteng gue, Van."
"Tayi!"
"Nggak ada juga tayi yang semanis gue, Van."
"Terserah lo deh."
"Dah ngambek." Dia malah mengacak-ngacak rambut gue. Gue pun cuma bisa cemberut.
Dia nggak tau, bagaimana susahnya gue mengontrol mood pada saat menstruasi seperti sekarang ini. Ya, bukan hanya tantangan tersendiri buat gue, di hari pertama gue masuk sekolah lagi, di hari itu juga siklus bulanan gue datang. Ditambah lagi, gue eneug ama beberapa temen sekelas gue, yang ngatain gue menjadi manusia yang sangat tidak waras setelah bangun dari koma. Yakali, hidup gue emang ancur. Pertama, gue hampir mati. Kedua, gue kehilangan kedua orangtua gue. Ketiga, gue nggak tau bagaimana kejadiannya gue bisa kecelakaan, karena memory gue ilang. Dan yang terakhir, emang menguntungkan sih buat gue, gue jadi lebih deket sama Petra. Karena cuma dia yang nyambut gue di sekolahaan dengan senyum ramah, bahkan dia yang ngerubah suasana tegang yang ada di hati gue.
Gue salut ama dia.
Tapi kenapa nggak dari dulu aja ya kita deket. Sayangnya, gue seperti terkunci oleh pesonannya si Biru. Iya, gue inget sama si Biru, hati gue bilang kalau gue tuh kayak semacam punya perasaan lebih ke Biru. Tapi, entahlah susah buat dijelasin. Intinya mungkin, gue kagum sama si Biru. Sampai detik ini. Cuma, gue agak lebih jaga sikap kalau seandainya ada moment di mana si Biru ngedeketin gue. ****, gausah banyak ngayal, Van. Lo itu siapa, dia siapa. Jauh kemana-mana.
Gue sama Biru, nggak akan pantes. Tapi kalau gue sama Petra? Duh.
"Van?" Petra menggil gue, dan nadanya cukup lembut terdengar di telinga gue.
Posisi kita saat ini hanya duduk di lantai koridor, dengan berbagi earphone dan menikmati serentetan lagu kesukaaan gue. Asli Petra emang bikin gue nyaman. Tapi kadangkala, posisi ini membuat beberapa temen-temen yang lihat cuma menatap gue jijik. Bodo amat. Peduli setan sama tatapam mereka. Gue sama Petra gak peduliin itu semua.
"Kenapa, Tra?"
"Gua mau pindah sekolah."
Otomatis gue langsung mendongak kaget, dan langsung nyimak dengan serius. "Lo mau pindah sekolah? Kenapa?"
"Hm. Gue pengen sekolah STM, Van. Tapi gue malah nyungseb di IPS. Gue pengen aja sekolah STM," ucapnya cengengesan.
"STM? Sekolah Topeng Monyet?" spontan gue, Petra langsung menghela napas kasar.
"Yeh, baperan."
"Gua serius." dan wajahnya langsung kembali serius natap gue. "Gua mau pindah sekolah," katanya meyakinkan gue.
"Lo mau ninggalin gue?"
Dia menggelengkan kepala. "Nggak. Kita kan bisa ketemu di luar sekolah."
"Tapi gue takut lo sibuk sama sekolah lo yang baru."
"Nggak akan, Van. Percaya ama gue."
"Apa jaminannya?"
"Halte depan sekolah kita. Lo bakal selalu nemuin gue di sana."
"Tapi gue trauma sama tempat itu."
"Iya, gue tau. Tempat itu kan nggak jauh ya dari tempat lo kecelakaan waktu itu."
"Iya, tuh lo tau."
"Trauma itu jangan didiemin, Van. Lawan aja."
"Hm. Oke deh."
"Yaudah, gua cabut ke kelas, ya. Perbesok gue udah pindah sekolah. Jadi setiap pulang sekolah kita ketemu aja di halte."
"Kok secepat itu sih, Tra?"
"Gua cabut dulu ke kelas. Entar gua kabarin. Dah!" Petra menepuk bahu gue, dan dia langsung lari ngibrit ke kelas.
Tuh kan, gue ngerasa emang ada yang beda sama itu tungir satu.
__ADS_1
Tiba-tiba salah satu temen gue membuyarkan pandangan gue yang fokus menatap punggung Petra yang semakin menujauh.
"Eh Vandra!" panggilnya.
"Kenapa lo?!" gue sinis jawabnya, karena tatapan mereka seperti menistakan diri gue. Seakan-seakan gue tuh sangat buruk di pandangan mereka.
"Lo gila ya ngomong sendiri! Seharusnya lo masuk rumah sakit jiwa!" makinya, dan itu berhasil membuat emosi gue memuncak.
Gue diem.
"Bangun dari koma, lo jadi aneh. Sering ngomong sendiri! Udahlah lo minggat aja dari sekola ini dan daftarlah ke rumah sakit jiwa. Haha."
Mereka semakin memaki gue. Gue masih diam, tapi nggak bisa dipungkiri kalau emosi gue udah naik ke ubun-ubun.
"*******! Diam lo semua!" secara tiba-tiba ada sosok cowok yanh sigap seakan-seakan menjadi penolong buat gue yang terlihat seperti bakteri diantara yang lain.
"Dih, sekarang si Biru ngebela Vandra."
"Kenapa? Ada yang salah?"
"Bukannya lo dulu ogah-ogahan ya sama si Vandra! Haha, heloo, apa jangan-jangan lo iba sama si Vandra, karena lo berhutang nyawa sama si Vandra. Vandra kan udah nyelamatin nyawa elo, Bir," katanya. Biru langsung terpancing emosi.
"Bubar! Kalian bubar!" Biru langsung menyentak, dan sebagian dari mereka pun berlalu dengan tatap yang masih saja mengintimidasi ke arah gue.
"Bir, stop. Gue rasa lo nggak perlu lakuin ini."
Biru langsung menoleh ke gue. "Kenapa?"
Sumpah, kalimatnya emang biasa aja, tapi bikin hati gue seakan bahagia tiada tara. Namun, ada satu fakta yang sekarang gue tau, apa mungkin maksud dari Biru berhutang nyawa sama gue-dari apa yang dikatakan mereka itu, ada sangkutpautnya dengan kecelakaan gue? Entahlah, gue masih menerka-nerka.
"Jangan tanya kenapa, gue cuma nggak mau habis ini gue jadi dimusuhin sama fans-fans lo yang bejibun." dengan polosnya gue bilang kayak gitu.
"Lo tenang aja."
"Sori nih, Bir. Gue bukannya sok jual mahal. Ya siapa sih cewek yang nggak mau dapat perhatian lebih dari lo. Cuma, gue ngerasa harus jaga jarak sama lo."
"Lo santai aja lagi."
"Nggak bisa. Gue nggak bisa santai."
"Hm, Van, lo sama sekali nggak inget sama kecelakaan yang terjadi sama lo?"
"Nggak. Kenapa lo nanya kayak gitu?"
"Nggak, gue cuma nanya."
"Udahlah, gua mau cabut. Gak penting juga kan bahas apa-apa soal gue." Gue langsung berlalu dari hadapan Biru. Entah, gue ngerasa jantung gue berdetak dengan irama yang berbeda. Bukan sejenis, dag-dig-dug saat jatuh cinta, tapi trauma kecelakaan itu seakan muncul lagi saat menatap mata Biru.
Apa yang terjadi sama gue?
"Vandra!" panggilnya, dan gue berhenti berjalan. Gue nyempetin noleh ke arah Biru.
"Kenapa?"
"Pulang sekolah gua antar lo pulang, ya?"
Sumpah demi apapun juga. Itu adalah kalimat yang berhasil membuat gue melayang jauh ke angkasa. Cuma, sekali lagi, tatapan Biru bikin trauma kecelakaan itu hadir lagi. Membuat gue semacam dihantui rasa takut, dan ujung-ujungnya gue jadi inget sama bokap nyokap.
"Sori, Bir. Gue ada janji sama Petra."
Biru langsung memasang wajah datar. "Lo harusnya tau, Van, Apa yang sudah terjadi sama Petra. Tapi, kenapa lo nggak nyadar juga?"
Gue mengernyit. "Kenapa sama Petra? Dia baik-baik aja. Dan gue tau dia."
"Petra udah gak ada di sini."
"Iya gue tau." ya, gue tau kalau Petra emang mau pindah sekolah. Sebelum Biru tau pun, mungkin Petra sudah lebih dulu ngasih tau ke gue. Pada intinya, gue udah tau ini.
"Maksud gue, Petra kan udah—"
"Udah stop, nggak perlu ada yang lo omongin lagi. Gue mau cabut." gue berhasil memotong kalimatnya. Dan, gue ngerasa jadi sok cantik setelah menolak mentah-mentah ajakan cowok terhits di sekolah, karena alasan gue ada janji ama Petra. Yaudahlah, peduli amat sama Biru, dia juga nggak akan kecewa kalau ditolak cewek macem kayak gue gini.
__ADS_1