Dimensi Memory

Dimensi Memory
FLASHBACK 3


__ADS_3

Lovandra sama sekali tidak merasa bersalah pada kedua orangtuanya. Ia hanya fokus menyiapkan rencana untuk memberikan kejutan ulang tahun lagi untuk Biru. Seperti tidak ada kapoknya bagi Lovandra. Jelas-jelas pagi tadi ia mendapatkan penolakan dari Biru. Lovandra memang anak yang polos, ia terlalu percaya pada dirinya.


"Maaf, bukannya aku ambisius pengen milikin kamu, Bir. Tapi yang aku rasain tuh semacem gue pengen nunjukkin yang terbaik buat lo. Gue pengen elo bahagia. Tapi gue lapang dada, dan gue gak berharap lo juga harus punya rasa yang sama. Ya, semacem itulah."


Berbagai bentuk penolakan dari Biru, sama sekali tidak membuat Lovandra menyerah. Meski terkadang terasa penolakannya itu membuat Lovandra sakit hati. Tapi, tetap cintanya Lovandra lebih besar dari apa pun. Terlihat seperti ambisius, memang. Namun, Lovandra tidak sama sekali menyuruh Biru untuk harus juga merasakan hal yang sama.


Kini hari telah berganti malam. Lovandra saat ini sudah tidak lagi di rumah kosong milik kedua orangtuanya. Ia saat ini sedang berada di toko kue bolu ulang tahun. Rasanya gadis itu memang begitu lugu. Ia sama sekali tidak peduli dengan apa yang akan terjadi nanti. Jika nanti yang hanya dia dapatkan hanya penolakan? Apa hatinya akan semakin hancur? Atau malah ia akan semakin mencintai Biru. Sungguh, cinta membutakan semuanya.


"Mungkin Biru suka sama kue yang ini." Lovandra menunjuk salah satu kue yang terpajang tersebut. "Saya pesan yang ini ya, Mas." Lovandra langsung memesan kue tersebut kepada si pelayan toko.


Lovandra pun langsung berjalan ke tempat kasir.


"Ini kue nya, Mbak. Harganya 200 ribu," katanya.


"Oh, iya." Lovandra membuka dompet dan membayarnya dengan tunai.


Kasir tersebut tersebut tersenyum ramah. "Uangnya saya terima ya, mbak."


Lovandra mengangguk.


"Kuenya buat pacarnya ya, mbak?"


Mendengar pertanyaan tersebut Lovandra hanya tersenyum tipis. Ia langsung berpikir dan menerka kalau Biru punya status apa dalam hidup seorang Lovandra? Kemudian, Lovandra tersadar, bahwa dirinya bukanlah siapa-siapa untuk Biru.


"Bukan, Mas. Ini bukan buat pacar saya." Dengan senyum terpaksa Lovandra melontarkan jawaban tersebut.


"Terus buat siapa? Pasti buat sahabatnya, ya?"


"Bukan, Mas."


"Oh. Terus buat siapa?"


"Buat orang yang saya sayang."


"Hm. Iya. Semoga orang yang Mbak sayang suka sama kuenya, ya. Saya doakan lancar."


Lovandra hanya mengangguk dan tersenyum mendengarkan si kasir yang tampak bawel tersebut. Kemudian, Lovandra berjalan keluar toko dengan langkah kaki yang seperti ragu-ragu. Dalam pikirnya pun kembali mengulang pertanyaan yang sempat dilontarkan si pelayan toko tadi.


"Apa caraku selama ini salah?"

__ADS_1


Lovandra bertanya pada dirinya, kemudian sesekali menatap box kue yang dibawanya.


"Apa jatohnya, aku ini semacam fanatikĀ  sama Biru? Tapi, aku sama sekali bukan bermaksud untuk Biru juga harus suka sama aku. Enggak. Enggak gitu padahal. Aku tuh kayak gini, yaa sesuai dengan apa yang harus aku lakukan. Aku suka sama Biru. Suka ya suka, aku gak bisa mendeskripsikan dengan detail rasa suka ini seperti apa. Terus, status Biru dalam hidup aku tuh apa? Itu yang sekarang bikin aku down. Apa aku harus berubah? Kadang aku juga berpikir, apa faedahnya aku begini? Tapi aku mikir lagi, aku cuma pengen bikin Biru seneng. Pengen bikin dia tertawa. Dan yang menjadi alasan dia bahagia itu, ya aku." Lovandra bermonolog dengan dirinya sendiri, sambil berjalan menelusuri jalanan yang cukup sepi, namun masih tetap ada beberapa kendaraan yang melintas.


"Cara lo nggak salah sih, Van." tiba-tiba terdengar suara di belakang Lovandra.


Lovandra menghentikan langkahnya dan langsung menoleh ke belakang.


"Petra?"


"Hm." Petra tersenyum tipis.


"Ngapain?"


"Apanya yang ngapain?"


"Maksud gue, kok lo bisa ada di belakang gue?"


"Gue sengaja ikutin lo."


"Buat apa ngikutin gue?"


"Alasannya apa pengen mastiin gue bahagia? Gue bahagia, kok."


"Alasannya, semacem gue pengen bikin lo bahagia, gue pengen bikin lo seneng, gue pengen nunjukin yang terbaik aja buat lo," kata Petra dengan gayanya yang cool.


Lovandra mengernyit tak mengerti.


"Kayaknya, lo nggak perlu deh repot-repot begitu."


"Kenapa?"


"Kedengerannya agak risi," kata Lovandra.


Petra pun tersenyum kecut. "Terus, lo sadar nggak barusan? Jawaban lo mewakili perasaan Biru."


"Ma-maksud lo?" Lovandra tidak mengerti yang dimaksud Petra.


"Lo nggak usah repot-repot nunjukin yang terbaik buat si Biru. Lo udah berjuang selama ini, tinggal nantinya lo akan dapat hasil yang kayak gimana, ya tunggu aja."

__ADS_1


Lovandra berpikir sejenak. Ia mulai memahami apa yang dibicarakan Petra. "Terus, yang gue lakuin selama ini salah?"


"Nggak juga."


"Terus?"


"Gue cuma berdoa yang terbaik buat lo."


"Kenapa kok lo ngomong gitu?"


"Gue nggak bisa bilang kalau Biru itu yang terbaik buat lo. Tapi bukan berarti gue bilang kalau Biru itu yang terburuk buat lo," kata Petra dengan suara khasnya yang serak-serak basah.


"Hm. Iya. Thanks. Gue tau lo care sama gue." ada raut wajah Lovandra yang menunjukkan; bahwa apa yang dikatakan Petra itu ada baiknya.


"Lo mau ngasih kue bolu itu ke Biru?" tanya Petra.


Lovandra mengangguk. "Iya."


"Lo tinggal lurus aja, terus belok ke kiri, di sana ada kafe tongkrongan anak muda. Tadi gue abis dari situ, di sana ada Biru. Dia masih belum pulang, dia masih di sana sama anak-anak sepenongkrongan yang lain." Petra menunjukkan jalan pada Lovandra.


"Oke. Thanks ya, Pet. Gue langsung ke sana aja kali, ya. Lo mau ikut?"


"Nggak. Lo aja. Gue nggak ikut."


"Kenapa?"


"Tadi kan gue abis dari sana."


"Oh, yaudah. Gue ke sana, ya."


"Iya. Semoga sukses!" Petra tersenyum.


"Oke!" Lovandra mengangkat ibu jarinya.


Petra melihat punggung Lovandra yang menjauh dan berjalan menuju arah utara.


Petra tersenyum tipis, "Sori, Van. Seharusnya gue nggak ngasih tau si Biru ada di mana. Tapi, gue mau bikin lo sadar. Bahwa perjuangan lo cuma sia-sia."


Tbc

__ADS_1


__ADS_2