Dimensi Memory

Dimensi Memory
PAHIT (FLASHBACK 1)


__ADS_3

Gue sama Jin cukup menikmati perjalanan menuju rumah Petra. Sampai pada akhirnya, gue sampai tepat beberapa meter dari rumah Petra. Tapi, ada sesuatu yang janggal di sana. Gue melihat ada beberapa perkumpulan orang yang duduk, dan memanjatkan sebuah doa.


"Kok rame, ya?" gue heran.


"Mungkin ada acara selametan?" Jin menebak.


"Coba bentar gue tanyain," Gue langsung sigap bertanya pada beberapa orang yang berjalan ke arah rumah Petra.


"Bu, itu ada apa ya kok rame-rame?" gue bertanya sambil menunjukkan pandangan ke arah rumah Petra.


"Oh itu. Mereka lagi ngadain 100 hariannya kepergian salah satu anggota keluarga mereka," jelas ibu-ibu tersebut.


Gue mengernyit aneh.


"Emangnya siapa yang meninggal?" gue semakin penasaran, dan sejauh ini Petra nggak cerita apa-apa soal keluarganya ke gue.


"Mas Petra Pribadi, Neng. Dia sudah meninggal 100 hari yang lalu, karena kecelakaan," jelasnya.


DEG!


APA GUE SALAH DENGER?!


Seketika gue terkejut bukan main. 100 hari? Selama itukah? Tapi gue nggak tau soal ini. Dan, kemarin-kemarin orang yang bertemu sama gue mengatasnamakan Petra dengan wajah sama persis seperti Petra, itu siapa?


"Petra sudah meninggal? Dan itu acara 100 hariannya? Ibu lagi nggak bercanda, kan?" gue bertanya lagi, berusaha meyakinkan diri.


"Iya. Awalnya pihak keluarganya nggak memublikasikan kematiannya. Lagipula yang saya denger, semua teman sekolahnya pun disuruh bungkam soal kematian Mas Petra. Karena, itu permintaan terakhir Mas Petra," jelasnya, lagi.


Gue berasa lemas. Lutut gue bergetar, dan otak gue langsung kakuk mengartikan kejadian-kejadian kemarin. Petra udah meninggal, yang kemarin gue temuin itu siapa?


"Ada yang mau ditanyain lagi, neng?" tanyanya.


Gue menggeleng. "Enggak. Makasih ya, Bu."


Lantas, Ibu-ibu itu langsung berjalan ke arah rumah Petra. Gue masih terdiam tak berkutik sedikit pun.


"Lo kenapa?" tanya Jin.


"G-gue nggak kenapa-napa."

__ADS_1


Jin meraih tangan gue, dia seakan tahu kecemasan gue. Dan gue menoleh ke arah Jin. Nggak bisa gue pungkiri, gue menangis. Gue masih syok. Gue nggak tau kalau Petra udah meninggal. Dan gue sadar, selama ini teman-teman gue yang nganggap gue suka ngomong sendiri itu benar. Apa mungkin gue gila?


"Gue nggak tau, kenapa seaneh ini." Gue menangis sesegukan di depan Jin.


Tangan kanan Jin mengenggam tangan gue, sementara tangan kirinya memegangi pipi gue, sesekali Jin mengusap air mata gue dengan Ibu jari tangan kirinya.


"Nggak usah nangis. Sini gue peluk biar lo tenang."


Jin langsung memeluk gue, dan gue merasakan hal yang begitu nyaman. Pelukan Jin membuat gue sedikit lebig tenang.


Dan seketika kepala gue terasa berat dan sakit. Kemudian, otak gue memutar beberapa memory yang mencekam.


Dan ...


Flasback on


"Kita tidak pernah tau, kapan cinta itu datang, 'kan? Kita juga nggak akan pernah bisa dengan mudahnya melupakan seseorang yang amat sangat kita cintai, 'kan? Itu yang mau gue jelasin sama lo. Makanya, gue nggak pernah mau bosen untuk selalu berjuang. Tapi emang kesannya gak pantes sih, kalau cewek yang ngejar-ngejar cowok duluan. Tapi, gue nggak peduli orang lain mau ngomong apa soal gue."


Seorang gadis SMA bernametag Lovandra Shelia tampak begitu semangat membawa sebuah kado yang berukuran sedang. Ini tentu masih pagi, sekitar jam 6. Tapi, Lovandra telah sampai duluan ke sekolah. Dia mengukir senyum, mood-nya terbilang cukup bagus. Ya pastinya, Lovandra selalu menampakan wajah gembiranya jika berhubungan dengan sosok cowok yang bernama Biru Aksaraditya.


Ya, hari ini adalah hari ulang tahun Biru. Cowok yang selama ini ditaksir oleh Lovandra. Seluruh warga sekolah pun tahu, kalau Lovandra sangat menyukai Biru. Padahal, Biru bukanlah sosok teladan, bukan pula sosok yang seperti ketua osis. Biru hanya murid yang terbilang acuh tak acuh soal peraturan sekolah. Biru bukanlah anak organisasi. Hanya saja, Biru cenderung bersikap apa adanya, itu yang membuat Lovandra jatuh cinta pada Biru.


Lovandra berkhayal jauh, berharap Biru menerima apa yang telah ia buat dengan susah payah, sampai rela tidak tidur semalaman hanya untuk membuatkan kado untuk Biru.


Sudah hampir 2 tahun ini, Lovandra tidak pernah lelah untuk menyatakan perasaan sukanya terhadap Biru. Dari sejak pertama kali duduk di bangku SMA, sampai detik ini ia sudah duduk di bangku kelas sebelas semester akhir. Sungguh perjuangan yang cukup panjang. Namun, Lovandra tidak menyerah begitu saja. Ia masih tetap yakin dengan hati dan perasaannya.


Kemudian, Lovandra menjadi tidak tenang. Waktu sudah menunjukkan pukul 7 tepat. Semua murid telah berdatangan untuk mengikuti aktivitas sekolah seperti biasanya.


Dan, sebelum bel masuk pelajaran berbunyi. Lovandra yang menengok ke arah jendela kelas, menemukan adanya Biru di lapangan basket-yang sedang bermain basket karena jam pelajaran pertamanya di mulai dari olahraga. Lovandra bergegas berlari kecil keluar kelas dan menghampiri Biru yang tengah asyik di sana.


"Biru,"


"Bir,"


"Biru."


Lovandra memanggil Biru, namun Biru tak menggubris. Tak ambil pusing, Lovandra pun menghampiri Biru lebih dekat lagi.


"Bir, itu tuh si Lovandra manggilin elu," bisik salah satu teman Biru. Biru tampak acuh.

__ADS_1


"Udahlah, biarin aja."


"Dia bawa kado."


"Bodo amat, gue nggak peduli. Udahlah, cuekin aja. Lanjut main basketnya." Biru sama sekali tidak mau menghiraukan antusias Lovandra. Biru malah asyik bermain basket, dan bersikap acuh, seakan tak sudi melihat Lovandra yang meneriakinya di belakang.


Setelah tepat Lovandra berdiri di belakang Biru. Lovandra menepuk bahu Biru dengan pelan.


"Bir," panggi Lovandra pelan.


Biru menoleh santai, "iya?"


"Selamat ulang tahun, ya. Ini kado buat kamu. Aku bikin ini spesial buat kamu. Aku rela nggak tidur semaleman cuma buat ini. Semoga kamu suka." Lovandra dengan polosnya memberikan hadiah itu untuk Biru, namun Biru tidak menunjukkan ekspresi senang sedikitpun. Datar. Dan nyaris seperti tidak suka dengan sikap Lovandra yang seperti ini.


Salah satu teman Biru, yang ber-nametag Petra Pribadi, hanya melihat Lovandra dengan tatapan iba.


"Gua nggak butuh." Biru menepis kado tersebut, dan membuat kado itu terjatuh. Biru enggan untuk menerimanya.


"Lho, kenapa?" Lovandra masih polos dengan pertanyaannya.


"Lo masih tanya kenapa?" Biru berujar dingin. Raut wajah Lovandra berubah menyedihkan, mungkin menahan malu karena saat ini menjadi tontonan seluruh warga sekolah. "Gue cuma nggak butuh kado dari lo. Jadi, gua buang. Karena gak berarti buat gua," sambung Biru.


"Yaa tapi 'kan-"


"Gua nggak peduli." Biru berhasil memotong pembicaraan Lovandra. Biru langsung acuh membelakangi Lovandra dan fokus pada permainan basketnya.


Lovandra menatap dalam punggung Biru. Perasaannya berulangkali kecewa. Tapi ia berusaha untuk tersenyum.


Lovandra mengambil kado yang terjatuh tersebut.


"Bir, kamu mungkin nggak akan tau, aku kecewa pun nggak akan pernah bisa membenci kamu. Kamu mungkin risi, aku terkesan seperti ambisus ingin miliki kamu. Tapi, aku bersikap seperti ini karena aku tulus." Lovandra berujar dengan suara yang seperti menahan tangis.


Namun, Biru tak menghiraukan.


Karena merasa tak dianggap, Lovandra pun berlari pergi meninggalkan tempat ini.


TBC!


Note; kita sudah memasuki masa Flashback. . Dan, flashback itu pake POV author yaw..... Wkwkwk

__ADS_1


Koment!!!


__ADS_2