
*Gak nyangka ternyata udah eps ke 100 aja. Makasih buat yang masih setia baca🥰😘
.
.
Merasa di panggil, sang Papa pun menoleh, mendapati putranya berdiri di hadapannya saat ini. Dia mendekat, memeluk erat sang putra, menyalurkan kepedihan yang baru saja dia rasakan.
"Mama, Al. Mama sudah pergi," ucapnya.
DEG
Bagai tertusuk belati, tiba-tiba dadanya bergemuruh mendengar ucapan sang Papa. Kaki tak lagi mampu menopang tubuhnya, hampir saja dia terjatuh jika sang Papa tak sigap memeluknya. Ikut bersimbah di lantai, masih setia memeluk tubuh sang putra yang begitu rapuh. Sebenarnya dia sama rapuhnya, tapi dia berusaha tegar karena ini sudah takdir Tuhan.
Kesadaran Al kembali hadir, sekuat tenaga mencoba berdiri, berlari menerobos orang-orang disana, bahkan dia tak peduli dengan dokter dan para tenaga medis yang masih berada dalam ruangan. Melepas semua peralatan yang tadinya terpasang di tubuh sang Mama.
"Ma, bangun Ma!" Serunya, menggoncang tubuh sang Mama yang pucat pasi.
"Mama jangan becanda Ma!" rancaunya, masih mengguncang tubuh tak bernyawa di hadapannya.
"Enggak mungkin, ini pasti mimpi," lirihnya, tertunduk memeluk erat tubuh wanita cinta pertamanya.
Air matanya banjir, mengalir hingga membasahi baju pasien yang dikenakan sang Mama. Tak kuasa berucap sepatah kata pun, sebab tangisnya semakin menjadi.
Papa Davit memeluk sang putra dari belakang, air matanya pun sudah terjatuh sejak tadi, sejak pertama dokter mengatakan jika nyawa sang istri tak terselamatkan.
"Mama sudah tidak sakit lagi Al, dia pasti bahagia disana," tuturnya, mencoba menguatkan sang putra.
Al menggeleng, dia belum percaya dengan semua yang terjadi. Seakan semuanya seperti mimpi. "Bialang kalau ini cuma mimpi Pa," lirihnya, sakit sekali jika sang Papa mengatakan ini kenyataan dan bukan mimpi.
__ADS_1
"Ini bukan mimpi Al, ikhlaskan Mama ya, biar jalannya mudah. Lihatlah di wajahnya sudah tak menyimpan rasa sakit, Mamamu sudah bahagia disana Al," menguatkan sang putra dan juga dirinya sendiri.
Icha yang sedari tadi menangis di pelukan sang Mama, hatinya kembali teriris kala melihat sang suami lebih terluka. Seakan merasakan apa yang dirasakan suaminya. Dia masuk kedalam ruang rawat itu di tuntun sang Mama. Mendekat kearah suami dan mertuanya.
Papa Davit melepas pelukan pada putranya saat menyadari sang menantu sudah berada di hadapannya.
Al pun beralih memeluk tubuh wanita kedua yang amat dicintainya setelah sang Mama. Menumpahkan segala kesedihan yang melanda jiwa. Dia harus kuat demi wanita yang sedang ia peluk dan juga janin yang di dalam kandungannya, apalagi kondisi wanita itu saat ini sedang kurang baik.
"Sabar sayang, Mama sudah tenang disana, kita doakan sama-sama," mencoba menguatkan sang suami padahal dia tahu dirinya pun tak sekuat itu jika berada di posisi suaminya saat ini. "Kalau kita bersedih maja pasti akan ikut sedih, ikhlaskan kepergia Mama, karena Mama sendiri pun sudah ikhlas dengan takdir ini," tambahnya, masih memeluk erat tubuh suaminya.
Al mengangguk, dia tak dapat berucap sepatah kata pun. Hatinya sedikit lega mendengar penuturan lembut sang istri. Pelukan mereka terlepas kala tenaga medis masuk kedalam ruangan.
"Permisi, kami harus membawa jenazah ke keluar, karena ruangan ini akan segera di bersihkan. Silahkan selesaikan administrasinya, baru bisa membawa jenazah keluar dari rumah sakit ini," ucap tenaga medis dengan sopan.
Mereka pun keluar ruangan, memandang tubuh kurus yang telah memucat dan tertutup oleh kain putih itu di bawa keluar dari ruangan.
Al kembali memeluk tubuh sang istri, karena saat ini tempat yang paling nyaman adalah di dekapan sang istri.
▪︎▪︎▪︎▪︎
Selama perjalanan, Icha tak melepaskan dekapan sang suami yang terlihat rapuh. Meski air matanya telah mengering, namun raut kesedihan masih terpancar jelas di wajahnya, membuat Icha tak mau melepaskan dekapannya.
Icha terpaksa harus ikut pulang, dengan segala permohonan pada rumah sakit karena kondisinya yang belum membaik dengan catatan dia harus banyak beristirahat dan tidak memikirkan sesuatu yang bisa membuat tubuhnya lemah. Icha pun menyetujuinya, karena dia tidak mau melewati hari ini tanpa sang suami di sisinya. Sang suami sedang membutuhkannya, membutuhkan ketenangan dan kasih sayangnya.
Sampai di depan rumah, ternyata sudah banyak karangan bunga yang berjejer hingga samapi depan pagar tetangga. Karangan bunga bela sungkawa, karena kepergian sang Mama sudah di ketahui oleh seluruh rekan bisnis Papa dan Papa mertuanya.
Al berjalan gontai memasuki rumah, dengan tangan yang terus menggenggam jari-jemari sang istri. Di depannya ada beberapa orang yang membawa peti sang Mama.
Sebelum di kebumikan, jenazah akan di mandikan dan di sholatkan dulu di kediaman keluarga Al. Banyak sekali yang ikut menyolati jenazah, karena sebagian pelayat ada mengikutinya.
__ADS_1
▪︎▪︎▪︎▪︎
Saat ini mereka sudah berada di makam, beberapa menit yang lalu, jenazah sudah di masukkan kedalam liang lahat. Masih dalam proses menutup makam dengan menimbun tanah yang berada di sekelilingnya.
Al tak kuasa melihat itu, dia benar-benar belum siap sepenuhnya jika sang Mama telah tiada. Seakan tak percaya jika di bawah sana ada sang Mama yang terbaring, perlahan-lahan makam tertutup oleh tanah membuat Al seakan ingin menggali kembali tanah yang menimbun tubuh sang Mama.
Icha masih setia memeluk erat tubuh sang suami, di sebelahnya ada Nayla yang juga menenagkan dua sejoli itu. Tak hanya itu beberapa teman dan sahabat mereka pun datang untuk mengantarkan Mamanya ke peristirahatan terahirnya.
Semua orang silih berganti meninggalkan makam, setelah doa selesai di panjatkan oleh pemuka agama. Hanya ada keluarga yang tersisa dan beberapa teman Al dan Icha.
Al berjongkok di depan makam sang Mama, dia mengusap nisan yang baru saja tertancap beberapa menit yang lalu, "Ma, istirahatlah dengan tenang, doaku selalu menyertaimu Ma. Aku ikhlas sekarang, karena Mama pasti bahagia disana," lirihnya masih dengan linangan air mata.
Icha ikut berjongkok di sisi sang suami, dia memeluk pinggang sang suami, meletakkan kepalanya di pundak sang suami, air matanya juga masih menetes meski sudah sedikit berkurang.
"Ayo kita pulang, Mama pasti sudah tenang disana. Maka akan ikut bersedih jika kita masih larut dalam kesedihan," tuturnya, mengajak sang suami meninggalkan pemakaman.
Al mengangguk, dia menuntun Icha untuk bangkit dan melangkah meninggalkan makam tersebut. Hanya tertinggal sang Papa, mereka memberi ruang pada sang Papa untuk sendiri.
Al dan Icha berjalan keluar area pemakaman menuju mobil yang terparkir di luar pemakaman. Saat akan masuk mobil, keduanya di kejutkan dengan ucapan seseorang yang baru hadir.
"Turut berduka cita ya Al, semoga Mama kamu diterima disisi Tuhan. Maaf aku baru bisa datang," ucapnya.
Al mengangguk, "Iya terimakasih," jawabnya.
Tak ingin berlama-lama berhadapan dengan mantan kekasihnya itu, dia memilih masuk kedalam mobil bersama sang istri.
Bersambung.....
**Maaf aku gak bisa membuat adegan yang menyayat hati, hanya ini yang bisa aku tulis.
__ADS_1
Jangan lupa like dan komennya yah**