
Pagi sekali Papa Bayu mendapatkan telefon dari kantor polisi, memberi tahu jika laporannya kemarin sudah menemukan titik terang. Polisi mengundangnya untuk datang ke kantor pagi ini juga.Papa Bayu datang bersama besannya kali ini, karena Icha tidak mau di tinggal pergi oleh Al. Ia ingin Al selalu ada di dekatnya.
Kedua lelaki paruh baya itu secara bersamaan masuk kedalam kantor polisi. Mereka masuk kedalam suatau ruangan pemeriksaan dan duduk disana. Di sambut oleh seorang polisi yang sudah menunggu mereka.
"Selamat pagi Pak," polisi menyalami kedua lelaki paruh baya itu.
"Selamat pagi juga Pak," ucap keduanya.
"Dari hasil pencarian kami kemarin dan tadi malam, kami menemukan jika mobil yang menyerempet putri Bapak adalah mobil rental dan yang mengendarai mobil itu sudah kami tangkap, hanya saja dia tidak mau mengaku jika dia yang menyerempet putri Bapak, dia mengatakan bukan dia yang mengendarai mobil itu tapi saat kami tanya dia bilang tidak tahu siapa yang membawa mobilnya kemarin, dia mengatakan hanya di pinjam oleh seseorang yang tidak di kenal dan di beri upah pinjaman," jelas panjang lebar polisi itu.
Keduanya menyimak dengan seksama, "Bisakah kami bertemu dengan dia?" tanya Papa Bayu.
"Oh bisa Pak, silahkan kami antar," jawab polisi itu lalu mengantar kedua laki-laki paruh baya tersebut.
Mereka masuk kedalam ruang penjengukan tahanan, duduk sambil menunggu orang yang ingin mereka temui.
Tak lama orang tersebut pun datang sambil menunduk, ia mengenal salah satu dari kedua pria itu. Semakin merasa bersalah saat tahu orang yang akan menemuinya adalah atasannya dulu di kantor.
"Pak Paijo?" tanya Papa Davit meyakinkan, pasalnya orang yang ia sebut namanya tadi mantan OB di kantornya.
"Kamu kenal dia Dav?" tanya Bayu.
"Dia dulu OB di kantor," jawabnya. "Coba Bapak katakan yang sejujurnya, saya tidak akan menjelbloskan Bapak kepenjara jika Bapak tidak bersalah," ucap Davit pada orang tersebut.
"Maaf Pak, saya benar-benar tidak tahu jika orang yang meminjam mobil yang saya rental kemarin itu untuk menyelakai putri Bapak, dia bilang mau mengumpulkan tugas kuliah dan mobilnya mogok pas di depan rumah saya Pak, dengan jaminan dia memberikan kunci mobil mewahnya pada saya," jelas Pak Paijo.
__ADS_1
"Bapak tahu siapa dia? Seperti apa ciri-cirinya?" tanya Bayu antusias, merasa sudah menemukan titik terang.
"Sayan tidak tahu Pak, yang saya tahu dia perempuan, saya juga tidak kepikiran menghafal atau memotret nomor mobil itu, karena saya kira dia orang baik. Setelah mengembalikan mobil saya dia juga memberikan beberapa uang pada saya Pak, tadinya saya menolak karena dia memberikan uang cukup banyak, tapi dia memaksa dan bilang jangan bilang siapa-siapa kalau dia meminjam mobil rental saya, alasannya dia malu katanya," jelas Pak Paijo panjang lebar.
"Bapak kenapa tidak jujur saat di tanya polisi?"
"Karena saya takut dan gugup Pak, saya tidak bersalah kenapa harus di bawa ke kantor polisi, saya juga bingung mau mengatakan apa, sedangkan saya tidak mengenal orang itu,"
"Gimana Bay?" tanya Papa Davit pada Papa Bayu.
"Kita serahkan ke polisi lagi aja, mungkin menyelidiki di sekitar tempat kediaman Bapak ini, semoga saja menemukan siapa pelakunya," ucap Papa Bayu sedikit lemas, karena belum membuahkan hasil.
"Kecelakaan ini benar-benar di sengaja dan di persiapkan secara matang oleh pelaku, kita harus mencari pelaku sampai ketemu karena busa jadi dia kembali mencelakai Icha," ucap Papa Davit dan di setujui oleh Papa Bayu.
Setelah mengintrogasi Pak Paijo, mereka pun kembali ke ruangan yang tadi. Menjelaskan apa yang mereka dapatkan dari keterangan Pak Paijo, polisi akan kembali memeriksa kediaman Pak Paijo, polisi juga berusaha supaya pelaku cepat tertangkap. Karena polisi pun meyakini ini adalah kasus kesengajaan yang sudah di rencanakan.
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
Di sisilain.
Setelah semalam ia menyesali kejadian yang membuat bayinya harus keguguran, Icha menangis hingga tanpa terasa tidur dalam pelukan sang suami karena kelelahan. Hingga saat ini pun Icha masih belum bisa di ajak bicara baik-baik, nasehat yang di berikan oleh Mama dah yang lainnya tidak ia masukkan kedalam hati dan pikiran. Karena pikirannya saat ini hanya di penuhi penyesalan dan merasa bersalah.
"Makan dulu ya Sayang," entah sudah berapa kali sang Mama dan Al membujuknya makan, tapi hanya gelengan di kepala yang mereka dapatkan.
"Biar kamu lekas sembuh Sayang, Mama enggak mau kamu seperti ini terus, menyesal boleh tapi jangan sampai berlarut-larut Cha, justru akan membuat kamu bertambah sakit, apa kamu tega melihat suami kamu juga sedih dengan keadaan kamu seperti ini?" panjang lebar Mama menasehati putrinya.
__ADS_1
Icha menatap Al sekilas, lalu ia kembali menunduk. Air matanya masih menetes meski tidak seperti semalam. Ia sebenarnya merasa bersalah juga terhadap suaminya, karena telah lali menjaga kandungannya. Ia juga sedih karena bayi yang mereka harapkan kehadiran di tengah keluarganya harus lebih dulu pergi. Bisa di katakan ia mengalami beberapa alasan kepiluannya.
"Sayang, dengerin Mama. Semua yang ini sudah takdir dari Yang Kuasa, kita sebagai makhluk harus bisa menerima takdir yang Tuhan berikan. Percayalah di balik semua musibah yang hadir pasti akan ada hikmah yang lebih indah. Karena semua itu pasti akan ada hikmahnya. Tuhan punya rencana yang lain buat kamu Sayang," tutur sang Mama, entah ia sudah mengatakan itu berapa kali, tapi ia tak pernah bosan asalkan anaknya mau mendengarkan nasehatnya.
Begitulah orang tua terutama ibu, beliau akan menasehati anaknya sampai anak itu benar-benar mendengar dan menjalakan apa yang di nasehatkan, tak pernah bosan sedikitpun.
"Sudahlah Ma, kalau Icha enggak mau makan biarkan saja, di paksa pun dia tidak akan mau Ma. Sekarang Mama sarapan dulu aja, biar aku yang jaga Icha," ucap Al dengan sopan, ia merasa tidak enak dengan mertuanya.
"Baiklah, Mama keluar sebentar ya, kamu bujuk lagi supaya dia mau makan," Mama menyetujui permintaan Al, ia akan memberikan waktu buat Al dan Icha berbicara baik-baik, siapa tahu Icha mau mendengarkan ucapan suaminya.
Setelah kepergian Mama, Al mendekat ke arah Icha, karena sejak tadi ia duduk di sofa, sesuai perintah Mama mertuanya.
Duduk di sisi Icha, lalu membawa tubuh Icha kedalam dekapannya. "Ikhlaskan dia ya sayang, memang sulit sekali untuk mengikhlaskan kehilangan sesuatu yang sudah kita sayangi, tetapi kalau kita tidak mencobanya kita tidak akan tahu gimana nikmatnya mengikhlaskan," Al mengelus punggung istrinya.
"Aku pun sebenarnya belum ikhlas, tapi aku mencoba buat mengikhlaskannya, mari kita sama-sama mengikhlaskan kepergian calon anak kita. Benar kata Mama tadi, di balik semua ini pasti ada hikmahnya," tambahnya.
Icha menatap wajah Al yang tersenyum, bukan senyum paksa yang ia tampilkan tetapi benar-benar senyum keikhlasan. "Maafkan aku, semua ini gara-gara aku," Icha kembali meneteskan air mata.
"Kamu tidak bersalah, sudah ya jangan menyalahkan dirimu sendiri terus menerus. Ini sudah takdir Sayang," Al menatap Icha lekat, ia tak mau istrinya terus menyalahkan dirinya sendiri.
Icha memeluk Al dengan erat, ia menumpahkan kembali air matanya. Al pun membalas pelukan sang istri, ia tahu istrinya juga merasa bersalah kepadanya.
Bersambung.....
**Jangan lupa like dan komennya yah. Terimakasih
__ADS_1
Yang mau follow IG ku silahkan @Abil_Rahma