Dipaksa Menikah SMA

Dipaksa Menikah SMA
Extra Part 8


__ADS_3

Setelah sampai di ruang rawat, Al menggendong salah satu bayinya, ia mengadzani bayi laki-lakinya terlebih dahulu, lalu bergantian mengadzani bayi perempuannya. Mencium kedua pipi bayi mungil itu. Bayi itu tampak menjulurkan lidahnya seperti sedang meminta sesuatu.


"Sepertinya mereka kehausan, Ma," ucap Al, ia menyerahkan satu bayinya pada Mama mertua.


"Coba di kasih ASI satu persatu ya, biar Mama bantu," ucap sang Mama, lalu ia meletakkan salah satu bayi itu di dada Icha.


Bayi tersebut terlihat mengisap ASI dengan rakus, lalu tiba-tiba ia menangis.


Oek Oek Oek


Bayi yang satunya lagi pun ikut menangis, membuat Al kebingungan, karena ia belum pernah menimang bayi sebelumnya.


Papa mengambil alih bayi yang di gendong oleh Al.


Sedangkan Mama meraih bayi yang ada di atas dada Icha, karena Icha belum bisa bergerak banyak.


Tak butuh waktu lama kedua bayi itu pun terdiam dari tangisnya.


"Sepertinya ASI nya belum keluar, tapi terus di coba nanti lama-lama akan keluar sendiri," ucap sang Mama memberi saran.


"Tapi kasian dia kehausan Ma, terus gimana?" tanya Icha, pasalnya ia tadi merasakan sekali bayinya itu seperti kehausan.


"Tidak apa-apa, bayi baru lahir masih bisa bertahan selama tiga hari meskipun tidak minum ASI, kalau dia menangis itu wajar, karena bayi bisanya baru menangis aja," jawab sang Mama panjang lebar.


Icha mengangguk mengerti, "Sayang, aku haus, tenggorokanku terasa kering," keluhnya pada Al


Al meraih air putih dalam botol, lalu ia memberikannya pada Icha. Membantu Icha untuk minun, karena sang istri belum bisa melakukannya sendiri.


"Lapar juga," rengek Icha.


Al meletakkan minumnya, ia meraih makanan yang sudah di sediakan oleh rumah sakit. Dengan telaten ia menyuapi Icha makan.


"Al, Papa kamu udah tahu?" tanya Mama Sinta, ia teringat jika besannya belum di beri kabar bahagia ini.


Al menoleh, "Ya Allah, Al lupa Ma, saking paniknya," Al menepuk jidatnya, ia melupakan sang Papa, karena panik memikirkan sang istri. Begitu pun kedua mertuanya, mereka sama-sama panik memikirkan anaknya.

__ADS_1


"Biar aku telfon," Al meraih ponselnya, lalu ia menghubungi sang Papa. Setelah selesai menghubungi sang Papa, ia kembali menyuapi Icha, karena makanan Icha belum habis.


¤¤¤


Dua jam berlalu, Icha baru merasakan perih, ngilu dan panas pada perutnya. Karena sepertinya obat bius sudah berangsur-angsur menghilang, terbukti dengan Icha sudah bisa menggerakkan kakinya. Ia mencoba menahan rasa perih dan ngilu tersebut tanpa memberitahu pada keluarganya.


Terlihat orang tuanya dan sang Papa mertua sedang bahagia menimang kedua cucu mereka. Sedangkan Al, ia sedang mencari sarapan di kantin, setelah bergantian dengan kedua mertuanya, sedangkan sang Papa sudah lebih dahulu sarapan di rumah.


Icha tersenyum, wajahnya terlihat berbinar melihat pemandangan di depannya, rasa haru, bahagia bercampur menjadi satu.


Tiba-tiba pintu terbuka, menampakkan seorang perempuan cantik dan sang suami.


"Gimana Cha? Udah enakan?" tanya perempuan itu yang tak lain adalah dokter Hanny, ia masuk ke ruangan Icha bukan untuk memeriksa melainkan untuk menjenguk, karena ia tidak ada jadwal hari ini.


"Alhamdulillah Kak," Icha tersenyum, "Kak, aku penasaran mau bertanya sesuatu, apa Kak Hanny tahu jika anakku kembar?" pertanyaan itu yang ingin sekali ia tanyakan ketika bertemu dokter cantik itu.


Dokter Hanny menggeleng, "Aku tadinya tidak begitu yakin, karena saat pemeriksaan mereka hanya terlihat satu, waktu pemeriksaan kandungan kamu enam bulan lebih itu, kelaminnya perempuan, tapi beberapa minggu lalu pas kamu periksa terakhir kenapa kelaminnya jadi laki-laki, padahal jika dalam kedokteran bayi kembar itu bisa terdeteksi saat masih trimester pertama, tapi ini benar-benar keajaiban, mereka seperti menyembunyikan saudara mereka," tuturnya panjang lebar, ia terkekeh ketika mengucapkan kalimat terakhir.


"Jadi mereka benar-benar tidak terlihat sejak awal Hanny?" buka Icha atau Al yang bertanya, melainkan Papa Davit.


"Iya Om, Hanny aja terkejut saat mengetahui mereka kembar," timpalnya. "Gimana kabarnya Om?" tanya dokter Hanny.


"Alhamdulillah baik," jawab Davit. "Kok bisa begitu ya?" Davit kembali ke topik awal.


"Itu memang kadang terjadi Om, sudah ada kejadian beberapa kali yang pernah aku temui, melahirkan bayi kembar tapi mereka tidak terlihat kembar saat masih dalam kandungan," jelas dokter Hanny. Semuanya menyimak penuturan dokter cantik itu.


"Aku boleh gendong?" tanya dokter Hanny, ia meraih salah satu bayi yang tadi di gendong oleh Papa Davit.


"Lucunya keponakan tante," Hanny terlihat gemas dengan bayi itu, ia beberapa kali menciumi pipi bayi tersebut, bahkan menoel-noel pipi bayi itu.


"Cepatlah menikah, biar punya sendiri," celetuk Al.


Dokter Hanny menghentikan kegiatannya, ia menoleh pada Al, "Doakan saja," ucapnya, ia tidak tersinggung dengan ucapan Al barusan, karena ia belum berkeinginan untuk menikah saat ini.


Tak lama Dokter Hanny pun berpamitan, karena waktu sudah cukup siang, sedangkan ia di sana sudah sejak semalam, meskipun tidak membantu operasi tapi ia tidak enak jika meninggalkan rumah sakit lebih dahulu sebelum bayi Al lahir.

__ADS_1


¤¤¤


Siang harinya, terlihat dua orang memasuki ruang rawat Icha, mereka terlihat tak sabar ingin melihat bayi yang Icha lahirkan. Mereka belum mengetahui jika bayinya kembar.


"Assalamu'alaikum," ucap salam dua orang tersebut setelah membuka pintu.


"Wa'alaikumussalam," jawab semua yang ada di dalam ruangan itu.


Nayla terlebih dahulu menghampiri sahabatnya, ia tidak sabar melihat keadaan sahabatnya, pasalnya tadi pagi saat ia pergi, keadaan Icha masih terlihat kacau. Ya kedua orang itu Nayla dan Farhan.


"Icha selamat ya, akhirnya sudah menjadi ibu," Nayla memeluk tubuh Icha yang masih berbaring.


"Terimakasih Mbak," ucap Icha tersenyum.


"Enggak enak banget di denger Cha," Nayla mengomentari panggilan 'Mbak' yang Icha ucapkan.


"Nanti lama-lama akan terbiasa," Farhan menimpali, ia sudah menggendong salah satu bayi Icha.


"Ih guemesnya, lucu banget sih keponakan tante," ucap Nayla di buat seimut mungkin. "Cewek apa cowok Cha?" tanyanya.


"Cewek cowok," jawab Icha asal.


Nayla mengernyitkan dahinya, ia bingung.


"Bayinya kembar Nay," Mama Sinta membawa satu bayi lagi, mendekat ke arah Nayla dan Farhan.


"Uhh, bahagianya langsung dapat dua, lengkap pula cowok sama cewek," timpal Nayla, ia tersenyum riang mendengar penuturan Mama mertuanya.


"Boleh aku gendong yang satunya, Ma?" tanya Nayla, setelah mendapat persetujuan ia pun menggendong salah satu bayi Icha.


Nayla menciumi pipi bayi itu, bayinya terlihat tenang dan nyaman di tangan Nayla, membuat gadis itu tersenyum bahagia.


"Semoga kalian berdua cepat menyusul, biar cucu Mama bertambah lagi," celetuk sang Mama, membuat kedua pengantin baru itu terlihat kikuk.


"Doakan ya Ma," timpal Farhan, ia sekilas melirik Nayla yang tampak malu-malu dengan mengalihkan perhatian pada bayi mungil di gendongannya.

__ADS_1


"Mama selalu mendoakan," ucap Mama tersenyum.


__ADS_2