
Al naik keatas ranjang lalu duduk disamping Icha, memandang wajah Icha yang pucat. Dia ikut merasakan sakit yang Icha alami, karena Icha seperti meringis menahan sakitnya masih dengan mata terpejam.
"Kita kerumah sakit ya sayang." Pinta Al sambil mengelus kepala Icha.
Icha menggeleng, dia tidak mau jika diajak kerumah sakit, karena memang sakitnya itu biasa dia alami tiap bulan.
"Yaudah aku telfon dokter aja kalo gitu," ucapnya lalu mengambil ponsel diatas nakas, dia tidak menunggu persetujuan Icha dulu, karena dia tau Icha pasti menolak lagi.
Setelah menelfon dokter keluarga, dia meletakkan kembali ponselnya, lalu mendekap tubuh Icha, dia khawatir sekali terjadi sesuatu pada gadisnya itu. Karena selama ini dia tak pernah melihat Icha selemah ini. Mungkin karena dia dulu kurang memperhatikan Icha. Jika saja sejak dulu dia memperhatikan gadisnya itu pasti sudah tahu kalau tiap bulan Icha akan mengalami kesakitan dan tidak panik seperti sekarang ini.
Tak lama terdengar ketukan dari luar kamar.
Tok
Tok
Tok
Al turun dari ranjang berjalan menuju arah pintu, dibukanya pintu kamar dan nampaklah pembantu rumah tangganya bersama seorang dokter yang sudah dia kenal.
"Silahkan masuk Dok," Al mempersilahkan dokter itu masuk kedalam kamarnya.
Dokter perempuan yang terlihat cantik itu pun masuk dan menghampiri Icha yang tidur diatas ranjang.
"Istrimu kenapa Al?" tanyanya setelah duduk disisi ranjang.
"Sakit perut Kak, wajahnya pucet banget, gue khawatir dia kenapa-napa," jawab Al, terlihat raut ke khawatiran di wajah tampannya.
"Apa dia makan sesuatu yang tidak biasa dia makan?" Dokter yang disapa Kak oleh Al itu kembali bertanya.
"Nggak ada sih Kak, dia bilangnya ini biasa terjadi, tapi aku gak tau apa alasannya, kenapa juga kalo biasa terjadi gak mau di bawa kerumah sakit,"
Dokter itu tersenyum, dia paham apa yang dikatakan oleh Al. Dia juga yakin betapa sayangnya Al pada istrinya itu.
"Kalo dia bilang seperti itu, jangan khawatir ini biasa terjadi pada perempuan saat masa menstruasi di hari pertama, dia sedang menstruasi kan?" tanya dokter cantik itu.
Al mengangguk sebagai jawaban.
Lalu dokter itu melakukan pemeriksaan pada Icha. Icha terbangun ketika merasakan ada seseorang mengusik tidurnya, yang pertama dia lihat saat membuka mata adalah wajah cantik dokter yang sedang memeriksa keadaannya.
"Masih terasa nyeri perutnya?" tanya sang dokter.
"Masih Dok," jawab Icha dengan suara parau.
__ADS_1
"Gak ada yang perlu di khawatirkan, nanti saya kasih obat buat pereda nyerinya, setelah sarapan langsung diminum ya," tutur Sang Dokter.
Icha tersenyum dan mengangguk, "Terimakasih dokter," celetuknya.
Dokter cantik itu pun membalas senyuman Icha, sambil mengangguk.
"Ini obatnya, diminum setelah sarapan ya. Kalo gitu aku permisi ya Al, jaga baik-baik istrimu," Dokter itupun pamit karena tugasnya sudah selesai.
"Makasih Kak Hany, hati-hati dijalan," Al mengantar dokter yang bernama Hany samapi depan pintu kamar.
"Bik antar Dokter Hany sampai depan ya, setelah itu buatkan sarapan untuk Icha," titahnya pada pembatu rumah tangganya.
"Baik Mas," jawabnya lalu berlalu meinggalkan Al menyusul Dokter Hany yang sudah jalan duluan.
Al kembali melangkah menuju ranjang mendekati Icha yang masih berbaring. Entah kenapa dia rasanya malas untuk beranjak dari tempat tidur, padahal sebelum Al mempedulikannya, saat seperti ini dia tetap melakukan kegiatan seperti biasanya, sakitnya hanya dia rasakan tanpa mau mengeluh dengan siapapun. Icha juga selalu berangkat kesekolah, meskipun akhirnya terkapar di UKS sampai jam pulang sekolah, tetapi dia tetap betangkat kesekolah, hanya Nayla yang selalu cerewet ketika Icha seperti itu.
"Sayang kamu harus sekolah, biarkan aku di rumah sama Bibik," titah Icha pada suaminya yang kala itu ikut berbaring sambil memeluk Icha.
"Aku mau jagain kamu dirumah," tolaknya dia tidak berpindah posisi.
"Aku tau kamu khawatir, tapi kamu sudah dengar kan kata dokter tadi kalau aku gak apa-apa, jadi kamu gak boleh bolos sekolah dan tolong ijinin aku gak masuk hari ini," Icha kekeh menyuruh Al supaya berangkat sekolah.
"Beneran kamu gak masalah kalau aku tinggal sekolah?" tanya Al meyakinkan.
"Iya beneran, bersiaplah buat kesekolah,"
Icha hanya mengangguk
Al turun dari ranjang, menyambar handuk dan masuk kedalam kamar mandi, karena ini sudah hampir pukul enam pagi.
Icha kembali memejamkan matanya, karena nyeri diperutnya masih sama belum berkurang sama sekali sejak semalam.
Tak lama Al pun keluar dari kamar mandi, hanya mengenakan handuk. Dia melihat kearah Icha ternyata gadisnya itu sudah kembali tertidur.
Tok
Tok
Tok
Al sudah tahu siapa yang mengetuk pintu kamarnya, dia pun mempersilahkan orang tersebut masuk.
"Masuk aja Bik, pintunya gak di kunci," ucapnya.
__ADS_1
Pintu kamar terbuka, nampaklah Bik Um yang membawa nampan berisi makanan dan minuman.
"Taroh disana aja Bik, biar aku yang bangunin Icha." Titah Al, dia menunjukan telunjuknya kearah nakas.
Bik Um pun meletakkan makanan itu diatas nakas, lalu dia berbalik badan untuk keluar dari kamar mereka.
Al berganti pakaian dengan pakain sekolah, setelah selesai dia mendekati Icha dan membangunkannya.
"Sayang bangun dulu ya sarapan, habis itu obatnya diminum," tuturnya dengan nada lembut, karena dia tahu Icha belum benar-benar terlelap.
Icha membuka matanya, lalu dia bangun dari tidurnya kemudian mengambil air putih yang ada diatas nakas lalu menegaknya.
Al mengambil makanan yang dibawakan oleh Bik Um tadi, berniat menyuapai Icha, tetapi ucapan Icha mengurungkan niatnya.
"Biar aku makan sendiri aja Al, kamu berangkat kesekolah ya, ntar telat gimana?"
Al melihat kearah jam dinding, benar apa kata Icha, jika dia menyuapai Icha makan maka dia juga akan terlambat kesekolah.
"Baiklah aku akan berangkat sekarang, kamu harus makan ya, dan minum obat, biar aku suruh Bibik nemenim kamu,"
"Iya aku pasti makan sayang, gak usah khawatir," ucap Icha lalu dia mengambil piring dari tangan Al.
Al tersenyum, dia beranjak dari duduknya lalu mengambil tasnya yang berada diatas meja belajar. Dia kembali mendekati Icha yang sedang sarapan.
Icha menatap Al lalu meraih tangan Al dan mendaratkan ciuman dipunggung tangan suaminya.
Al membalas dengan mengecup kening Icha cukup lama, karena sebenarnya dia tak tega meninggalkan gadis itu sendirian.
"Aku berangkat ya sayang, assalamu'alaikum," pamit Al pada Icha.
"Hati-hati ya sayang, wa'alaikumsalam," jawab salam Icha.
Al mengangguk sambil tersenyum, lalu dia melangkah keluar dari kamar.
Setelah sampai dibawah Al mencari pembantunya, supaya menemani Icha dikamar.
"Bik, temani Icha ya, aku berangkat sekolah dulu, kalo ada apa-apa segera hubungi aku ya," titahnya pada pembantunya.
"Baik Mas, akan Bibik temani. Mas Al hati-hati ya,"
"Iya Bik, makasih, aku pamit," ucap Al lalu dia keluar rumah dan berangkat kesekolah.
Bersambung........
__ADS_1
Jangan lupa like dan komennya yah.
Insyaallah aku kirim satu episode lagi nanti malam setelah nonton sinetron yang lagi viral ituš¤