
"Sekarang makan dulu ya." Al melepas pelukannya, "Jangan buat Mama khawatir dengan keadaanmu yang seperti ini, kasian sama Mama kan?" tambahnya.
Icha mengangguk, air matanya sudah berkurang, ia akan mencoba mengikhlaskan semuanya, meski pun berat tapi ia harus mencoba.
Al mengambil piring yang berisi makanan untuk Icha, ia mulai menyendok nasi lalu memasukkan kedalam mulut Icha. Al telaten sekali saat menyuapi istrinya, ia seperti sedang menyuapi anak kecil saja.
Baru masuk beberapa suap, Icha sudah menggeleng, "Udah Sayang, aku dah kenyang," ucapnya, menggeser piring dengan kedua tangannya.
Al menyerah, ia tahu jika di paksakan Icha tetap akan menolaknya, ia juga bersyukur karena Icha sudah mau makan, meski cuma sedikit, "Yaudah, sekarang minum obat dulu ya, setelah itu mau kembali istirahat juga enggak apa-apa, yang penting sudah minum obat," ucap Al, lalu ia meletakkan piring yang ia bawa keatas nakas, mengambil obat juga air minum.
Menyerahkan obat itu pada istrinya. Icha pun menrima lalu ia meminum obat pemberian Al.
▪︎▪︎▪︎▪︎
Sore hari Papa Bayu kembali mendapatkan telefon dari kantor polisi, mengatakan jika pelakunya susah di temukan. Tetapi tenyata pelaku sudah lebih dulu kabur ke luar negeri, karena sepertinya ia tahu jika di ketahui oleh polis, akan tetapi keluarga pelaku siap membawa pelaku pulang ke Indonesia dan meminta waktu samapi maksimal lima hari ke depan.
Saat di tanya oleh Papa Bayu siapa pelakunya, polisi pun tidak menjawab hanya memberikan inisial saja. Tapi Papa Bayu tidak ambil pusing, yang terpenting sekarang pelakunya sudah di temukan.
Papa Bayu masuk kedalam ruang rawat Icha, karena saat menerima telfon tadi, ia keluar dari ruangan tersebut.
"Siapa Pa?" tanya sang Mama.
"Dari kantor polisi, mereka mengatakan jika pelaku sesungguhnya sudah di ketahui, tetapi dia keburu kabur keluar negeri. Katanya keluarganya siap membantu pihak berwajib untuk membawa dia ke kantor polisi," jelas Papa Bayu.
Icha yang sejak tadi tiduran di pangkuan Al mendongak menatap wajah sang Papa, begitu pun dengan Al. Karena merasa penasaran.
"Apa dia lagi?" gumam Al tapi Icha masih bisa mendengarnya.
"Maksud kamu?" tanya Icha, ia penasaran siapa yang ada dalam pikiran Al yang tega melakukan ini semua.
__ADS_1
"Apa mungkin perbuatan Martha? Dia kan yang di London, dia juga yang tahu kalau kamu hamil?" ucap Al. Ia berfikir kalau semua itu perbuatan Martha.
"Sstt ... jangan su'udzon dulu Sayang, aku yakin bukan dia, karena dia benar-benar tulus minta maaf waktu itu," Icha menepis tuduhan Al pada Martha. "Kita tunggu kabar selanjutnya aja," tambahnya.
Al mengangguk, sebenarnya ia juga sedikit ragu jika Martha pelakunya. Karena menurut Alvian mereka saat ini sedang mengadakan seleksi masuk perguruan tinggi, tidak mungkin jika Martha pulang hanya untuk mencelakai Icha saja.
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
Seorang gadis tersesat dalam sebuah taman yang indah. Ia mengitari taman tersebut, tapi tidak menemukan sesuatu, hanya ada dirinya. Ia bahkan sudah memanggil orang-orang yang ia sayangi, tapi nihil tak seorang pun menjawab panggilannya. Lantas ia duduk di bawah pohon rindang, menekuk kedua kakinya dan menenggelamkan wajahnya diatara dua lutut. Menangis, hanya itu yang bisa ia lakukan saat ini, karena temapat ini begitu luas dan dia tidak bisa keluar dari tempat yang indah itu.
Tiba-tiba ia mendengar ada seseorang yang sedang tertawa, bercanda ria. Ia mendongak mencari dimana keberadaan orang tersebut. Ia tersenyum ketika mendapati dua orang wanita dan satu balita yang sedang bermain, mereka mengenakan pakaian serba putih, ia mendekat ingin menanyakan dimana jalan keluar dari tempat ini. Mereka semua memunggunginya, kecuali balita perempuan yang tersenyum ke arahnya.
"Mama?" ucap balita perempuan itu saat melihat gadis yang berada di depannya.
Gadis itu terkejut, kenapa bisa balita itu memanggilnya Mama. Padahal ia tidak merasa memiliki anak sebelumnya.
Kedua wanita tersebut menoleh kearah pandang si balita. Mereka tersenyum melihat siapa yang ada di hadapannya.
"Kakak!"
"Kak!" serunya.
"Mama! Ma!"
"Bangun Sayang, kamu kenapa?" Menggoyangkan tubuh sang anak yang terlihat mengigau memanggil kakaknya.
Icha terbangun, nafasnya memburu seperti habis maraton. Ia melihat sekeliling, masih berada di rumah sakit. Di sampingnya ada Mama, Papa dan suaminya yang sejak tadi berusaha membangunkan dirinya.
"Mimpi apa Cha? Kenapa kamu teriak-teriak seperti itu, manggil-manggil Kakak dan Mama?" tanya Papa Bayu, mereka semua penasaran dengan apa yang di mimpikan oleh Icha.
__ADS_1
Iya gadis tadi adalah Icha, ia bermimpi bertemu dengan Mama mertuanya serta Kakak perempuan yang telah lama meninggalkan mereka semua akibat kecelakan saat ia pulang dari sekolah.
Icha menceritakan mimpinya secara detail, tak tertinggal sedikit pun.
"Mereka semua memberi kabar sama kamu Cha, jika mereka di sana sudah bahagia, termasuk bayi yang belum sempat kamu lahirkan. Dia menemani Kak Abida dan juga Mama mertuamu disana. Jadi ikhlaskan ya," tutur sang Mama.
Icha mengangguk, lalu ia memeluk perut sang Mama yang berdiri tepat di sampingnya, "Iya Ma, aku akan mengikhlaskan semua ini, aku bahagia melihat mereka bahagia Ma," ucapnya dengan leleran air mata.
Al pun tak kuasa menahan air mata, sejujurnya ia rindu dengan Mamanya. Tapi Mama tak pernah hadir dalam mimpinya selama ini, ia juga bahagia setelah mendengar cerita dari Icha. Menandakan Mamanya juga bahagia disana, sudah tidak merasakan sakit lagi.
"Kok kamu nangis Sayang?" tanya Icha saat menyadari Al menitikan air mata.
Papa Bayu dan Mama Sinta menoleh kearah Al, benar apa yang di katakan Icha jika Al menangis.
"Aku kangen Mama," ucapnya.
Icha melepas pelukannya, ia beralih memeluk suaminya. "Mama sudah bahagia dengan anak kita sayang," ucapnya, ia pun masih menitikan air mata.
Al mengangguk, ia mengusap air matanya.
Mama Sinta menepuk punggung menantunya, memeberi kekuatan. "Mama mu sudah bahagia di sana Al. Kamu anggap Mama ini seperti Mama kandungmu sendiri Al, karena Mama juga menganggap kamu seperti anak Mama sendiri, jadi jangan bersedih ya," tuturnya.
Al melepas pelukannya, Ia mengangguk, "Iya Ma, tadi aku cuma terharu dan sedikit rindu dengan Mama, aku bahagia Mama bahagia disna," ucapnya.
"Udah nangis-nangisnya, sekarang kita siap-siap pulang, karena dokter sudah mengijinkan Icha pulang pagi ini," ucap sang Papa.
Icha memang sudah di perbolahkan pulang pagi ini, karena kondisinya yang sudah membaik. Semalam ia pun tidur lebih nyenyak di bandingakan malam yang lalu.
*Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa like dan komennya yah. Makasih*..