
Sinta tersenyum mendengan penuturan Al, dia terkejut sekaligus bahagia. Entah kenapa dia bahagia sekali anaknya hamil, meskipun dia masih sekolah. Tapi Al tak melihat senyum yang terukir di bibir Mama mertunya.
"Itu bukan salah kamu Al, kalau Icha hamil itu wajar kan? Kalian sudah menikah. Mama bahagia mendengarnya," tutur Sinta lembut.
Al mengangkat wajahnya, dia seakan tak pecaya dengan penuturan meruanya, "Apa Mama serius?" tanyanya meyakinkan.
"Serius Al, Mama bahagia," Sinta tersenyum, Al pun membalas senyuman Mama mertuanya, "sekarang Mama akan temui Icha, Mama tahu dia belum bisa menerima kenyataan ini, kamu gak usah khawatir, Mama akan menasehatinya. Mama temui Icha dulu ya," ucap Sinta lalu dia berdiri dan melangkah menuju kamar Icha.
Membuka pintu kamar anaknya, melihat sang empunya kamar duduk dengan lutut ditekuk, menenggelamkan kepanaya diantara kedua lutut. Sinta melangkah, duduk bersebelahan dengan putrinya, mengusap lembut pusaran kepala sang putri yang terbalut oleh hijab.
Merasakan ada yang menyentuhnya, Icha mendongak, melihat Mamanya yang datangia langsung menubrukkan tubuhnya kedada Mama tercintanya.
"Mama tahu kamu masih belum menerima semua ini, karena usia mu yang masih dini. Tapi kamu jangan bersikap seperti ini ya sayang, ini tidak baik untuk perkembangan bayi dalam kandunganmu. Apakah kamu mau dia sakit saat melihat Mamanya seperti ini? Enggak mau kan? Dia akan bahagia kalau Mamanya bahagia dan begitu sebaliknya, kasian dia belum tahu apa-apa Mamanya justru tak mengharapkannya, coba bayangin kalau itu terjadi denganmu?" tutur Sinta panjang lebar, membuat putrinya sedikit trenyuh karena membayangkan jika dirinya yang dibenci oleh Mamnya.
"Mama," hanya itu yang keluar dari bibirnya.
"Mama ngerti banget perasaan kamu Cha, tapi jika kamu hamil itu wajar kan? Kalian sudah menikah, ya meskipun kalian belum lulus sekolah tetapi tidak masalah, karena sebentar lagi kalian juga lulus," Sinta masih setia memeluk anaknya dan mengelus punggung putrinya.
"Kamu tahu, dia luaran sana banyak yang menikah sudah puluhan tahun tetapi mereka belum diberi momongan, mereka selalu berusahan untuk mendapatkan momongan dengan berbagai cara, sedangkan kalian berdua tanpa harus bersusah payah Allah telah mengamanati kalian seorang bayi, jadi kita harus bersyukur akan hal itu sayang, bayi ini titipan dari Yang Kuasa maka kamu harus menjaga dan merawatnya dengan baik,"
Icha mencerna semua penuturan Mamanya, dia mulai menerima sedikit demi sedikit, tetapi dia tak berani berkomentar, hanya diam mendengarkan.
"Ada lagi mereka yang hamil di luar nikah, membuang bayinya di tempat yang tak layak. Saat masih didalam perut pun mereka mencoba menggugurkannya dengan cara apapun, tetapi Allah tidak berkehendak, anak itu tetap bertahan di rahim ibunya. Kasian sekali dia, orang tuanya yang berdosa justru dia yang jadi korbannya, apa kamu tega jika seperti itu? Tidak kan? Apalagi anak ini bukan hasil dari hubungan terlarang, kita harus mensyukurinya juga sayang,"
"Kamu ngerti kan apa kata Mama?" tanya Sinta karena tangisan Icha bertambah nyaring.
"Icha ngerti Ma, Icha salah, Icha akan merawat anak ini sebaik mungkin," ucap Icha terbata karena tangisnya belum reda.
Ia mengelus perutnya yang masih rata, "Maafiin Mama ya sayang," terdesir perasaan aneh didalam dadanya, ini kali pertama dia mengajak bicara janin yang masih berbentuk segumpal darah didalam perutnya. "Mama akan jaga kamu sekuat tenaga Mama," tambahnya dengan isak tangis haru.
__ADS_1
Dia merasakan bahagia sekarang, setelah mendengar penuturan Mamanya panjang lebar. Menerima tumbuhnya janin didalam perutnya dengan senang hati.
"Alhamdulillah, Mama seneng dengernya Nak. Jaga cucu Mama baik-baik ya, Mama akan panggilkan suamimu," ucap Mamanya, lega rasanya putrinya mau menerima janin yang bersemayam di rahimnya.
Sinta keluar kamar, dia menghampiri menantunya yang masih setia menunggunya di ruang keluarga.
"Al, sana temui Icha, dia sudah mau menerima kehadiran janin dalam rahimnya," tutur Sinta.
Al bahagia mendengarkan penuturan mertuanya, senumnya mengembang "Makasih Ma," ucapnya.
"Iya, itu sudah kewajiban Mama. Kamu yang sabar menghadapi wanita hamil, emosinya memang mudah berubah, suasana hatinya juga seperti itu, jadi kamu harus mengalah demi kebaikan anak kalian. Turutilah kemauannya yang sekiranya itu masih wajar, jika sudah diluar batas normal ya jangan, biasanya wanita hamil ingin lebih dimanja oleh suaminya, itu pengalaman Mama saat hamil dulu," ucap Sinta panjang lebar.
"Makasih Ma, aku akan berusaha sebisaku Ma. Kalau gitu aku akan menemui Icha dulu ya Ma," ucap Al, setelah mendapat anggukan dari mertuanya dia pun melangkahkan kakinya menuju kamar istrinya.
Membuka pintu kamar dengan pelan, melangkah mendekati sang istri yang duduk di sisi ranjang.
Mendengar ada seseorang masuk kedalam kamar, Icha menoleh kearah sumber suara, dia berdiri menyambut suaminya dengan pelukan. "Aku minta maaf sayang, aku egois," tuturnya dalam pelukan suaminya.
Icha melepas pelukannya, dia menatap wajah suaminya penuh rasa haru, ia menjijitkan kakinya dan
Cup
Mengecup singkat bibir suaminya, "Terimakasih karena selalu mengerti aku selama ini," ucapnya setelah mengecup kilas bibir suaminya.
Al tersenyum, karena ini kali pertama Icha mengecup bibirnya tanpa diminta, "Sama-sama sayang, aku juga berterimakasih karena kamu tetap bertahan disisiku sampai detik ini. Aku harap kamu tetap bertahan hingga maut memisahkan," Al mengecup kening Icha cukup lama, menyalurkan kebahagiaan yang bersarang di hatinya saat ini.
"Cuci mukamu sayang, setelah itu kita turun temui Papa, karena kita beluk menemuinya tadi," titah Al.
Icha mengangguk, dia melangkah menuju kamar mandi untuk mencuci wajahnya yang sembab karena menangis.
__ADS_1
Tak berapa lama dia pun keluar dari kamar mandi dengan wajah yang terlihat lebih segar, meskipun kelopak matanya masih terlihat membengkak karena menangis tadi.
Al menggandeng tangan istrinya, mereka melangkah keluar dari kamar menuju taman belakang, karena hari minggu seperti ini biasanya Papa dan Kakaknya sedang berada disana, bersantai dengan secangkir kopi dan koran ditangannya.
"Assalamu'alaikum Pa," ucap salam Al dan Icha ketika mendapati Papanya duduk disana.
"Wa'alaikumussalam, kapan kalian datang?" jawab salam Bayu pada anak dan menantunya.
"Sudah tadi Pa, kemana Kak Farhan?" jawab dan tanya Icha ketika mendapati Kakaknya tak ada disana.
"Dia pergi sama Sherena, sudah sejak pagi tadi," Bayu meneliti wajah putrinya yang sepertinya ada yang berbeda, dia mengernyitkan dahi ketika mendapati kelopak mata putrinya membengkak. "Kamu menangis?" tanyanya.
Icha menyengir, dia malu diketahui oleh Papanya. Sebelum Icha menjawab, suara dari dalam rumah lebih dulu menyelela.
"Biasa Pa, calon Mama muda, belum bisa menerima keadaannya," ucap Mamanya dengan senyum mengembang.
Icha terlihat malu-malu, sedangkan Papanya tidak begitu mengerti apa yang diucapkan oleh istrinya.
"Maksud Mama?" tanyanya.
"Kita sebentar lagi punya cucuk Pa,"
"Bener itu Cha?"
Icha mengangguk sambil tersenyum malu.
"Alhamdulillah, jaga cucu Papa dengan baik ya, meskipun kamu masih sekolah tidak masalah, karena sebentar lagi sekolahmu juga selesai, Papa bahagia mendengarnya," ucap syukur Bayu, dia mendekati putrinya dan memeluk dengam erat.
Al tersenyum bahagia melihat kedua mertuanya bahagia, sekarang tinggal memberi tahu kedua orang tuanya yang jauh disana.
__ADS_1
Bersambung.....
Jangan lupa like dan komennya ya. Terimakasih😘😘