
Bel tanda pulang sekolah telah berbunyi. Nayla buru-buru keluar dari kelasnya, dia ingin menyerahkan tas yang berisi buku pelajaran Icha yang kemarin tertinggal di rumahnya. Karena takut Al melupakan hal itu dan pulang lebih dulu.
"Al, tunggu!" serunya, karena Al sudah menaiki motor kesayangannya. Itu tandanya pikiran Nayla tidak meleset, karena Al melupakan tas Icha.
Al menoleh kearah sumber suara, dia membuka helf fullfacenya, dia baru ingat ucapan Nayla tadi pagi di telfon, "Mana?" seakan tahu pemikiran Nayla.
"Bentar aku ambil," ucap Nayla lalu dia memasuki mobilnya dan mengambil tas Icha.
"Ini, sekalian sama pelajaran tadi, ada tugas juga jadi biar Icha ngerjain tugasnya," ucap Nayla setelah menyerahkan tas Icha yang berisi buku pelajaran.
"Makasih," ucap Al, lalu dia memakai helmnya lagi dan hendak meninggalkan sekolah.
"Salam buat Icha ya, moga cepet sembuh!" seru Nayla karena Al sudah menyalakan mesin motornya.
Al hanya mengangguk, lalu dia meninggalakan Nayla yang masih terpaku di tempatnya.
Tak berapa lama Al sudah sampai didepan rumahnya, karena dia mengendarai motornya dengan kecepatan diatas rata-rata.
Dia masuk dalam rumah, mempercepat langkahnya menuju kamar, karena disana ada seseorang yang sangat dia rindukan. Membuka pintu kamar dengan gerakan sedikit kasar. Terlihat Icha sudah rapi dengan pakaiannya, tersenyum kearah Al yang juga membalas senyumnya.
"Assalamu'alaikum sayang," ucap salam Al, lalu dia mendekati bidadari hatinya.
"Wa'alaikumsalam sayang," Icha menjawab salam Al, lalu dia meraih punggung tangan suaminya untuk dicium.
Al mengecup singkat kening istrinya. "Kamu wangi sekali," celetuknya, yang mana membuat Icha mengendus aroma tubuhnya.
"Aku biasa aja, gak pake farfum juga," protes Icha.
Al menyunggingkan senyum, "Mau pakai parfum apa enggak, kamu tetep wangi dan itu membuatku pengen cium kamu setiap waktu," ucap Al lalu mencolek dagu Icha.
Bugh
Icha memukul dada Al, "Kebiasaan!" serunya.
"Kamu tuh ya, suka banget mukul suamimu yang tampan ini, ya meskipun pukulanmu tidak berasa apa-apa tapi jangan jadikan hobi dong sayang," protes Al, lalu dia mengecup kilas pipi Icha. "Aku ganti baju dulu ya," pamitnya, lalu dia melangkah mengambil pakaian yang sudah disiapkan oleh Icha diatas ranjang dan menggantinya.
"Kok gantinya disitu sih?" protes Icha, "apa gak mau cuci muka dulu?" tambahnya.
"Gak masalah kan, aku ganti disini, kamu juga sudah melihat semuanya," Al menaik turunkan alisnya.
__ADS_1
Icha tidak mengatakan apapun, dia berbalik memunggingi Al, membiarkan Al berganti pakaiannya dengan leluasa.
"Ohya sayang, aku dapet titipan dari Nayla, dia nitipin tas kamu, dia juga minjemin kamu buku pelajaran tadi," ucap Al, dia hampir lupa mengatakan itu. Padahal tasnya sudah tergletak diatas ranjang.
Icha terpaksa menoleh kearah Al, dia mendapati suaminya seperti kesulitan menarik resleting celananya.
"Yah, rusak resletingnya," keluah Al, ketika resleting celananya justru rusak saat ditarik keatas.
Icha mendekati kearah Al, "Coba mana aku lihat." Icha memegang resleting itu, "beneran rusak, ganti aja, biar aku cariin celana baru," tambahnya.
"Jangan liatin dalemnya, entar kamu gak kuat, hahaha," Al menggoda Icha yang sedang memeriksa resleting celananya.
Icha geram, sejak tadi suaminya itu terus menggodanya. Dia justru melakukan hal yang ridak disangka oleh Al. Meremas dengan kuat sesuatu yang teetutup celananya.
"Ahh sakit!" seru Al saat merasakan sakit di bawah sana, akibat ulah Icha.
"Itu balasan buat kamu yang dari tadi godain aku," Icha melangkah menuju lemari dan mencari celana ganti buat Al.
Al masih merasakan panasnya remasan tangan Icha diarea pusakanya, dia mengusap-usap area itu untuk menghilangkan rasa panas, "Sayang kamu tega, kalau gak ada ini kamu pasti nyesel," ucapnya dengan sendu.
Icha menghampiri Al, dia membawa celana ganti untuk suaminya, "Maaf, aku sengaja. Kalau gak gitu kapan kita akan ke kantornya? Kamu gak berhenti godain aku melulu." Icha memberikan celana itu pada Al.
Dia mengganti celananya dihadapan Icha yang duduk disisi ranjang, Icha memang tidak memperhatikan itu, matanya fokus menatap buku yang dia bawa, buku pelajaran Nayla.
"Pantes aja dulu banyak cewek yang mudah suka sama kamu, mungkin karena mereka suka sama godaan dan gombalan kamu," ucap Icha, matanya masih fokus menatap buku pelajaran Nayla.
Al tidak menanggapi, dia memilih untuk meletakkan seragam sekolahnya yang kotor di tempat yang sama dengan pakaian kotor lainnya.
"Ayo sayang, aku dah siap," ucap Al setelah selesai dengan kegiatannya.
"Iya, ayo," jawab Icha, lalu dia berdiri mendekat kearah suaminya.
"Apa ini masih sakit?" tanya Al, matanya mengarah kebawah.
"Lumayan, tapi gak seperti tadi pagi," jawab Icha, dia tahu kemana arah pembicaraan Al.
"Sukurlah, nanti malam kita bisa tempur lagi," ucap Al sambil tersenyum nakal.
"Al! Jangan mulai deh," protes Icha. "Kamu bilang semalam apa? Lupa ya? Apa pura-pura lupa?" tambahnya.
__ADS_1
Al menyengir, "Apa kamu tega membiarkan aku menahannya lagi?" tanya Al, wajahnya penuh pengharapan.
"Iya. Sesuai janji kamu, akan melakukannya lagi setelah kita selesai ujian, jangan lupakan itu," Icha mengingatkan.
"Baiklah, aku akan menunggu sampai saat itu,"
Mereka memasuki mobil secara bersamaan, Al menyalakan mesin mobilnya dan meninggalkan kediaman mereka.
Icha membuka ponselnya yang sedari tadi dia kantongi. Tertera banyak pesan dari teman-temannya, terutama Nayla, yang mengucapkan semoga lekas sembuh.
"Nayla bilang pengen jenguk aku, tapi aku tolak," adu Icha pada Al.
"Kenapa kok ditolak?" tanya Al heran.
"Ya aku gak sakit masak mau dijengukin, terus kalau dia datang, nanti pas ditanya aku sakit apa, harus jawab gimana? Masak iya aku jawab jujur kan nggak munggkin sayang," tuturnya.
"Iya juga ya, kalau kamu jujur dia pasti heboh," Al membayangkan kehebohan Nayla.
"Bukan hebohnya, tapi malunya sayang, dia pastu kepo banget,"
"Bener juga sayang," Al membenarkan ucapan Icha, mereka pasti malu jika menceritakan kegiatan semalam pada orang lain.
Tak lama mereka pun sampai di kantor Papa Al. Mereka turun dari mobil, dengan Al yang membukakan pintu ratu hatinya, dan menggenggam tangannya menuju ruangannya yang ada dilantai paling atas.
Dia terus menggenggam tangan Icha, bahkan sesekali dia memeluk pinggang Icha dan Icha tidak menolak akan perlakuan Al yang seperti itu.
Saat sampai di depan meja sekretarisnya, Al tersenyum menatap sekretaris yang sudah dia anggap seperti Kakaknya.
"Selamat siang Mas," sapa sekretaria itu.
"Siang mbak Bila," jawab Al sambil tersenyum.
"Gimana?" tanya sekretaris itu.
Al mengerti apa yang dipertanyakan oleh sekretarisnya. Lalu dia tersenyum dan mengacungkan ibu jarinya. Lalu dia masuk kedalam ruangannya tanpa mengatakan sepatah kata pun.
"Mbak Bila tanya apa sayang? Kok cuma kamu jawab pakai jempol aja," tanya Icha penasaran.
Bersambung.......
__ADS_1