
Malam harinya, Icha belajar sambil terus mengemil, entah kenapa dia tak mau makan nasi tetapi rasanya ingin ngemil melulu. Seperti saat ini, di hadapannya selain buku pelajaran ada sepiring tiramissu yang di buatkan sang Mama sore siang tadi, untung sang Mama membuatnya lumayan bayak, jadi tidak habis sekali makan.
"Mau kemana sayang?" tanya Icha saat menyadari Al akan keluar dari kamar.
Al menoleh, "Mau ambil minum, kamu mau aku buatin minuman?" Al menawari Icha siapa tahu istrinya itu ingin dibuatkan susu.
Icha menggeleng, "Enggak ah sayang, kamu aja," tersenyum manis kearah sang suami.
Al membalas senyuman Icha, dia pun mengangguk lalu keluar dari kamar menuju dapur.
Sedangkan Icha juga menyusul keluar kamar, bukan ke dapur tapi ke kamar sang Kakak.
Tok
Tok
Tok
"Kak, aku boleh masuk?" ucapnya setelah mengetuk pintu.
"Iya masuk aja Dek," jawab orang didalam kamar.
Icha membuka pintu kakar sang Kakak, terlihat Farhan sedang duduk diatas ranjang dengan laptop di pangkuannya.
"Kak, boleh aku minta tolong?" ucap Icha pelan, dia berharap sang Kakak mau menolongnya.
"Hm, minta tolong apa?" ucap Farhan tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop.
Icha tersenyum, "Buatin aku susu." Duduk di sisi ranjang, memohon dengan lembut.
Farhan menatap wajah adiknya, dahinya terlihat berlipat-lipat, "Kenapa harus minta tolong Kakak? Ada suamimu juga, Kakak sibuk Cha," Farhan menolak.
"Kak, ayolah, aku maunya Kakak yang buatkan, bukan orang lain, please ya Kak. Kakak ganteng deh," Icha terus memohon, wajahnya terlihat memelas, Farhan jadi tak tega.
"Oke, Kakak buatkan. Tapi Kakak enggak tahu ukurannya," ucapnya dengan menatap sang adik, "Mau rasa apa?" tambahnya.
__ADS_1
"Baca aja di bungkusnya, rasa coklat ya," Icha tersenyum, wajahnya sudah kembali ceria.
Farhan mengangguk, dia meletakkan laptopnya lalu turun dari ranjang. Berjalan keluar kamar dan Icha membuntutinya.
"Bawa ke kamarku ya Kak, makasih Kakak ku sayang," ucap Icha saat akan masuk kedalam kamarnya.
Farhan menuruni anak tangga, dia berjalan menuju dapur. Kebetulan sekali saat di dapur dia melihat ada Al yang sedang mengambil air minum.
"Kebetulan banget," Farhan tersenyum, dia punya ide, "Al istri lo minta di buatin susu rasa coklat katanya," bukannya Farhan yang membuat justru dia menyuruh Al. "Dia nyuruh gue yang buat, tapi karena ada lo ya lo aja ya, palingan dia juga gak tau kalo lo yang buat, ntar ngomong aja kalau gue yang buat gitu, beres kan?" tambahnya.
"Iya Kak, biar aku buatin," Al mengalah, Icha istrinya jadi buat dia tak masalah jika harus membuatkan susu, hanya susu bahkan yang lebih dari itu pun dia akan melakukannya.
Al membuat susu sesuai permintaan Farhan. Sedangkan Farhan, dia hanya mengambil air minum, menunggu Al membuatkan susu.
Tak butuh waktu lama susu pesanan Icha pun jadi, Al membawanya ke kamar, diikuti oleh Farhan dibelakangnya.
Al masuk kedalam kamar dengan membawa segelas susu dan satu botol air putih.
"Ini susunya sayang," ucap Al setelah masuk kedalam kamar. "Dari Kak Farhan," tambahnya.
"Bohong, ini bukan buatan Kak Farhan, tapi kamu yang buat. Aku enggak mau minum," dia melipat tangannya di dada.
Al mendekat, duduk disisi sang istri, "Maaf, tadi Kak Farhan yang nyuruh," sebenarnya dia bingung kenapa istrinya bisa tahu, padahal dia membuatnya sesuai takaran, "Tapi kok kamu bisa tahu kalau aku yang buat?" tambahnya.
"Aku istri kamu, apa kamu lupa tiap malam kamu yang buatkan susu?" aneh bukan alasan yang diberikan oleh Icha, karena setahu Al buatan siapa saja rasanya pasti sama, karena sesuai takaran.
"Kok bisa ya?" gumamnya, tapi Icha masih bisa mendengar meski samar.
"Sebagai hukuman, kamu harus habisin ini, gak boleh nolak, kalau gak mau tidur di sofa selama seminggu," coba saja, apakah dia akan betah tidur tanpa Al selama satu minggu?
Al tak percaya dengan hukuman yang diberikan oleh Icha, istrinya itu tahu kalau dia tak menyukai susu, mana mungkin dia mau meminum minuman yang tak disukainya itu.
"Sayang, kamu kan tahu aku gak bisa minum susu, apalagi ini susu buat ibu hamil," Al memelas, dia memohon pada Icha supaya tak menghukum dengan cara itu.
"Yaudah, mulai malam ini tidur di sofa, sampai seminggu kedepan, gak boleh protes," tegasnya, seakan hal itu tak jadi masalah baginya.
__ADS_1
Pilihan yang sangat sulit buat Al, dia mencoba mengangkat gelas berisi susu itu dengan wajah ditekuk, agak ragu, dia kembali meletakkan gelas itu, tapi kemudian dia angkat lagi hingga beberpa kali, menimang-nimang mau diminum apa tidak. Mencium bau susu saja perutnya seperti diaduk-aduk.
Dengan mengucapkan basmalah Al menenggak segelas susu tersebut dengan satu tangan menutup hidungnya. Meletakan gelas kosong dengan kasar, karena isi perutnya seakan mau keluar. Dia lari ke kamar mandi.
Icha yang melihat itu merasa bersalah, telah memaksa suaminya minum susu itu. Dia pun menyusul Al ke kamar mandi.
"Maaf sayang, habisnya aku kesel," ucapnya setelah sampai di dalam kamar mandi, dia melihat Al sudah memuntahkan isi perutnya.
Al tak berniat menjawab permintaan maaf Icha, dia juga terlihat kesal, istrinya itu sangat egois. Padahal sudah diberi hati tapi justru minta jantung, selama ini Al selalu menuruti permintaannya, tetapi dia justru seperti itu.
Al keluar dari kamar mandi tanpa mempedulikan Icha, dia masih kesal dengan sang istri. Icha yang melihat itu, sangat menyesal, dia kembali mengejar Al.
Al naik keranjang, dia menutup tubuhnya dengan selimut, sebelumnya dia lebih dulu minum air putih yang tadi dia ambil.
Al tidur membelakngi Icha, dia tak mau berdebat malam ini, lebih baik tidur dan berharap besok pagi rasa kesalnya hilang.
Icha memeluk tubuh Al dari belakang, Al pun tak menolaknya, "Sayang, aku bener-bener nyesel, aku minta maaf ya sayang," ucap Icha penuh harap.
"Iya," jawabnya singkat, " diem, aku mau tidur," tambahnya dengan nada datarnya.
DEG
Tak pernah Al bersikap seperti itu sejak mereka mengungkapkan perasaan masing-masing. Hati Icha perih, dia sadar telah membuat Al kecewa, dia memberikan waktu untuk suaminya supaya meredam rasa kesal yang terkurung di hati.
Dada Icha sesak, dia ingin menumpahkan penyesalannya dengan tangis, namun di tahan supaya Al tak melihatnya menangis. Dia sadar dia salah.
Icha mencoba memejamkan mata namun tak berhasil untuk terlelap tanpa pelukan sang suami. Apa katanya tadi? Menyuruh sang suami tidur di sofa? Padahal dia sendiri tak bisa tidur tanpa dekapan hangat sang suami.
Penyesalannya bertambah, dia memandang punggung Al yang tertutup selimut dengan tetsan air mata. Dia tahu suaminya sudah tertidur, terdengar dari suara dengkuran halus.
Semoga esok Al akan memaafkan perbuatan Icha kali ini.
Bersambung.....
Jangan lupa like dan komennya.
__ADS_1