Dipaksa Menikah SMA

Dipaksa Menikah SMA
DMS 102


__ADS_3

Icha terlihat cemberut, sejak bertemu dengan seseorang tadi, dia masih ingat apa yang orang itu katakan. Al belum mengerti dengan keadaan istrinya yang diam membisu, ia tidak peka sekali. Ingin bertanya tapi urung, sebab ada sang papa di belakang, ia berencana akan bertanya setelah sampai rumah nanti.


Icha melangkah lebih dulu setelah sampai di rumah, ia bahkan tak berpamitan pada papa mertuanya. Sikap Icha itu tidak membuat sang Papa mertua heran atau gimana, justru papanya memaklumi keadaan Icha.


"Istrimu cemburu, Nak," hanya itu yang dikatakan sang Papa.


Al mengernyitkan dahinya, ia berfikir apa yang membuat istrinya cemburu? Ia baru ingat tadi ucapan seseorang yang menemui mereka di taman.


"Boleh aku duduk?" tanya orang itu.


"Boleh silahkan," Icha mempersilahkan duduk, ia melihat ketulusan di hati orang tersebut.


"Kebetulan kita bertemu di sini," menjeda sebentar ucapannya, "Aku mau minta maaf sama kalian, aku bener-bener nyesel dulu berbuat seperti itu sama kamu Cha, aku ikhlas kalian mau balas dengan apa pun, asalkan bisa memaafkan perbuatanku sama sepupuku," pancaran matanya terlihat sekali akan ketulusannya.


Icha merasa orang itu memang benar-benar meminta maaf, "Aku sudah memaafkan kamu Tha," menoleh sebentar kearah sang suami yang menatap sembarang arah, "Itu juga sudah berlalu, dan aku baik-baik saja sekarang. Allah saja dengan mudah memaafkan hambanya, aku yang hanya hamba kenapa tidak bisa memaafkan?" tambahnya.


Iya, gadis itu adalah Martha, ia pula yang datang ke pemakaman sang Mama. Menyentuh jemari Icha, "Makasih ya Cha, aku khilaf Cha," ucapnya tak terlihat ada kebohongan di dalam pancaran matanya.


"Al beruntung mendapatkan istri seperti kamu Cha," masih setia memegang jemari Icha. "Dua minggu lagi aku akan melanjutkan kuliah di London, doakan aku ya. Sebenarnya aku mau berkunjung ke rumah kalian, tapi aku belum punya keberanian, takut kalian tidak menerima kehadiranku," ucapnya panjang lebar.


"Iya enggak apa-apa Tha, semoga kuliah kamu sukses ya, doaku menyertaimu," timpal Icha, dia menyambut baik uluran tangan Martha.


Martha reflek memeluk Icha, ia bahagia karena selama ini sesuatu yang mengganjal pikirannya sudah ia utarakan, "Makasih Cha, kamu baik sekali," ucapnya masih dalam pelukan Icha.


Icha menggangguk, "Sudah enggak usah berterimakasih terus," tersenyum melihat ketulusan Martha.


Melepas pelukan pada Icha, menampilkan senyum tulusnya, "Mulai sekarang kita berteman ya, mau kan, Cha?" mengulurkan tangannya pada Icha.


Icha menerima uluran tangan Martha, "Iya Tha," ucapnya dengan tersenyum.


Al hanya melihat interaksi keduanya tanpa mau mengucapkan sepatah kata pun, ia belum bisa percaya sepenuhnya pada mantannya itu.


"Tumben kalian ke sini?" tanya Martha basa-basi.


"Iya, mau makan bubur ayam, katanya Al di sini enak buburnya," jawab Icha.


"Iya emang enak, dulu aku sering ke sini sama Al. Iya kan, Al?" entah sengaja apa tidak Martha mengucapkan kata itu, menurutnya wajar saja dia bertanya seperti itu karena memang itu kenyataannya.

__ADS_1


Tetapi berbeda dengan bumil di sampingnya yang mengartikan berbeda, wajahnya berubah muram tak seperti sebelumnya. Martha tidak mengetahui perubahan wajah Icha. Bukan marah pada Martha tapi entah kenapa ia justru kesal pada sang suami. Mungkin karena tidak pernah menceritakan masa lalunya, dan Icha tahu dari orang lain.


Al hanya mengangguk saja, ia tak berniat menjawab pertanyaan Martha. Apalagi kedatangan tukang bubur membuat atensi mereka beralih pada kang bubur.


"Pesanan kalian uadah datang, aku pamit ya," pamit Marta, lalu ia melangkah menjauh dari posisi suami istri itu.


Sang Papa yang duduk di kursi agak jauh dari mereka mendekat saat kang bubur datang. Mereka menerima bubur tersebut dan memakannya.


Icha yang awalnya terlihat antusias justru menjadi tidak selera makan, bahkan bubur yang ia makan tidak habis separoh.


Al tersadar dari lamunannya karena tepukan di pundak dari sang Papa.


"Sana temui istrimu, jelaskan yang perlu di jelaskan. Jangan tutupi sesuatu yang kamu simpan, istrimu berhak tahu semuanya," seakan tahu apa yang menjadi pikiran putranya. Karena ia paham dengan perubahan wajah menantunya, setelah bertemu dengan seorang gadis di taman tadi.


"Iya Pa, aku temui Icha dulu ya," pamitnya. Setelah mendapat anggukan dari sang Papa dia pun bergegas naik ke kamarnya menemui sang istri.


Membuka pintu kamar, mengernyitkan dahi karena istrinya tidak ada di dalam kamar. Ia berdfikir sang istri sedang mandi, tetapi saat mendekat kearah kamar mandi ia tidak mendengar suara orang mandi. Mendorong pintu kamar mandi yang tidak terkunci, di dalam juga tidak ada sang istri.


Menutup pintu kamar mandi, ia berfikir kemana perginya sang istri kenapa tidak ada di dalam kamar, bahkan di kamar mandi pun tidak ada. Saat akan keluar kamar mencari sang istri, ia teringat jika sang istri sejang merajuk ia pasti duduk di balkon kamar sambil memandang sekitar rumah.


Al mendudukkan dirinya di sisi Icha, ia mengusap puncak kepala Icha dengan lembut. "Maaf," hanya kata itu yang Al ucapkan. Sejujurnya ia bingung harus mengatakan apa, karena memang tidak tahu betul alasan sang istri mendiaminya.


Icha mengangkat kepalanya lalu beranjak dan berdiri bersandar pada pagar pembatas. Pandangannya tertuju ke arah taman samping rumah.


"Maaf untuk apa?"


Al pun bangkit dari duduknya, mendekat kearah Icha lalu merangkul bahu Icha. Tatapan matanya tertuju ke arah wajah sang istri yang belum mau menatapnya.


"Maaf, jika ada sesuatu yang membuatmu marah. Karena jujur aku enggak tahu kenapa kamu marah?" Al berucap jujur supaya sang istri tidak salah paham dengannya.


Icha menoleh, dia mengernyitkan dahinya menjadi beberapa lipatan, "Dasar enggak peka," celetuknya.


Al bertambah bingung dengan ucapan sang istri, diabenar-benar tidak tahu kenapa Icha bisa marah seperti itu.


"Apa kamu cemburu dengan masa laluku?" tebaknya.


"Pikir sendiri," ucap Icha ketus dia memalingkan wajahnya tak mau menatap Al lebih lama lagi.

__ADS_1


Al menghela nafas, ia merasa sejak hamil Icha menjadi lebih sensitif bahkan egois.


"Sayang, tolong jelaskan apa yang membuatmu marah seperti ini? Please ya," pinta Al, tangannya beralih menyentuh jemari Icha yang memegang pagar pembatas.


Icha masih saja memalingkan tatapan matanya, tidak terpengaruh dengan sentuhan tangan Al. "Aku iri, cemburu campur jadi satu," ucapnya ambigu.


"Iri? Cemburu? Kenapa?"


Icha mendengus, tidak peka sekali suaminya ini, ia kembali menetap sang suami, "Kenapa kamu sering ajak mantan kamu jalan-jalan ketaman dan lain-lain. Sedangkan aku, enggak pernah kamu ajak kemana-mana," saking kesalnya Icha mengeluarkan unek-unek yang sejak tadi bersarang di pikirannya.


Al tahu sekarang, istrinya benar-benar cemburu seperti yang di katakan sang Papa. Ia tersenyum lalu memeluk tubuh sang istri.


"Sekarang kamu mau jalan-jalan kemana? Ayo kita pergi, kemana pun kamu mau," ucapnya.


"Aku ke taman itu juga karena dia yang mengajak dulu, itu pun setiap minggu dan enggak sendiri karena Alvian selalu jadi satpam," tambahnya.


Al menatap wajah istrinya yang juga menatapnya, dia menjepit hidung Icha dengan jari-jari saking gemas dengan sang istri yang cemburu itu.


"Ahh sakit," keluh Icha manja.


Al tahu dengan istrinya bermanja seperti itu, pasti sudah menerima penjelasannya. Apalagi sekarang Icha menyandarkan kepalnya di bahu Al.


"Kenapa kamu enggak cerita dari dulu?" tanyanya.


"Ya, karena menurutku tidak penting buat apa di ceritakan," jawab Al, karena memang masa lalu tidak penting untuk di ceritakan apalagi menyangkut soal mantan.


Icha menghela nafas, "Bener juga sih, tapi entah kenapa aku cemburu banget tadi," terangnya.


Al tersenyum mendengar penuturan sang istri, "Cemburu tanda cinta," ucapnya.


"Kaya lagu aja,"


Keduanya tertawa dengan ucapan unfaedah barusan.


Bersambung.....


Jangan lupa like dan komennya yah. Karena like dan komen kalian itu semangat hidupku🤭Makasih

__ADS_1


__ADS_2