
Sedangkan Al dia masih sedikit sibuk, karena tugasnya belum selesai. Anak kelas Al terlihat masih banyak yang berada di dalam kelas. Sang guru pun belum beranjak dari mejanya, masih menunggu beberapa murid yang belum menyelesaikan tugasnya. Al telah selesai menyelesaikan tugasnya, dia mengumpulkan buku lalu kembali ke mejanya. Saat memasukan beberapa alat tulisnya, tiba-tiba ponselnya bergetar, menandakan ada pesan.
My Wife❤
Sayang gak usah jemput aku ke kelas, aku udah pulang sama Nayla, mau main ke rumahnya.
Al mengernyitkan dahinya, kenapa juga Icha bilang mendadak seperti ini, tetapi dia tidak ambil pusing, dia membalas pesan Icha. Setelah membalas pesan Icha, dia keluar kelas dan langsung menuju parkiran tanpa mampir ke kelas Icha, dia akan segera menuju kantor untuk bekerja.
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
Dua jam lebih Al di kantor, tapi Icha tak menelfonnya, dia jadi heran tak seperti biasanya Icha seperti itu. Biasanya walaupun sedang di rumah Nayla dia akan mengirim pesan bahkan menelfonnya. Tanpa berfikir panjang Al meraih ponselnya, melihat pesan yang dia kirim pada Icha tadi, hanya centang satu, dia berfikir pasti ponsel Icha lowbat. Dia mencoba menelfon juga gak aktif.
Al berinisiatif menelfon Nayla, tapi tunggu, dia tidak punya nomor Nayla. Al menepuk jidatnya.
"Gimana mau telfon, punya nomernya aja enggak?" gumam Al saat ingat dia tak punya nomer Nayla.
Tok
Tok
Tok
Pintu ruangan Al diketuk dari luar.
"Masuk," titah Al.
Orang yang mengetuk pintu pun masuk setelah diijinkan.
"Permisi Pak, ada tamu dari perusahaan XX ingin bertemu, dia memaksa ingin bertemu dengan Pak Al," tutur Rio, orang kepercayaan Papa Davit.
"Baiklah, kalau dia memaksa saya akan menemuinya, tolong suruh dia masuk kesini Pak Rio," titah Al, karena dia tidak mungkin menolak tamu yang sudah datang.
"Baik Pak, akan saya memanggilnya, saya permisi dulu Pak," Rio meninggalkan ruangan Al dan memanggil orang yang ingin bertemu dengan Al.
Pintu kembali di bukak, nampaklah seorang pria umurnya mungkin hampir sama dengan Papanya. Al menyambut orang tersebut, mereka saling berjabat tangan lalu duduk di sofa yang ada di ruangan Al.
Mereka membicarakan tentang bisnis yang mereka jalankan, Al terlihat sudah menguasai semua yang ada di perusahaan, dia tekun mempelajarinya. Orang itu pun kagum melihat kemampuan anak muda seperti Al, yang luar biasa.
"Pantas saja anak saya sangat menyukaimu, ternyata anda sangat luar biasa Pak Al," ungkap orang tersebut.
"Bapak terlalu memuji saya," Al tersenyum.
"Semoga saja kalian berjodoh nantinya," ucap orang itu.
__ADS_1
Al tidak menanggapi ucapan orang tersebut, dia lebih memilih membicarakan topik lain. Setelah cukup lama orang itu pun pergi. Al menahan Rio supaya berada diruangannya terlebih dahulu.
"Coba saya mau lihat identitas Bapak tadi, sama perusahaannya," titah Al.
Rio menyerahkan berkas yang isinya identitas perusahaan Bapak tadi.
Al menerimanya, dia membaca semuanya tanpa teekecuali. Dia terkejut saat membaca nama lengkap orang itu.
"Dika Sanjaya, ternyata dia Papanya Martha, kenapa juga Martha masih menceritakan aku pada Papanya? Apa dia masih menginginkan ku? Padahal dia tadi katanya ingin berteman dengan Icha? Apa itu cuman akal-akalan dia saja ya?" banyak pertanyaan yang muncul dikepala Al.
"Sudahlah, besok bisa ditanyakan pada Martha," Al memutuskan untuk tidak memikirkan itu lagi.
Karena sudah sore, Al memutuskan untuk sholat asar dulu sebelum pulang. Karena jika dia pulanh makan tidak akan sempat sholat asar.
Setelah sholat dia membereskan semua berkas yang ada dimeja, memasukkannya kedalam tas kerja miliknya. Setelah selesai dia pun turun kebawah, bergegas keparkiran dan pulang kerumah.
Saat di parkiran dia berfikir, apakah harus kerumah Nayla dulu atau pulang langsung? Ponsel Icha saja gak bisa dihubungi, dia jadi bingung. Tetapi dia memutuskan untuk langsung pulang, kalau Icha sudah pulang dia tidak akan repot menjemput kerumah Nayla, pikir Al.
Satu jam kemudian Al baru saja sampai rumah, karena jalanan yang macet, banyak para pekerja yang baru saja pulang bekerja dan itu menambah parah kemacetan.
Al masuk rumah dan langsung menuju kamar, saat di kamar dia tidak mendapati Icha, terlihat Icha memang belum pulang. Lalu Al memutuskan untuk mandi dan sholat maghrib dulu, karena sudah waktunya, dan dia akan menjemput Icha dirumah Nayla setelah ini.
Setelah selesai semuanya, Al turun ke lantai bawah, berniat menjemput Icha. Saat di ruang keluarga dia bertemu pembantunya.
"Belum Mas, dia juga tidak telfon," jawab pembantunya jujur.
"Kalau gitu aku mau jemput Icha di rumah temennya dulu ya Bik," pamit Al pada pembantu itu.
"Baik Mas, hati-hati," Al pun berlalu, dia bergegas keluar rumah menuju rumah Nayla.
Beberapa menit, Al pun sampai dirumah Nayla. Dia masuk kedalam rumah Nayla setelah satpam membukakan pintu gerbang rumah mewah itu.
Al memencet bel rumah itu, tak berapa lama terlihat wanita berumur tiga puluh tahunan membukakan pintu, yang tak lain adalah pembantu rumah Nayla.
"Maaf Bik, saya mau jemput Icha," ucap Al tanpa basa-basi.
"Maaf Mas, Neng Ichanya tidak ada disini, dia juga tidak kesini hari ini," ungkap pembantu itu.
DEG
Al terkejut bukan main, dia khawatir dengan Icha, tiba-tiba dadanya sesak, dimana Icha? Kenapa tidak ada dirumah Nayla? pikir Al.
"Kalau begitu tolong panggilkan Nayla Bik," pinta Al.
__ADS_1
"Baik Mas, mari masuk tunggu didalam saja," pembantu itu mempersilahkan.
Al menolak, dia akan menunggu diluar saja.
Tak berapa lama pun Nayla datang, "Ada apa Al mencariku?" tanya Nayla heran.
"Dimana Icha? Dia tadi bilangnya mau kerumahmu setelah sekolah, tapi kata pembantumu dia gak ada disini?" tanya Al tanpa basa-basi.
"Lhoh, dia tadi gak pulang bareng aku, beneran. Aku tadi pulang sendiri Al," Nayla terkejut mendengar ucapan Al.
"Coba kamu cari dirumah Mamanya mungkin?" usul Nayla. "Telfon aja coba,"
"Masalahnya ponselnya mati sejak tadi," Al frustasi dia kehilangan Icha.
"Mungkin dirumah Mamanya,"
"Coba aku telfon adeknya dulu, ntar kalo kesana gak ada aku mau jawab apa coba?" ucap Al, lalu dia mengambil ponselnya yang berada didalam saku celananya.
Dia menelfon Raffa, adiknya Icha. Tak lama orang disebrang sana menjawab telfon dari Al.
"Assalamu'alaikum, ada apa Kak?"
"Waalaikumsalam, apa Kak Icha pulang kerumah Fa?" tanya Al tanpa basa-basi.
"Nggak Kak, dia gak ada kesini sehari ini,"
"Yaudah makasih kalo gitu, mungkin dia dirumah temannya," ucap Al supaya Raffa tidak curiga. Dia tambah frustasi ketika mendengar jawab Raffa.
"Gimana Al?" tanya Nayla.
Al menggelengkan kepala dengan lemah.
"Terus dimana Icha?" Nayla juga ikut frustasi dengan keadaan seperti ini.
.
.
.
Bersambung......
Jangan lupa like dan komennya yah. Makasih semua😘
__ADS_1