Dipaksa Menikah SMA

Dipaksa Menikah SMA
Extra Part 10


__ADS_3

"ALISHA!" teriak Icha saat memasuki kamar anak gadisnya, sambil geleng-geleng kepala karena tingkah anak gadisnya itu.


"Apaan sih Ma, ganggu orang tidur aja," ucap Alisha tanpa membuka matanya, seakan tidak terusik dengan teriakan sang Mama.


Icha menarik selimut yang membalut tubuh anak gadisnya, "Jam berapa sekarang Sha? Kamu mau di tinggal sama abangmu?" tanya sang Mama.


"Biarin Ma, aku bisa naik motor,"


"Alisha! Mama pusing ngadepin kamu, terserah lah. Mama laporin sama Papa aja kalo gitu, dah sana tidur lagi," ancama yang ampuh, karena Alisha takut jika sudah di ancam seperti itu.


Ya, Al hari ini sedang di luar kota. Seperti biasa, Alisha selalu ogah-ogahan saat tidak ada sang Papa, bahkan tak jarang ia bolos sekolah membuat Aufa sang Abang geram dengan sifat kembarannya itu. Mereka memang kembar, tapi sifat dan wajahnya tidak ada yang mirip sedikit pun. Jika Aufa perpaduan antara Papa dan Mamanya, berbeda dengan Alisha yang justru mirip sama keluarga Mamanya. Sifatnya pun berbanding terbalik, jika Aufa memiliki sifat lembut dan tegas, Alisha justru bersifat bar-bar, urakan hingga membuat sang Mama pusing sendiri menghadapi anak gadisnya itu.


"Jangan dong Ma, iya deh Isha bangun. Bilang sama Abang, suruh tungguin aku," ucap Alisha lalu ia masuk ke dalam kamar mandi.


"Lima menit Sha!" Aufa yang berteriak dari depan pintu.


"Beres,"


***


"Ihh, jorok Kakak enggak mandi," Arsyad, anak bungsu Al dan Icha yang baru menginjak kelas satu SMP itu paling sering protes dengan sikap urakan sang Kakak dan selalu membandingkan dengan sang Abang yang selalu rapi.


"Sini coba cium ketek Kakak, pasti lebih wangi dari pada kamu yang mandi," Alisha menarik adiknya itu, lalu membenamkan wajah sang adik di depan ketiknya.


"Ihhh, jorok! Mama!" teriak Arsyad mencoba melepaskan diri dari jeratan sang Kakak.


"Alisha! Udah sana berangkat, jangan godain adikmu terus," Icha datang sambil membawa dompet di tangannya.


"Mama enggak asyik ah," celetuk Alisha lalu melepaskan sang adik, Arsyad menjulurkan lidah mengejek sang Kakak.

__ADS_1


Baru saja Alisha akan membalas, tatapan membunuh dari sang Mama membuat Alisha menyengir lalu dia memilih untuk menyalami tangan sang Mama, "Yaudah aku berangkat ya Ma,"nucapnya, lalu melangkah masuk ke dalam mobil.


"Bang, nanti aku tur...."


"Jangan harap! Aku tahu kamu bakalan bolos dan nongkrong sama teman-teman bandel kamu itu," ucapan Aufa membuat Alisha mencibir, selalu saja seperti itu saat berangkat dengan sang Abang.


"Aku enggak mau datang ke sekolahmu lagi, gara-gara kamu sering bolos aku yang kena, malu Sha," keluh Aufa.


Aufa dan Alisha tidak sekolah dalam satu sekolahan. Sebenarnya dulu mereka satu sekolah, tapi karena Alisha tidak naik kelas, dia minta pindah sekolah, jika tidak makan dia tidak mau masuk sekolah lagi. Akhirnya sang Papa pun memindahkan Alisha di sekolah lain.


"Ck, Abang enggak asyik," cibir Alisha.


"Bang, kita itu harus buat momen yang tak terlupakan dan mengesankan seumur hidup, kalo datar-datar kaya Abang gini, apa yang mengesankan? Enggak ada Bang, palingan nanti kalo udah tua Abang lupa kalo dulu pernah sekolah SMA, karena enggak ada momen terbaik," cerah Alisha panjang lebar.


Aufa tidak menghiraukan ucapan sang adik, karena bukan kali ini saja Alisha berkata seperti itu. Menasehati ke jalan yang tidak benar.


Beberapa waktu berlalu, mereka sampai di depan gerbang sekolah Alisha.


"Ya," balas Alisha dengan malas.


****


"Nak Aufa, maaf kami panggil ke sini lagi," tutur kepala sekolah tempat Alisha belajar.


Saat ini Aufa sedang berada di ruang kepala sekolah di sekolah Alisha, beberapa waktu lalu ia di telfon oleh kepala sekolah supaya datang ke sekolah Alisha setelah pulang sekolah nanti. Di sekolah ini Aufa bahkan terkenal karena hampir tiap minggu dirinya datang, tentu saja berhubungan dengan adik tidak tahu dirinya itu.


"Tidak masalah Pak, apa adik saya berbuat kekacauan lagi atau membolos?" tanya Aufa penasaran.


Terlihat kepala sekolah menghembuskan nafas, "Tadi dia ribut sama ketua kelasnya, tidak terima mendapat hukuman karena tidak pernah mau piket kelas," tutur kepala sekolah itu, "Alisha memukul wajah ketua kelasnya," tukasnya.

__ADS_1


Alisha memang jago bela diri, hingga membuat gadis itu tak gentar menghadapi seorang cowok sekali pun. Membuat kedua orang tuanya menyesal karena telah memberikan ijin Alisha untuk ikut dalam tim bela diri.


Aufa hanya bisa menghela nafas, ia malu dengan sikap adiknya yang seperti itu.


"Ini surat peringatan buat dia, berikan pada orang tuamu, jika saya berikan pada Alisha langsung pasti tidak akan sampai ke tangan Papamu," ucap kepala sekolah sambil menyodorkan sebuah amplop pada Aufa.


"Terimakasih Pak, nanti akan saya sampaikan ke Papa. Dan atas nama adik saya, saya minta maaf Pak," tutur Aufa dengan santun.


"Kalau gitu saya permisi ya Pak," Aufa meninggalkan ruang kepala sekolah setelah di persilahkan. Ia berjalan menghampiri Alisha yang sedang duduk di kap mobil sambil makan entah apa.


Aufa langsung masuk ke dalam mobil tanpa mengucap sepatah katapun pada sang adik. Diikuti oleh Alisha.


"Kamu bisa enggak sih, sehari saja enggak bikin masalah?" tanya Aufa dengan nada tegas.


"Kagak," jawab Alisha enteng.


Aufa menatap wajah adiknya dengan tajam, tapi Alisha justru memutar bola matanya jenggah.


"Kalau Papa tahu ini, kamu pasti akan di kirim ikut dengan kakek di pedalaman Kalimantan sana, biar tahu rasa,"


Ya, Kakek Davit sekarang tinggal di daerah Kalimantan. Ia mengurus perkebunan sawit milik istri barunya. Papa Davit menikah kembali dengan adik Dina istrinya yang telah tiada. Adik istrinya itu menjanda dengan dua anak yang masih kecil karena suaminya meninggal. Alhasil sesuai kesepakan keluarga Davit pun menikahinya dan tinggal di sana saat ini. Kejadian itu terjadi sudah belasan tahun lalu, saat Aufa dan Alisha masih kecil.


"Ogah," timpal Alisha.


"Sha, kamu itu cantik, coba deh feminim sedikit aja, ikuti saran Mama untuk pake jilbab, pasti akan lebih cantik. Enggak urakan gini," berkali-kali Aufa menasehati adiknya itu, tapi tetap saja Alisha tidak mau mendengarnya.


"Males gue dengerin Lo ceramah. Kalau gue ikutin saran Mama, gue enggak akan bisa balapan motor, kan enggak lucu. Entar deh kalo gue udah puas balapannya," selalu itu jawaban yang Alisha berikan.


Aufa hanya geleng-geleng kepala, tidak percaya jika memiliki kembaran seperti Alisha.

__ADS_1


Ya, Alisha juga sering ikut balapan motor, meskipun dengan cara kabur-kaburan dari rumah, karena kedua orang tuanya tidak mengijinkan. Entah sejak kapan gadis itu jadi lebih liar. Bahkan ia dijuliki The Queen dalam arena berbahaya tersebut, karena selama setahun belakangan ini belum ada yang bisa mengalahkannya di arena balapan motor.


__ADS_2