Dipaksa Menikah SMA

Dipaksa Menikah SMA
Extra Part 6


__ADS_3

Al menuntun Icha turun dari kamar, wanita itu terlihat lemas, bahkan untuk berjalan selangkah saja membutuhkan waktu lama, seperti keong. Dengan sabar Al setia menuntun Icha, ia tak sedikit pun protes ketika Icha berjalan dengan lamban, karena ia tahu Icha sedang merasakan sakit luar biasa meskipun ia tidak merasakan secara langsung, tapi Al bisa melihat jelas dari raut wajah Icha.


"Hati-hati sayang, kamu pasti kuat melewati ini semua," tutur Al lembut.


Icha hanya mengangguk, ia tidak kuasa untuk berbicara, karena kontraksi yang terjadi pada perutnya membuat ia meringis ke sakitan, meskipun jaraknya masih sekitar lima menit sekali, tapi tetap saja rasa ngilu terus mengalir. Apa lagi di tambah pinggang yang terasa panas.


Mama sudah membangunkan Papa Bayu, mereka menuruni anak tangga menyusul Al dan Icha dengan membawa perlengkapan yang di butuhkan di kedua tangan mereka. Karena Icha dan sang Mama memang sudah mempersiapkan semuanya jauh-jauh hari sebelum HPL (Hari perkiraan lahir).


"Sini biar Mama bantu mapah, Al kamu sama Papa bawa perlengkapan ini ke dalam mobil," titah Mama, ia menggantikan Al memapah putrinya.


Icha pun tak menolak.


"Sakit Ma," rengeknya saat kontraksi kembali datang.


"Kamu pasti kuat sayang, semangat karena setelah anakmu lahir rasa sakit itu akan terlupakan berganti dengan rasa bahagia, percayalah sama Mama, sakit ini hanya sementara," tutur sang Mama, ia masih memapah putrinya, kadang terhenti saat perut Icha kembali kontraksi.


Al kembali datang menemui dua wanita itu, ia sudah selesai mengemasi semua perlengkapan.


"Telfon dokter Hanny Al, dia kan pernah bilang jam berapa pun Icha akan melahirkan dia minta di hubungi," titah sang Mama, diangguki oleh Al.


"Ponselku di kamar, biar ku ambil dulu Ma," Al kembali ke kamar karena ponselnya ada di sana.


Ia menghubungi dokter Hanny, manakala sudah menemukan ponselnya. Berbicara dengan dokter cantik itu sambil berjalan menyusul sang istri.


"Sudah Al?" tanya Mama mertuanya saat ia sudah kembali.


"Udah Ma, Dokter Hanny akan segera ke rumah sakit," jawab Al

__ADS_1


Icha sudah berada di depan mobil, Al masuk lebih dahulu lalu di susul oleh Icha dan Mama mertuanya.


Icha duduk sambil menyender di bahu Al dengan Al yang setia memeluknya. Bibir wanita hamil itu tak pernah berhenti melafadzkan asma Allah, ia menyerahkan semuanya sama Yang Mama Kuasa, karena Tuhanlah penentu segalanya.


Papa melajukan mobilnya dengan kecepatan lebih, tidak ugal-ugalan dan tidak terlalu lamban.


Saat di tengah jalan, tiba-tiba Icha merasakan sesutu ada yang basah, "Ma, kok basah ini kenapa? Apa aku pipis enggak kerasa?" tanyanya dengan suara bergetar.


Sang Mama melihat ke arah bawah Icha, benar saja rok yang Icha pakai sudah basah kuyup seperti di siram air seember, ia menyentuh rok yang basah itu, lalu mencium jari yang tadi menyentuh rok sang anak.


"Ketubannya pecah ini. Ayo Pa cepetan, ketubannya udah pecah!" seru Mama pada sang suami yang sedang menyetir.


"Ia Ma, ini Papa juga udah cepet, sebentar lagi sampai. Untung saja tengah malam gini jadi agak sepi," timpal Papa, ia masih setia fokus melihat jalanan.


Benar saja, beberapa menit berlalu mereka pun sampai di rumah sakit yang sama saat Icha memeriksakan kandungannya waktu itu.


Icha di rebahkan di atas brangkar, lalu di bawa masuk ke dalam ruang IGD untuk di lakukan pemeriksaan awal.


"Semuanya di mohon untuk menunggu di luar," ucap seorang dokter yang usianya lebih tua dari dokter Hanny. Meskipun ini tengah malam, tapi tetap masih ada dokter jaga.


Mereka pun keluar, menunggu Icha di luar ruangan IGD. Al mondar-mandir seperti seterika, ia panik, tentu saja siapa yang tidak panik jika istri tercinta sedang bertaruh nyawa untuk melahirkan anak mereka.


Tak lama dokter pun keluar, "Suaminya bisa ikut dengan saya, ada yang mau saya bicarakan," tutur sang dokter.


Al pun mengikuti langkah dokter itu, hingga sampai di ruangan sang dokter. Al di persilahkan duduk.


"Istri anda mengalami tekanan darah tinggi, mungkin karena ia terlalu takut akan melahirkan. Bisa saja nanti kami harus melakukan operasi jika selama dua atau tiga jam ke depan tekanan darah masih sama, apalagi air ketubah juga sudah pecah terlebih dahulu, padahal pembukaan baru tiga, kalau keadaan tidak berubah sampai beberapa jam, kita harus melakukan operasi untuk menyelamatkan anak dan istri anda," tutur sang dokter panjang lebar.

__ADS_1


Al tampak berfikir, "Baiklah Dok, jika memang itu yang terbaik lakukanlan, yang penting istri dan anak saya selamat," timpal Al, ia menyerahkan semuanya pada dokter untuk melakukan yang terbaik.


¤¤¤


Benar saja setelah di pantau, ternyata tidak ada perubahan dan dokter memutuskan untuk melakukan operasi setelah subuh. Saat ini Icha sudah di bawa ke ruang operasi dengan Al yang setia menani.


"Tahan sebentar ya, ini akan sedikit ngilu," ucap sang dokter saat akan menyuntikkan obat bius di punggung Icha.


Icha terlihat merintih tertahan, karena ia menggigit bibirnya. Al yang melihat itu jadi tak tega, tanpa terasa ia meneteskan air matanya.


Entah berapa kali dokter menyuntikkan obat bius di sana, yang pasti Icha merasakan ngilu saat obat itu masuk ke dalam pembuluh darahnya.


Setelah beberapa menit, dokter mencubit jari kaki Icha, "Terasa sakit apa enggak?" tanya sang dokter.


"Enggak Dok," jawab Icha, setelah di suntikkan obat bius tadi memang ia sudah tidak merasakan sakitnya kontraksi, mungkin karena obat bius sudah bekerja.


Dokter pun mulai melakukan pembedahan, terlihat ada sekitar empat atau lima dokter yang ada di sana, termasuk dokter Hanny.


Al setia menggenggam tangan Icha, kesadaran Icha memang masih ada karena ia hanya di bius bagian bawah tubuhnya saja.


Al tidak berani melihat proses operasi, ia takut tidak kuat melihat perut istrinya di robek menggunakan pisau, ia hanya melihat banyak darah yang keluar dari sana setelah dokter itu memulai pembedahan. Cukup lama dokter membedah perut Icha.


"Sakit ya sayang?" tanya Al, ia memandang wajah pucat istrinya, bibir itu tak henti-henti melafadzka asma Allah.


Icha menggeleng, "Enggak sakit, bahkan enggak merasakan apa-apa, hanya kepala yang tersa pusing," jawab Icha, ia memang tidak merasakan apa-apa saat dokter membedahnya, tentu saja itu karena obat bius.


Al mengangguk, tentu Icha tidak merasakan sakit, ia membayangkan jika dirinya di posisi sang istri, begidik ngeri membayangkan hal itu, apalagi perutnya yang di bedah seperti itu. Meskipun Al tidak melihat jelas, tapi ia tetap tahu karena melihat bebrapa alat kesehatan berlumur darah.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2