
"Terus lo mau ngapain? Laporin kita sama sahabat lo itu?" kini gadis yang satunya yang bertanya.
"Mau apalagi, ya jelaslah, kalian gak bakalan bisa lepas kali ini," ancam Alvian.
"Brengsek Lo Yan!"
"Tha gue kira lo itu baik, lo gak akan lakuin ini, tapi gue salah, kebaikan lo cuman kedok aja. Lo gak jauh beda sama dia." Alvian menunjuk seseorang, "Sepupu kesayangan Lo itu,"
"Apa sih mau kalian, gue heran? Cuman gara-gara masalah sepele aja sampai melakukan perbuatan kriminal, kalo Al laporin kalian ke polisi bisa masuk bui lo semua," tambah Alvian lagi.
"Masalah sepele kata Lo hah! Gue udah ngorbanin hati gue, dan sakit ini harua gue balas!" seru gadis yang ditunjuk Alvian.
"Terserah lo semua!" seru Alvian dia berbalik arah menuju pintu keluar apartemen.
"Apa yang harus kita lakuin kalau udah gini?" Anggun yang dari tadi diam dia terlihat cemas.
"Gue gak mau masuk penjara, kalo bener Al ngelaporin kita. Alvian pasti udah merekam obrolan kita tadi," kekhawatiran Anggun semakin bertambah.
"Gue juga ogah masuk penjara kali,"
"Gimana kalo kita sama-sama kabur keluar kota aja, biar sekolah kita juga aman sebelum Al bertindak," Anggun memberi usul.
"Gue mau tetep disini," ucap gadi yang tadi bicara dengan Alvian, yang tak lain adalah Martha. Dia punya senjata ampuh untuk mencegah Al berbuat nekat.
"Lo gak takut dilaporin polisi?" tanya sepupunya, Nasita.
"Gak bakalan Al berani laporin gue, kalau kalian mau ke luat kota silahkan, gue gak akan pergi,"
"Ck, gak kompak lo," Nasita berdecak, dia sebal dengan sepupunya itu.
"Kita pergi hari ini juag kalo gitu, urusan pindahan biar d urus Papa gue entar lah,"
Mereka tak memikirkan dulu sebelum berbuat kejahatan, jika sudah seperti ini baru mereka kelimpungan, bingung harus gimana. Mereka masih sangat muda, tida akan bisa menghadapi kasus seperti ini jika tidak melibatkan orang tua. Jika melibatkan orang tua sudah dipastikan akan kena omel minimalnya.
"Alasan lo ke orang tua lo kalau pindah sekolah apa coba?" tanya Martha pada sepupunya.
"Pengen pindah aja, kalo gue udah disana duluan pasti Papa sama Mama gue nyetujuin,"
"Dasar anak Mama," Martha menatap wajah sepupunya sebal.
__ADS_1
"Lo gak usah pindah, tenang aja, Al gak bakalan berani macem-macem sama kita," tambah Martha, dia melangkahkan kaki menuju dapur.
Kedua gadis yang ditinggalkan di ruang tamu melongo, bingung apa yang dimaksud oleh Marta.
Mereka mengikuti langkah Martha, karena penasaran dengan apa yang dikatakan olehnya.
"Apa maksud lo? Gue gak ngerti Tha," Nasita penasaran.
"Gue tahu rahasia besar mereka, kalau kita dikeluarkan dari sekolah mereka juga akan bernasib sama, jadi lo gak usah takut," jelas Martha yang masih mengundang penasaran keduanya.
"Ngomongnya yang bener dong, jangan bikin kita penasaran," protes Nasita, Anggun hanya mengangguk mengiyakan.
"Mereka udah nikah, dan itu jadi senjata gue kalo Al berani macam-macam sama kita," penjelasan Martha membuat kedua gadis itu menganga lebar, tidak percaya.
"Serius Lo!" seru Anggun.
"Serius lah, mereka sendiri yang ngomong ke gue, kalau kita laporin ke pihak sekolah mereka juga akan di depak dari sekolah, kan?" alis mata Martha terangkat satu.
"Lo emang sepupu gue yang paling pinter." Nasita menepuk pundak Martha bangga. "Dengan begini kita akan aman sekarang," sambung Nasita.
"Lo berdua enak, lah gue udah dikeluarin dari sekolah," Anggun mengeluh.
"Iya emang aman, coba aja lo bilang sejak kemaren Tha, gue bakalan gunain senjata itu, supaya kepala sekolah gak ngeluarin gue, seenggaknya cuman di skors satu bulan gue terima,"
"Ini kan memang sudah rencana kita, jadi gak usah dibahas lagi," Martha tak menanggapi ucapan Anggun.
Mereka bahagia karena pasti lolos dari masalah yang mereka hadapi saat ini. Setelah itu mereka tidak membahas dan memikirkan masalah yang terjadi.
▪︎▪︎▪︎▪︎
Alvian masuk keruangan kerja Al, dia melihat sahabatnya itu tengah asyik memandangi laptopnya, sorot matanya terus fokus pada benda persegi itu, sampai-sampai dia tidak menyadari ada seseorang yang datang.
"Al, gue udah punya buktinya." Alvian menghempaskan tubuhnya di sofa.
Al terkejut mendengar ucapan seseorang, padahal sejak tadi dia sendiri dirumahnya, "Kaya mahluk halus aja Lo, kapan datang? Bukti apa?" banyak pertanyaan yang Al lontarkan. Dia menutup laptopnya dan beranjak menuju sofa, dimana disana ada sahabatnya yang sedang duduk.
"Nih." Alvian memberikan ponselnya yang menayangkan sebuah video tiga orang gadis yang ada disebuah apartemen, dan Al tahu itu apartemen siapa.
Al melihat video tersebut, mendengarkan pembicaraan ketiga gadis itu, "Dasar brengsek, bener ulah mereka, emang gak bisa diampuni kalo gini," Al geram, wajahnya terlihat memerah memendam amarah. Lalu dia berdiri dan akan pergi dari ruangannya.
__ADS_1
"Mau kemana lo Al?" tanya Alvian menyadari saat sahabatnya akan keluar dari ruangan itu. Tak urung Alvian ikut berdiri dan menyusul Al.
"Mau samperin mereka," Al menjawab tanpa menoleh kearah Alvian.
"Gue ikut," Alvian mengekor Al, dia takut terjadi sesuatu disana, makanya dia memutuskan untuk mengikuti Al.
Al menghampiri sekretarisnya, "Mbak aku pergi sebentar, kalo ada yang nyari nanti hubungi aku," pamit Al pada sekretarisnya.
"Iya Mas, hati-hati," sekretarisnya itu tersenyum kearah Al, tetapi tidak dibalas oleh Al. Dia tahu Al dalam mode kesal terlihat dari raut wajahnya.
Al masuk kedalam lift, diikuti oleh Alvian, mereka berdua berjalan seperti dikejar oleh maling saja, terburu-buru. Sesampainya di parkiran Al langsung menaiki mobilnya disusul oleh Alvian. Al melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, dia tidak sabar ingin bertemu tiga gadis itu
"Gue belom mau mati, lo kira-kira dong," protes Alvian saat dia hampir saja mencium dasbor karena Al ngerem mendadak di lampu merah.
"Berisik lo, kalo gak mau ikut turun aja," jawab Al tanpa menoleh kearah Alvian.
"Kendalikan diri Al, kalo lo mati Icha bakal jadi milik gue, emang lo rela?" Alvian sengaja membuat sahabatnya terpancing.
Al menoleh kearah Alvian, sorot matanya tajam, dia tidak terima Alvian mengatakan seperti itu. "Gak akan gue biarin itu terjadi," ucapnya dengan tatapan membunuh.
"Gue becanda, mata lo itu bikin gue ngeri," Alvian memalingkan wajahnya dari Al.
"Udah ijo lampunya, jangan tatap gue gitu, ntar lo naksir, hahaha," Alvian tertawa akan ucapannya sendiri.
"Cih, najis!" seru Al lalu dia melajukan mobilnya kembali.
Hahahaha
Alvian justru tertawa mendengar jawaban sahabatnya itu, dia juga gak mungkin lah mau, masak jengkol makan jengkol, pikir Alvian.
Tak lama mereka pun sampai di basment apartemen Martha. Al yang sudah hafal dengan apartemen mantan kekasihnya itu, langsung saja menuju ke sana. Dia juga hafal dengan kode password apartemen tersebut, begitu pun Alvian, makanya kemarin dia bisa masuk tanpa permisi disana.
Al membuka pintu apartemen dengan kasar, dia belum melihat adanya orang disana.
.
*Bersambung.......
.
__ADS_1
Jangan lupa like dan komennya yah Kakak😍*