Dipaksa Menikah SMA

Dipaksa Menikah SMA
DMS 80


__ADS_3

Hanya butuh waktu kurang dari sepuluh menit, keduanya sudah turun lagi. Mereka mengenakan pakaian batik couple, tampak serasi. Icha mengenakan gamis dengan kombinasi batik yang sama dengan kemeja Al.


"Ayo, kita berangkat sekarang, pakai mobil Papa aja, biar cepet," titah sang Papa.


Mereka pun berjalan keluar rumah, memasuki mobil yang sudah terparkir halaman depan.


Farhan yang mengemudikan mobilnya, disebelah dia duduk ada Al. Karena Mama dan Papanya lebih dulu masuk ke jok belakang, sedangkan Icha duduk disebelah sang Mama.


"Aku kok kaya supir beneran ya? Pakaian beda sendiri, gak ada pasangannya pula," celetuk Farhan saat dia sadar jika dirinya mengenakan pakaian berbeda.


"Makanya cepet nikahin Sherena," ucap sang Mama.


"Bener tu Kak, aku juga udah bilang, kan? Cepet lamar dia terus di halalin deh, biar bebas mau kemana pun berdua, dan gak bakalan kena omel Mama, iya kan, Ma?" meskipun dia sudah dewasa, sang Mama selalu saja menasehati anak sulungnya itu, yang kadang pulang larut malam setelah jalan dengan kekasihnya.


"Iya Mama juga seneng kalau kalian udah nikah, enggak khawatir juga," sang Mama memang percaya pada anak sulungnya itu, tetapi dia sediit khawatir juga, mengingat Sherena selalu nempel jika mereka berdua bersama.


"Iya Ma, nanti kalu sudah saatnya pasti aku akan nikah, Mama tenang aja dan enggak usah khawater ya, aku enggak bakalan macam-macam," Farhan tahu ke khawatiran di hati Mamanya.


"Iya Mama percaya sama kamu, yang penting jangan terlalu lama," tutur sang Mama.


"Do'akan saja Ma," Farhan tetap fokus dengan jalan yang mereka lewati.


Beberapa saat berlalu, mereka pun sampai di sebuah gedung yang disewa oleh teman Farhan untuk acara pernikahannya. Mereka turun dari mobil dan memasuki gedung tersebut.


Lagi-lagi mereka berjalan dengan pasangan masing-masing, sedangkan Farhan memilih berjalan disamping Icha, yg setia di gandeng oleh Al.


Mereka bertemu dengan keluarga pengantin, tentu saja mereka saling mengenal, karena partner bisnis. Sepertinya kedatangan mereka sedikit terlambat, karena acara ijab qobul sudah terlaksana.


"Mau minum apa sayang? Biar aku ambilin," Al menawari istrinya minuman, dia tahu wanita itu pasti haus.


"Apa aja deh, sama kaya kamu. Aku tunggu sini ya," dia duduk di sebuah kursi yang disediakan.


Al mengangguk, dia berlalu menuju tempat minuman, membawa dua gelas minum yang sama lalu kembali kearah sang istri.


"Bagus banget ya dekorasi nya," celetuk Icha, ketika Al sudah kembali.


"Nanti kalu kita sudah lulus, kita adaain resepsi yang seperti ini juga enggak masalah, kalau kamu mau," timpal Al.


"Biar semua orang tahu kalau kita sudah menikah," tambahnya.


"Boleh juga, aku terserah kamu. Kita seperti sekarang aja aku dah bersyukur," ucapnya lalu meminum air berwarna yang tadi dibawa oleh Al.

__ADS_1


Mereka asyik mengobrol, mau bertemu dengan pengantin belum bisa, karena mereka sedang melakukan sungkem dengan kedua orang tua masing-masing.


"Rupanya kalian disini juga, sering banget kita ketemu tanpa sengaja." mengulurkan tangannya didepan Al, mereka bersalaman, "selamat datang, silahkan nikmatin acara ini," tambahnya.


"Terimakasih, kamu siapanya kak Farhri?" pertanyaan yang muncul di pikiran Icha.


"Gue adiknya," jawab orang itu.


"Pantesan aja aku enggak asing sama kamu," Icha tersenyum, dia orang yang sama ketika bertemu di kedai sate waktu itu.


"Gue juga baru tahu kalo lo itu adiknya Bang Farhan, saat tadi liat kalian jalan bareng dia, gue tanya sama dia tadi," ucapnya.


"Gue baru inget, kalau kalian udah nikah. Gue denger waktu di rootrof sekolah itu," tambahnya. Al dan Icha mendengarkan penjelasannya.


"Selamat ya, semoga langgeng,"


"Makasih," jawab mereka berdua hampir bersamaan.


"Pacar lo mana?" pertanyaan itu yang di lontarkan oleh Al, karena dia tahu cowok itu punya pacar, apa tidak diundang?


"Udah putus," jawan singkat dan jelas, "tadi gue juga liat Alvian, tapi enggak tau dimana sekarang, dia sama cewek," tambahnya.


"Tu orangnya menuju kemari." Dia menunjuk kearah Alvian dengan seorang gadis, yang berjalan kearah mereka.


"Hai bro, lo juga disini Fan?" Alvian bertanya pada seorang pemuda yang berada diaantara Al dan Icha.


"Hm, yang nikah Kakak gue," jelasnya.


Alvian hanya menagngguk, dia duduk di antara mereka.


"Pacar?" orang yang disapa Fan itu bertanya pada Alvian.


"Ini adek gue. Jangan lirik-lirik dia masih kecil," protes Alvian ketika melihan Irfan melirik sang adik.


"Yaelah, gue cuman mastiin, wajahnya mirip sama lo enggak?"


"Lo tau Cha, Irfan ini saingannya Al, sama-sama playboy, tapi dia enggak setenar Al," Alvian melirik Irfan sama Al secara bergantian.


"Enggak usah ungkit masa lalu, bisa?" protes Al.


"Dan lo tau Cha, kenapa Al sikapnya gitu sama gue? Karena cewek incarannya lebih milih gue dulu," dengan bangganya, Irfan menceritakan itu.

__ADS_1


Icha menoleh kearah Al, wajah suaminya itu seperti tak suka jika mengingat tentang masa lalu. Pantas saja Al terlihat seperti tak suka jika bertemu dengan Irfan, pikir Icha.


"Itu masa lalu, yang penting sekarang Al sayangnya cuma sama aku, iya kan sayang?" Icha mencoba mencairkan suasana, dia tidak mau sang suami terpojokkan.


"Iya sayang," Al meraih tangan Icha lalu mengecupnya, dia menghiraukan ketiga orang yang melihat kemesraan mereka dengan melongo.


"Kalau mau bermesraan jangan didepan para jomblo, di rumah aja lebih seru kan?" protes Irfan.


"Terserah gue dong, istri-istri gue sendiri," bukannya menuruti perkataan Irfan, Al justru sengaja memeluk pinggang Icha yang duduk disampignya dengan mesra.


Alvian dan Irfan hanya bisa mendengus, mereka tak menggubris kelakuan Al yang sudah bucin.


Dulunya, Al dan Irfan teman dekat layaknya seperti dengan Alvian. Mereka bertiga sering kumpul bareng, tetapi karena ada kejadian yang membuat persahabatan mereka renggang, yaitu karena seorang gadis. Gadis yang diincar oleh Al dia justru menerima Irfan. Padahal Irfan tahu gadis itu diincar oleh Al.


Sebenarnya Al tidak masalah, tapi justru Irfan menjauhi keduanya, entah apa alasannya. Tak lama ternyaya Irfan putus dengan gadis itu, dan dia lebih memilih menghindar dari Al dan Alvian. Dan sampai saat ini hubungan mereka hanya sebatas teman biasa, teman satu kelas.


"Ayo kita temui pengantinnya, ikut antri bersalaman," ajak Icha, dia melihat orang-orang sudah mengantri bersalaman dengan pengantin.


Mereka pun beranjak dari duduknya, ikut mengantri supaya dapat giliran bersalaman dengan pengantin baru itu.


Al setia memeluk pinggang istrinya, seperti tak ingin melepaskan pelulannya. Mereka berjalan mendekat kearah pengantin.


Mengucapkan selamat pada kedua mempelai, lalu kembali duduk ditempat yang mereka duduki tadi. Hanya tinggal berempat, entah kemana perginay Irfan tadi.


Icha duduk disamping Al, rasanya dia mudah lelah setelah tahu kalau dia hamil, padahal perutnya saja masih rata.


Icha menyenderkan kepalanya di bahu Al, "Aku capek, pulang dulu aja yuk sayang, sepertinya mereka masih lama," ucapnya.


"Boleh sayang, kita makan dulu ya," tutur Al.


Icha menggeleng, perutnya belum mau diisi oleh makanan. "Aku pingin beli sesuatu nanti sebelum kita pulang, jadi enggak mau makan disini," ucapnya dengan manja.


Perbincangan mereka disaksikan oleh Alvian dan adiknya.


"Kalian tu ya, kalau mau bermesraan jangan didepan anak kecil," protes Alvian.


"Ngiri aja lo," ucap Al.


Lagi-lagi Alvian hanya mendengus, sahabatnya sudah bucin, keduanya sama-sama bucin.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2