Dipaksa Menikah SMA

Dipaksa Menikah SMA
Extra Part 7


__ADS_3

POV Icha


Setelah mendengar penuturan suamiku, jika dokter mengatakan aku harus segera di operasi dengan berbagai macam alasan, rasa takut begitu saja hadir, membayangkan perutku di robek oleh pisau dan alat tajam lainnya. Aku bergidik ngeri membayangkan itu, semua ku pasrahkan sama Yang Maha Kuasa.


Tubuh yang lemah ini, berbaring di atas brangkar. Ada dua tenaga medis yang mendorong brangkar yang ku tiduri, di sisi kanan ada suamiku yang selalu menemani, ia terlihat lusuh, bekas air mata di pipinya masih terlihat jelas bahkan sesekali ia masih menitikan air mata. Saat ini mereka akan membawaku ke ruang operasi.


Brak


Pintu ruang operasi di buka secara kasar, tenaga medis kembali membawa brangkar yang aku tiduri ke dalam ruangan. Jantung ini berdetak lebih cepat, seakan mau lepas karena ketegangan yang aku rasakan bahkan rasa sakit akibat kontraksi tidak bisa mengalahkan debaran jantungku yang menggila. Pikiranku kalut, pikiran negatif berseliweran di kepalaku, aku terus menepis pikiran itu dengan dzikir.


Tangan suamiku tak pernah terlepas dari jari-jari tanganku.


"Kamu pasti kuat sayang, kita berdoa sama-sama ya," tutur lembut suamiku, ucapan dari bibirnya selalu berisi penyemangat dan menguatkan. Aku bahagia sangat bahagia mendapatkan suami seperti dirinya.


Aku tersenyum dan mengangguk mengiyakan. Karena bibir ini tak kuasa berucap, ketegangan yang ku rasakan masih bertahan.


Melihat beberapa dokter menyiapkan operasi, dari mulai mengambil alat-alat untuk operasi. Membatasi tubuh atasku dengan sebuah kain berwarna hijau, hingga aku tak bisa melihat apa yang sedang di lakukan oleh para dokter itu. Karena aku terus berdzikir, menetralkan detak jantungku. Hingga suara dokter mengagetkanku.


"Miring dulu ya Bu," ucap salah satu dokter.


Aku di tutun untuk memiringkan tubuhku karena aku tak bisa melakukannya sendiri. Tubuh ini sudah lemas, entah apa penyebabnya, apa karena sejak semalam aku tidak tidur, atau hal lain aku pun tak tahu.


"Tahan sebentar ya, ini akan sedikit ngilu," ucapan dokter kembali ku dengar.


Benar saja, setelah dokter itu memasukkan jarum di punggung rasanya ngilu sekali, bahkan obat yang masuk ke pembulu darah terasa panas. Entah berapa kali dokter itu menyuntikkan obat yang ku yakini obat bius itu. Aku hanya bisa berdzikir dan meringis menahan sakit.


Setelah selesai aku kembali di baringkan, tubuh bawahku terasa seperti kesemutan, aku mencoba menggoyangkan kakiku tapi tarasa berat.


"Coba goyangkan kakinya," suara dokter kembali menggema.


"Enggak bisa Dok," karena sejak tadi aku sudah mencobanya.


"Terasa sakit apa tidak?" tanya dokter itu, entah apa yang dia lakukan, yang ku rasakan hanya geli saja.

__ADS_1


Aku menggeleng, "Enggak Dok,"


Setelah itu, entah apa yang di lakukan dokter lagi. Aku melihat ke arah suamiku, wajahnya memucat, mungkin dia juga merasakan takut yang sama denganku. Ia terus menggenggam tanganku. Aku pun membalas genggamannya.


Hingga aku merasakan terjadi sesuatu di perutku, sepertinya dokter sudah mulai membedah perut buncitku. Rasanya aku ngeri membayangkannya, tapi ini benar-benar tidak terasa apa-apa hanya guncangan ke kanan dan ke kiri yang ku rasakan.


Para Dokter itu bekerja sambil sesekali bergurau, santai sekali mereka. Apa mereka tidak tahu aku di sini sebagai pasien merasakan was-was dan khawatir luar biasa.


Suara Al membuat aku kembali menatapnya, "Sakit ya sayang?" tanyanya dengan penuh ke khawatiran, sepertinya ia melihat saat perutku di bedah tadi.


Aku menggelengkan kepala pelan, "Enggak sakit, bahkan enggak merasakan apa-apa, hanya kepala yang terasa pusing," memang hanya pusing yang ku rasakan saat ini, dan tentunya debaran jantungku yang menggila.


Aku tersentak saat dokter seperti menindih tubuhku, nafas terasa sesak sekali, beberapa kali dokter seperti mendorong sesuatu dari perutku.


Setelah itu hal yang tak ku sangka, suara tangisan bayi. Aku sampai meneteskan air mata ketika mendengar suara itu, air mata bahagia yang pasti.


Oek Oek Oek


"Bayinya laki-laki ya Pak, Bu," salah satu Dokter membawa bayiku dan menunjukkannya pada kami.


Suara dokter kembali membuatku menitikkan air mata, dan berucap syukur.


"Bayinya kembar Buk," ucap seorang dokter.


"Alhamdulillah," hanya itu yang bisa ku ungkapkan.


Suamiku kembali bersujud syukur, karena kami ternyata di berikan dua amanah sekaligus.


Ia kembali duduk, menggenggam tanganku, setelah menyelesaikan sujudnya, "Alhamdulillah, terimakasih sayang," ucapnya, ia pun tak bisa menahan air matanya.


"Selamat, bayi yang ke dua perempuan," ucapan dokter kembali membuatku bersyukur berlipat-lipat.


Oek Oek Oek

__ADS_1


Suara bayi ke dua ku menggema, menggantika tangisan bayi laki-lakiku.


Al bahkan tak henti-hentinya mengecup keningku. Rasa pusing di kepala ini pun sudah tak terasa, karena kebahagiaan yang berlipat-lipat itu.


Dokter kembali menunjukkan bayi perempuan pada kami.


Bibirku terus berucap hamdalah dengan semua kebahagiaan ini. Sampai aku tak menyadari apa yang selanjutnya di lakukan oleh dokter, kini aku bisa merasakan perutku seperti di tarik oleh benang, mungkin sedang di jahit. Hanya guncangan saja yang ku rasakan, tidak merasakan yang lainnya.


Al masih menggenggam erat tanganku, ia sepertinya tidak berani melihat apa yang dokter lakukan, karena ia hanya memandang wajahku saja sejak tadi. Bahkan ia terlihat tegang, mungkin ia tak sengaja melihat ada darah di sana.


"Kenapa kita tidak tahu sejak awal kalau anak kita kembar ya?" aku mencoba memulai pembicaraan, karena sepertinya suamiku enggan untuk berbicara dalam keadaan menengangkan ini.


"Entahlah, mungkin dokter Hanny mengetahuinya, nanti kita bisa tanyakan, yang terpenting kita harus mensyukuri semua ini," jawab suamiku, ia tersenyum.


"Sakit sayang?" ia kembali menanyakan hal itu.


Tentu saja aku menggeleng, "Apa kamu melihat sesuatu? Kenapa bertanya seperti itu?" tanyaku.


Ia menggelengkan kepala, lalu melirik ke arah perutku.


"Kalau kamu takut, jangan di lihat," aku tahu ia mengetahui sesuatu, makanya mukanya menegang seperti itu. "Lihatlah aku," titahku.


Ia tersenyum dan kini hanya memandang wajahku, tanpa menoleh ke arah perut yang sedang di jahit itu.


"Terimakasih sayang, aku bahagia sekali. Sekarang kita sudah menjadi orang tua," ucapnya, mungkin ia mengucapkan itu untuk mengalihkan perhatian dan ketegangannya. Karena ketegangan masih berlanjut sebelum aku benar-benar keluar dari ruangan ini.


"Iya sayang, sama-sama," jawabku sambil tersenyum.


Satu jam lebih aku dan suamiku berada di ruangan ini, jantung berdebar karena rasa takut, rasa haru karena kebahagiaan, hingga tegang kembali, itu semua kami rasakan. Aku tahu suamiku juga pasti merasakan hal yang sama denganku.


Hingga kini, aku kembali di bawa ke ruang perawatan, bersama suami dan dua bayiku yang sudah berpakaian rapi. Di tidurkan di atas boks bayi, di dorong oleh dua orang suster berbeda.


Keluar ruangan opersai di sambut oleh Papa dan Mamaku, karena Kakak dan Kakak iparku sudah pulang sebelum operasi di laksanakan.

__ADS_1


"Alhamdulillah, Mama punya dua cucu sekaligus," ucap syukur Mama ketika mengetahui bayi yang ku lahirkan ternyta kembar.


__ADS_2