
Al masuk ke dalam ruang rawat Icha beserta mertua dan Nayla. Terlihat Mama Sinta duduk di sisi ranjang, tangannya menggenggam erat jemari sang putri yang masih belum sadarkan diri. Meski belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada putrinya, tapi ia sudah bisa menerka bahwa sesuatu yang tidak mereka inginkan telah terjadi.
Papa Bayu mendekat ke arah istrinya, kedua tangannya memegang pundak sang istri, "Ma, mari kita bicara," ucapnya.
Mama Sinta mengangguk melepaskan genggaman tangannya di jemari sang anak, ia berdiri lalu berjalan menuju sofa.
Al menggantikan posisi Mama mertuanya. Ia memandang lekat wajah sang istri yang terlihat memucat, di dahinya ada perban yang menempel. Rasa sedih terus mengalir, mengingat semua ucapan dokter yang menangani Icha tadi. Tak kuasa air mata pun menetes tanpa permisi. Al meraih jemari Icha menggenggam jemari yang sedikit dingin itu dengan possessive.
Sedangkan Mama dan Papa sudah duduk di sofa saling berhadapan. Nayla duduk di single sofa.
Papa Bayu menceritakan apa yang tadi di beritahukan oleh dokter pada istrinya dengan lengkap tanpa di kurangi sedikit pun. Terlihat Mama Sinta mulai berkaca-kaca, ia bersedih karena calon cucu pertamanya tidak bisa bertahan, meskipun tadi ia sudah menduga, tetapi tetap saja sedih saat mendengar kenyataan yang ada.
Begitu pun Nayla, dia ikut bersedih apalagi semua ini karena kesalahannya, pikirnya. Padahal di sini Nayla tidak bersalah sama sekali, kebetulan saja saat kecelakaan Icha sedang bersama Nayla.
"Jangan bicara dulu sama Icha tentang masakah ini Ma, biarkan dia pulih kembali, Papa takut Icha jadi tambah terpuruk," Papa Bayu menyelesaikan ceritanya.
"Iya Pa, Mama enggak akan ceritakan masalah ini dulu sama Icha, biar dia sehat dulu. Semoga saja nanti Icha bisa mengikhlaskannya ya Pa," air mata masih terus menetes, meski tidak begitu deras.
"Aamiinn, semoga saja Ma," Papa Bayu mengelus pundak sang istri, "Gini Ma, sekarang Papa sama Adit mau ke kantor polisi, mau laporin kejadian ini, Mama tunggu di sini ya, biar Papa hubungin Farhan untuk ikut ke kantor polisi juga, suapaya semuanya lekas terbongkar siapa pelakunya, sengaja atau tidak," jelas Papa Bayu, karena sejak tadi Aditiya sudah menunggu di luar ruangan.
"Iya Pa, hati-hati," timpal Mama Sinta.
Sekali lagi Papa Bayu mengelus pundak wanita paruh baya yang tak lain istrinya, lalu ia bangkit dari sofa. Berjalan keluar meninggalkan ruang rawat Icha. Sebelum benar-benar tubuhnya tertutup oleh pintu, ia menoleh kearah Icha berbaring dengan Al yang setia menemani di sampingnya.
"Al, Papa mau ke kantor polisi, jaga Icha ya. Jangan ceritakan dulu masalah tadi sama istrimu, biarkan dia sehat dulu," tuturnya pada sang menantu.
Al menoleh kearah sang Papa mertua, "Iya Pa," ucapnya.
Lalu Papa Bayu pun benar-benar menghilang di balik pintu.
Sore hari setelah melaksanakan sholat asar, Al kembali duduk di kursi sebelah Icha, meraih jemari Icha, menggenggamnya dengan erat, memandangi wajah cantik istinya yang terlihat memucat. Tak lama terlihat jemari Icha bergerak dalam genggaman Al.
__ADS_1
Al yang menyedari itu, ia menatap jemari istrinya lalu beralih ke wajah, terlihat Icha akan membuka matanya. Al tersenyum melihat istrinya sudah sadarkan diri.
"Aku dimana?" tanya Icha dengan suara parau ia melihat sekeliling ruangan yang bercat puti, di sebelahnya ada tiang cairan yang menyalur pada tangan kirinya. Ada Mama dan Nayla yang duduk di sofa, mereka bangkit setelah mendengar Icha bertanya.
"Di rumah sakit sayang," jawab Al, ia terpakasa memperlihatkan senyum manisnya pada sang istri, supaya istrinya tidak berfikir yang tidak baik.
Al memencet tombol yang berada di dinding dekat brangkar Icha. Memanggil dokter supaya datang ke ruangan itu, karena Icha sudah sadar.
Icha mengingat-ingat apa yang terjadi padanya sebelum ini. Ia ingat jika terserempet mobil di pinggir jalan dekat mall. Rasa ngilu di kepalanya membuat ia memegang dahi yang terbalut dengan perban.
"Pusing. Tenggorokanku juga kering, mau minum sayang," ucapnya pada Al.
Al mengangguk lalu ia berdiri mengambil botol minuman yang berada di atas nakas. Menuangkan air ke dalam gelas lalu memberikannya pada Icha.
"Pusing Cha? Ada yang sakit lagi?" tanya Mama.
Nayla hanya diam membeku, menatap wajah ucat sahabatnya, wajahnya terlihat sendu. Ia tidak bisa menutupi kepedihan batinnya.
"Enggak Ma, cuma pusing aja sama pegel-pegel badanku," jawab Icha.
"Sudah lebih baik, beso atau lusa sudah bisa pulang," ucap dokter setelah memriksa kondisi Icha.
"Di minum obatnya ya," tambahnya.
"Terimakasih Dok," ucap Icha.
Dokter tersenyum lalu berpamitan keluar ruang rawat Icha.
Setelah kepergian dokter dan perawat tadi, Mama duduk di sisi putrinya, meraih piring yang berisi makanan berniat menyuapi putrinya makan.
"Makan dulu ya Cha, setelah ini minum obat," titah sang Mama.
__ADS_1
Icha melihat piring yang berada di tangan sang Mama, hanya ada bubur. Dia menggeleng, "Aku enggak mau makan bubur Ma, nasi aja," tolaknya.
"Yaudah, beli nasi dulu berarti kalau kamu maunya makan nasi. Biar Mama ke kantin dulu ya," Mama berdiri dari duduknya, ia melangkan menuju sofa dimana ada tas miliknya.
"Biar aku yang beli Ma, Mama di sini aja tungguin Icha," ucap Al. Ia berdiri lalu berjalan kearah tempat berbaring Icha.
"Mau nasi sama apa sayang?" tanya Al pada Icha.
"Sama apa aja yang penting enak," jawabnya.
"Baiklah, aku pergi dulu ya,"
Icha mengangguk sebagai jawaban.
Al berlalu menuju kantin rumah sakit, membeli nasi sesuai permintaan istrinya.
Setelah kepergian Icha, tak lama pintu kembali di buka. Dua orang laki-laki dan perempuan paruh baya masuk ke dalam ruang rawat Icha. Menghampiri Icha yang sedang duduk diatas brangkar.
"Gimana keadaannya Cha? Kata Nayla kamu kecelakaan waktu kalian belanja di mall tadi siang, setelah mendengar kabar dari Nayla Tante dan Om langsung kesini," ucap Mama Nayla panjang lebar.
"Udah mendingan Tan, lukanya juga enggak begitu parah Tan, cuma lecet-lecet di bebrapa bagian aja. Makasih yan Om dan Tante mau ke sini jenguk aku," jawab Icha tersenyum melihat kearah dua orang itu.
Belum tahu saja Icha dengan kondisi yang sebenarnya. Jika sudah mengetahui ia pasti akan syok berat, rasanya pasti lebih sakit di bandingkan dengan luka-luka yang terdapat pada bagian tubuhnya yang di berban.
Mama Sinta bersama Nayl mendekat kearah dua orang itu, berjabat tangan lalu mempersilahkan kedua orang tersebut duduk.
"Ma, kenapa perutku perih ya?" ucap Icha saat merasakan perutnya sakit.
Mama mendekat, "Mungkin karena kamu belum makan saja, tadi siang kamu juga enggak makan, kan?" kilah sang Mama, ia paham perut sakit yang di rasakan Icha disebabkan oleh kandungannya yang keguguran.
"Mungkin juga Ma," membenarkan ucapan sang Mama, wajahnya terlihat tak bersemangat sama sekali.
__ADS_1
Bersambung....
Maaf kemarin enggak up, karena kondisi yang kurang fit. Makasih yang udah setia baca novelku...