
"Lo yang sabar ya, semua sudah di gariskan sama yang di atas." Alvian menepuk pundak sahabatnya, baru sekarang ia bisa bicara dengan sahabatnya itu, karena sejak tadi sahabatnya belum bisa diajak bicara.
Mereka saat ini berada di dalam ruang keluarga rumah Al, setelah dari pemakaman tadi Alvian turut serta ke rumah sahabatnya. Ia juga mau menghibur duka lara yang sedang sahabatnya rasakan.
Al mengangguk, "Terimakasih Yan," jawabnya. Al tak berniat mengucapkan banyak kata, hatinya masih pilu, hanya kata terimakasih yang sejak tadi keluar dari bibirnya.
Sedangkan sang istri juga sama, ia sedang dudu bersebelahan dengan sahabatnya, Nayla. Nayla setia menemani Icha, ia menghawatirkan keadaan sahabatnya itu yang sejak tadi tidak terlihat baik-baik saja.
"Nay, aku enggak apa-apa. Kalau kamu mau pulang enggak apa-apa Nay, jangan khawatrikan keadaanku karena di sini juga ada Mamaku," ucap Icha sungkan, ia tidak enak dengan sahabatnya yang sudah seharian ini menemaninya.
"Aku masih mau di sini nemenin kamu Cha. Please, biarkan aku di sini," Nayla memohon, dia memang ingin sekali menemani sahabatnya.
"Yaudah, terserah kamu,"
Nayla tersenyum mendapat jawaban seperti itu dari Icha. Ia juga sebenarnya ingin menginap di sana tetapi ia urungkan mengingat Icha sudah bersuami, tidak single seperti dulu lagi.
Sore hari sebelum maghrib, Alvian dan Nayla undur diri, karena memang di sana juga ada keluarga Icha, serta keluarga dekat Al.
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
Malam hari Icha baru saja memasuki kamar setelah berbincang-bincang dengan keluarganya dan keluarga dekat Al. Karena sejak tadi tak melihat suaminya, ia pun memutuskan masuk ke dalam kamar. Benar saja Al berada di kamar, ia duduk di depan meja rias, entah apa yang sedang ia lakukan.
Icha mendekat kearah suaminya yang sedang menunduk, ia tak tahu pasti apa yang sedang di lihat oleh Al.
Menyentuh pundak sang suami, seketika Al menegakkan kepalanya, ia menoleh kearah Icha dengan tersenyum yang terlihat di paksakan.
"Kamu liatin apa sayang?" tanya Icha, ia melihat ke arah depan Al, disana terdapat selembar foto, tapi Icha tidak melihat jelas foto itu karena tertutup oleh tangan Al.
Icha meraih foto tersebut, foto yang memperlihatkan seorang ibu dan seorang anak laki-laki berumur sekitar sepuluh tahunan. Foto almarhumah Mama mertuanya dan foto sang suami yang terlihat masih imut menurutnya.
Seketika Icha memeluk suaminya, mengusap punggung sang suami dengan sayang. Tanpa terasa air matanya menetes.
__ADS_1
"Kok kamu malah nangis?" tanya Al, harusnya dia yang menangis, kan? Tapi entah mengapa justru istrinya yang menangis. Al sudah tak mau menangisi sang Mama karena ia tahu Mamanya akan menderita di sana jika terus ia tangisi.
Icha menyeka air matanya, ia melepas dekapnnya. Memandang lekat wajah sang suami yang masih terlihat gurat kesedihan disana. "Aku akan ikut sedih jika kamu masih bersedih seperti ini," ucapnya sambil menangkup wajah sang suami. Mengecup sekilas bibir dan pipinya.
Al menggeleng, "Aku sudah menfikhlaskan kepergian Mama. Tadi pas aku meletakkan jam tangan di laci kebetulan nemu foto itu," jelasnya. Al memang tak sengaja menemukan foto dirinya dan almarhumah sag Mama, padahal sebelum Mamanya pergi, tak sedikit pun ia memperdulikan keberadaan foto itu.
"Kamu lucu ya waktu kecil, gemesin juga, gendut lagi enggak seperti sekarang, Mama juga cantik banget," mencoba menghibur sang suami supaya mau tersenyum.
Al tersenyum, memang di foto itu Al terlihat levih berisi dari pada saat ini. Pipinya juga terlihat seperti bakpau. Ia mengambil foto itu dari tangan istrinya, menaruh kembali ke dalam laci.
"Lho kok di ambil sih," protes Icha, dia belum puas memandang foto masa kecil sang suami.
"Aku malu. Udah sekarang kita tidur," ucapnya, menarik sang istri menuju ranjang.
Al mencoba menghilangkan kesedihan yang melanda karena tidak mau membuat istrinya ikut merasakan kesedihan, itu akan berdampak pada bayi yang sedang di kandung sang istri. Meski sebenarnya, masih ada kesedihan di hatinya, siapa yang tidak bersedih jika kehilangan wanita yang sudah mengandung dan mengasuhnya sejak bayi.
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
Kesedihan yang terpancar di wajah mereka pun berangsur menghilang, Papa yang biasanya akan ke makam lebih pagi dari mereka berdua pun kini sudah mau berangkat bersama-sama. Sepertinya sudah mengikhlaskan sepenuhnya kepergia istri tercintanya.
Al melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, sang istri setia dudu di kursi sebelahnya. Sedangkan Papanya duduk di belakang sendirian.
"Sayang, kita cari bubur ayam ya," celetuk Icha, selama seminggu ini dia memang tidak menuntut minta apa-apa, tapi enatah mengapa pagi ini ia kembali merengek.
"Boleh. Papa mau ikut sekalian apa aku antar pulang dulu?" tanyanya pada sang Papa.
"Papa ikut juga enggak apa-apa, makan bubur ayam sepertinya juga enak, sudah lama Papa tidak makan itu," sang Papa sengaja turut serta, supaya Al tak bolak-balik.
Mereka mencari penjual bubur ayam, biasanya di daerah sekitar taman kota ada penjual bubur ayam yang cukup enak, karena Al pernak makan disana kalau ia sedang berolah raga di taman saat hari libur.
__ADS_1
Benar saja, di tempat langganan Al terlihat ramai pengunjung, apalagi ini hari minggu. Banyak orang yang sarapan disana setelah selesai dengan olah raga paginya.
Memarkirkan mobil dekat dari penjual bubur itu, lalu mereka turun bersama mendekat kearah tukang bubur.
Al memesan tiga bubur ayam, lalu ikut duduk di kursi taman yang sedikit jauh dari penjual bubur itu.
"Kenapa cari tempat duduk jauh sekali?" tanya Al pada istrinya, karena sang Papa terlihat sedang menelfon seseorang.
"Di sini lebih sejuh, jauh dari kerumunan juga," jawab Icha, ia melihat sekeliling taman yang terlihat sejuk karena banyak pepohonan.
"Kamu sering kesini ya?" tanya Icha, karena sepertinya sang suami hafal tempat ini.
"Iya dulu sebelum kita menikah," jawab Al. Ia dulu sebelum menikah setiap minggu pagi sering sekali mendatangi taman itu.
"Kenapa aku enggak pernah di ajak ke sini?" tanya Icha, karena memang Al tak pernah mengajaknya ke taman ini.
"Karena kamu enggak mau," jawab Al santai.
"Kapan aku bilang gitu?" sepertinya memang Al tidak pernah mengajaknya ke taman ini.
"Setiap minggu pagi emang kamu mau kalau akau ajak joging? Maunya cuman di sekitaran komplek aja, itu pun bisa di hitung dengan jari, kan?" ucap Al sedikit menyindir, "Oh iya, kita pernah sekali joging di taman, tapi bukan disini," tambahnya, ia mengingat saat pertama kali mengajak Icha berolah raga bersama.
Icha mengakui, memang malas jika diajak berolah raga apalagi joging, ia mau joging kalau di sekitaran komplek saja dan tidak ke tempat yang jauh.
Icha menyengir, "Iya, ya aku lupa," kilahnya.
Saat asyik mengobrol berdua, karena Papanya belum juga selesai telfon tiba-tiba ada seseorang yang datang menghampiri keduanya.
"Hai, apa kabar kalian berdua?" tanya seseorang itu. Ia tersenyum ramah kearah keduanya.
Bersambung....
__ADS_1
**Jangan lupa like dan komennya yah.... Makasih.
SELAMAT TAHUN BARU 2021🥳🥳🥳, semoga di tahun ini menjadikan kita pribadi yang lebih baik lagi. Semoga pandemi yang meresahkan ini segera berlalu berganti dengan semangat baru menjemput asa dan harapan baru.