Dipaksa Menikah SMA

Dipaksa Menikah SMA
DMS 95


__ADS_3

Malam pun tiba, setelah menyelesaikan sholat maghrib, mereka berkumpul di ruang tamu yang cukup luas. Para gadis berencana akan membuat makan malam, sedangkan para lelaki memilih duduk santai di ruang tamu, sambil mengobrol, berbagai macam topik yang mereka bahas. Mulai dari rencana kuliah hingga hal-hal yang remeh.


Icha melangkah ke dapur, dia tak enak jika berdiam diri saja tanpa membantu yang lainnya memasak. Dengan berat hati dan mencoba untuk kuat dari bau bawang putih yang menyengat, dia mencoba membantu teman-temannya yang katanya mau membuat sup itu.


"Aku bantu potong sayurannya yah," ucapnya setelah berada di dapur.


"Iya, biar Dea yang masak, dia kan jago masak," ucap Rara, dia paham dengan sahabatnya itu.


Icha mencoba bertahan, saat isi dalam perutnya ingin segera di keluarkan. Nayla menyadari jika sahabatnya sedang menahan sesuatu, dia pun mendekat.


"Cha, enggak usah paksain kalau kamu enggak enak badan, biar kita bertiga aja yang masak," tutur Nayla, lalu menuntun Icha supaya keluar dari dapur.


"Iya istirahat aja Cha," ucap Dea dan Rara hampir bersamaan.


Icha hanya mengangguk, isi perutnya sudah tak tahan ingin keluar, dia masuk kedalam kamar mandi dan memuntahkan semua yang ada di dalam perut.


Hoek Heok hoek


Nayla lebih dulu mendekat, disusul kedua temannya.


"Masuk angin kamu Cha," celetuk Dea, "Biar aku buatin teh anget ya, kamu duduk aja di depan," tambahnya, lalu dia kembali ke dapur membuatkan teh hangat untuk Icha.


Nayla yang sudah mengetahui semuanya, dia memilih diam dan masih memijit-mijit tengkuk Icha, sampai Icha selesai mengeluarkan isi perutnya.


"Muka kamu pucet banget Cha. Bawa Icha ke kamar aja Nay," titah Rara, dia melihat wajah Icha yang memucat, jadi merasa khawatir juga dengan temannya itu.


Nayla mengangguk, dia menuntun Icha masuk kedalam kamar, melewati semua anak-anak cowok yang sedang asyik menikmati cemilan.


Al mendekat kearah keduanya, dia khawatie dengan kondisi Icha yang seperti itu, "Sayang, kamu muntah lagi?" Al bisa menebak apa yang terjadi sebelumnya. Dia berkata dengan lirih, jadi tak ada satu pun yang mendengar kecuali Icha dan Nayla yanh berada di dekatnya.


Icha mengangguk, lalu dia masuk kedalam kamar bersama Nayla, Al pun mengekori dari belakang.


"Apa lebih baik kita pulang sekarang?" tanya Al, dia begitu menghawatirkan istrinya.


"Jangan gila Al, ini sudah malam. Pulang besok pagi aja, kalian gak usah ikut kegiatan besok," Nayla menyela sebelum Icha menjawab ucapan Al.


"Oke, pulang besok pagi. Tapi nanti biar Icha tidur bareng gue," ucap Al.

__ADS_1


Nayla memelototkan bola matanya, dia tak percaya dengan perkataan Al, bisa-bisanya mau tidur sekamar dengan Icha. Apa dia tidak berfikir, ini dimana? Terus kalau ada yang memergoki gimna?


"Gue tetep mau tidur sama dia, lo gak usah protes," tambhan Al.


"Terserah kalian, aku enggak ikut campur," ucap Nayla, dia akan ke luar tapi Icha mencegahnya.


"Nay, jangan tinggalin aku disini cuma berdua sama Al, nanti mereka mikir yang macem-macem," pinta Icha.


Nayla pun mengurungkan niatnya, saat akan berbalik kearah ranjang Dea datang membawa segelas teh hangat.


"Ini Cha aku buatin teh hangat, kebetulan ada jahe juga jadi aku tambahin sedikit jahe, biar badan kamu lebih enakan," ucap Dea, dia meletakkan segelas teh diatas meja.


"Makasih De," ucap Icha.


"Sayang, kamu keluar aja ya, aku enggak enak sama yang lain, biar Nayla yang disini. Aku enggak apa-apa, kamu enggak usah khawatir," ucap Icha, dia berharap Al mau keluar dari kamar itu.


"Oke aku keluar, tapi kita pulang besok pagi, gak boleh protes," Al tak mau di bantah, dia melakukan itu karena menghawatirkan istrinya.


Dengan terpaksa Icha mengangguk. Setelahnya Al pun keluar dari kamar dan bergabung dengan teman yang lainnya.


"Beneran, gak apa-apa aku tinggal?" Nayla bertanya, dia khawatir dengan keadaan sahabatnya.


"Iya, nanti aku bisa panggil Al kalau ada apa-apa. Tapi kamu gak usah khawatir aku akan baik-baik saja," ucap Icha meyakinkan Nayla suapaya dia mau keluar kamar dan membantu teman-temannya memasak.


"Baiklah, aku keluar ya, minum dulu sebelum tidur. Aku bawa bolu buatan Mama, makanlah buat isi perutmu." Nayla mengambil makanan yang dia bawa dari rumah, lalu meletakkan makanan itu di samping Icha duduk.


"Makasih Nay, kamu memang yang terbaik," ucapnya dengan tersenyum.


"Sama-sama, aku keluar ya," setelah Icha mengangguk, Nayla pun keluar dari kamar itu menuju dapur kembali.


▪︎▪︎▪︎▪︎


Pukul sebelas malam, Icha terbangun. Terlihat Nayla sudah tertidur dengan nyenyak. Dia ingat jika belum melaksanakan sholat isya', lalu dia turun dari ranjang menuju kamar mandi. Melaksanakan sholat isya' di tengah malam.


Setelah sholat dia teringat dengan suaminya, mengambil ponsel ternyata Al mengirim pesan. Dia pun membalas pesan yang Al kirim, pesannya hanya di buka saja oleh Al tanpa di balas, karena tak mendapat balasan dia meletakkan ponsel kembali dan merebahkan diri diatas ranjang bersebelahan dengan Nayla.


Baru saja kepalanya berada diatas bantal, terdengar ketukan pintu dari luar.

__ADS_1


Tok


Tok


Tok


Icha turun dari ranjang dan melangkah kearah pintu, dia membuka pintu tersebut. Mengernyitkan dahinya setelah tahu siapa orang yang mengetuk pintu.


"Kenapa?" tanyanya.


Bukanya menjawab, orang itu justru menarik tangan Icha, lalu menutup pintu. Membawa Icha masuk kedalam kamar. Keadaan di luar kamar memang sedikit gelap, karena lampu utama sudah di matikan, jadi tidak ada orang yang tahu dengan kejadian itu.


Setelah masuk kedalam kamar, dia mengunci kamar tersebut.


"Kita tidur disini ya, aku enggak akan bisa tidur tanpa memelukmu, sayang," siapa lagi kalau bukan Al.


Tadi saat Icha membalas pesannya, dia dan teman-teman lainnya masih berada di teras depan, berkumpul dengan villa tetangga yang ternyata sedang liburan seperti mereka. Ada yang bermain gitar dan nyanyi ada juga yang memilih main game.


Al yang kala itu sedang asyik main game dia langsung pamit, beralasan sudah mengantuk padahal dia memanfaatkan kesempatan ini untuk menculik Icha dari kamarnya, karena dia yakin teman-teman perempuan mereka sudah tertidur.


"Alasan kamu aja," jawab Icha, dia merebahkan diri diatas ranjang, dan Al pun menyusulnya.


"Besok subuh kamu kembali ke kamar. Yang lain pasti belum bangun," ucap Al yakin. Dia menopang kepalanya dengan satu tangan dan menghadap kearah Icha.


"Besok pagi kita pulang ya, atau kamu mau jalan-jalan kemana gitu? Jujur aku enggak enak banget disini enggak bisa peluk kamu," Al tersenyum menatap wajah Icha.


Icha menghela nafas, "Sebenarnya aku masih pengen rame-rame disini, tapi yaudah lah kita besok pulang, aku juga enggak mau mereka curiga kalau kejadian seperti tadi itu," Icha mengalah, meskipun sebenarnya dia masih ingin bersama teman-temannya.


"Yaudah sekarang tidur, udah malem, besok pagi kita pulang, biar yang lainnya meneruskan acara disini. Mereka besok mau berkeliling di kebun teh, aku khawatir kamu kecapean makanya lebih baik pulang," tutur Al panjang lebar.


Icha mengangguk tanpa berucap sepatah kata pun.


Al merebahkan dirinya disisi Icha, menarik istrinya itu kedalam dekapannya. Mereka pun tidur sambil berpelukan.


Bersambung.....


Jangan lupa like dan komennya yah..

__ADS_1


__ADS_2