
Benar saja, Al dan Icha lebih dulu pulang, mereka pulang diantar oleh Alvian, karena Alvian juga akan pulang, adeknya yang terus merengek minta pulang.
Di dalam mobil lagi-lagi Alvian dibuat malas dengan kelakuan sahabatnya yang duduk dibelakang. Dua sejoli itu selama perjalanan bermesra-mesraan. Mengucapkan kata-kata manis dengan manja, memeluk bahkan Al tak ragu untuk mencium sang istri.
Sedangkan adiknya yang didepan tampak tertidur, pulas. Alvian berkali-kali menegur keduanya, tapi tak di hiraukan, akhirnya di lebih memilih diam. Hati belum sepenuhnya melupakan istri sang sahabat, cinta yang tumbuh bertahun-tahun tak semudah itu untuk dilupakan, hatinya masih sakit, apalagi melihat mereka bermesraan seperti sekarang.
Icha menyenderkan kepalanya di bahu sang suami, sedangkan Al memeluk pinggang istrinya erat. Entahlah, Al melakukan itu sengaja atau tidak, dia paham Alvian masih menyimpan rasa untuk sang istri.
"Makanya cari pacar Yan, biar enggak jadi jones gini," ucap Al setelah lama mereka diam.
Alvian mendengus, "Ntar gue sekalian cari istri," timpalnya sewot.
Hahahaha
Al tertawa, dia tahu sahabatnya kesal, "Maaf Yan gue sengaja," ucapnya.
Icha mendongak, "Sengaja kenapa sayang?" tanyanya, dia tidak tahu apa yang dimaksud 'sengaja' oleh suaminya.
Sedangkan Alvian pasti sangat faham dengan ucapan itu.
"Enggak sayang, kenapa-kenapa," Al tersenyum, dia tidak mungkin menjelaskan pada Icha, kalau dia sengaja membuat Alvian panas. Tujuannya supaya Alvian cepat melupakan Icha.
"Aku pengen sate," ucap Icha manja.
Al dan Alvian sama-sama terkejut. Alvian terkejut karena dia tahu Icha tidak suka dengan makanan itu, bahkan dia lebih tahu dari Al, karena saking cintanya dia mencari tahu semua yang disukai dan tidak disukai oleh Icha.
Sedangkan Al, dia terkejut karena lagi-lagi Icha minta itu, dia teringat beberapa hari lalu saat menghabiskan dua porsi sate.
"Bukannya lo enggak suka sate ya?" Alvian lebih dulu meloloskan pertanyaannya.
"Darimana Lo tau Icha enggak suka sate Yan?" pertanyaan mengintimidasi.
"Iya darimana kamu tau kalau aku enggak suka sate?" Icha pun sama herannya dengan Al, tapi dia terlihat lebih santai.
__ADS_1
"Eh, Nayla pernah cerita," kilah Alvian, dia gugup diintimidasi oleh Al.
"Oh, kenapa juga Nayla cerita seperti itu," Icha percaya dengan jawaban Alvian.
Sedangkan Al jangan ditanya, dia tidak percaya dengan jawaban sahabatnya, apalagi saat menjawab Alvian terlihat gugup. Tapi dia tidak akan menanyakan itu lebih jauh lagi sekarang, dia akan tanya saat Icha tidak ada diantara mereka.
"Jadi mau beli sate?" Alvian memastikan, karena didepan sana ada restoran yang menyajikan menu berbagai macam sate.
"Enggak ah, antar pulang ke rumahku ya, bukan rumah Al," jawab Icha, memang tadi mengininkan makanan itu tapi entah kenapa hilang begitu saja keinginannya. Dia juga memberi tahu kalau mereka akan pulang ke rumah Icha.
"Iya," jawab Alvian singkat, dia masih sedikit gugup, memikirkan alasan apa yang akan diberikan pada Al, jika nanti dia bertanya tentang masalah makanan yang tidak di sukai Icha itu. Alvian berfikir lebih baik dia jujur saja.
Tak butuh waktu lama, Alvian sudah sampai didepan gerbang rumah Icha. Setelah pembahasan tentang sate, mereka memilih diam menikmati perjalanan.
"Sayang, kamu masuk dulu ya, aku mau bicara sebentar sama Alvian," tutur Al. Icha mengangguk lalu dia berpamitan dan mengucapkan terimakasih pada Alvian.
Alvian sudah bisa menebak apa yang akan ditanyakan oleh Al.
"Udah dong Al, lo masih cemburu aja sama gue." Alvian menghasap ke jok belakang dimana ada Al. "ya, emang gue tau apa yang enggak disukai dia dan apa yang dia sukai. Kalau soal rumah ini ya pasti gue tau, dulu pernah kesini," jelas Alvian.
"Gue udah tahu sejak dulu Al, gue cari tahu emang, tapi beneran sekarang gue gak ada rasa apa-apa sama istri lo Al, percaya sama gue," Alvian menjelaskan dengan sorot mata penuh permohonan, suapaya sahabatnya itu percaya.
"Enggak mungkin kalau cuma dulu pernah kesini tapi masih hafal," masih saja dia belum percaya penjelasan Alvian.
"Oke, oke, gue jujur," Alvian lebih baik jujur dari pada tambah ribet, karena Al sulit dibohongi.
"Gue sering ngikutin dia saat pulang sekolah sampai dia masuk rumah, tapi itu dulu sebelum kalian menikah. Gue udah jarang ngikutin dia saat kita udah kelas tiga ini, karena gue sendiri sibuk, dan gue pikir sia-sia juga," jelasnya dengan jujur.
"Kak Alvian juga masih nyimpen foto Kak Icha, Kak," suara itu mengalihkan perhatian keduanya.
"Bener Yan?" sudah panas karena api cemburu malah disiram sama bensin, meledak lah.
"Jangan dengerin dia, itu dulu sekarang udah enggak ada," protes Alvian. Dia dulu memang menyimpan foto Icha saat masih SMP. Tapi dia sudah membuangnya setelah tahu kalau dia sudah jadi istri sahabatnya sendiri.
__ADS_1
"Aku kemaren nemu di buku Kak Alvian, Kak," tanpa diminta menjelaskan, adik cantik Alvian itu berkata jujur.
"Buku mana Dek?" tanya Alvian, karena seingatnya dia sudah membuang semua foto Icha.
"Buku paket SMP yang kemarin aku pinjam," jawabnya jujur.
Sorot mata Al terlihat menahan amarah, tapi dia masih bisa mengendalika diri, karena Alvian sahabatnya. Dia akan mendengarkan dulu penjelasan Alvian.
Alvian tampak frustasi, dia benar-benar sudah membakar semua foto Icha, tapi ternyata masih ada yang tertinggal.
"Al, gue udah lama enggak buka buku itu, mungkin ada yang tertinggal, beneran gue enggak berniat menyimpannya lagi," jelas Alvian, dengan frustasi, dia takut sahabatnya tidak akan mempercayainya.
Nyatanya tidak seperti yang Alvian pikirnkan. Al justru percaya dengan sahabatnya itu.
"Gue baru tahu sebegitu cintanya lo sama Icha, coba lo jujur sama gue sejak dulu. Ah sudahlah, gue percaya sama lo," Al memepercayai Alvian, dia tahu Alvian tida mungkin membuka buku anak SMP.
"Buang foto itu, atau kasih ke gue. Gue turun, makasih tumpangannya," tambahnya, lalu membuka pintu mobil dan keluar. Masuk kedalam gerbang rumah keluarga Icha yang sudah terbuka sedikit.
"Lo itu dek, kenapa harus ngomong gitu sih, hampir aja Al marah sama gue, harusnya tadi diem aja," Al mengomelia adiknya, karena kesalahannya hampir saja Al marah.
"Gue jujur Kak, ya maaf kalo salah," dia cemberut, lalu menyandarkan kepalanya di jok mobil, memejamkan matanya kembali.
Alvian sudah melajukan kembali mobilnya, membelah jalan raya.
Sedangkan Al, dia langsung mengusul istrinya yang sudah masuk kedalam kamar. Dia melihat Icha duduk didepan meja rias, melepaskan jilbabnya, lalu menghapus make up yang menempel diwajahnya.
"Kok lama sekali, kalian membicarakan apa?" tanya Icha tanpa melihat kearah Al.
"Bukan apa-apa, hanya masalah ujian besok senin," kilah Al, dia tidak mungkin jujur pada sang istri.
Icha mempercayai itu, dia tidak curiga sama sekali dengan jawaban suaminya.
Bersambung.....
__ADS_1