
Al menuruni anak tangga, dia berjalan menuju dapur. Terkejut saat ada orang berdiri di depan kulkas, pasalnya orang itu berpenampilan seperti nenek sihir, karena rambut panjangnya yang bergelombang tergerai berantakan, pakaian yang melekat ditubuhnya daster berwarna hitam. Ketakutannya hilang saat orang itu menoleh kearahnya.
"Eh Bibik, aku kira siapa Bik," celetuknya saat tahu bahwa itu pembantunya.
"Maaf Mas, Bibik haus." Dia memperhatikan pakaian yang dikenakan oleh Al, "kok gak pake baju Mas?" tanyanya kemudian, karena melihat Al bertelanjang dada.
Al menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba terasa gatal, "Ah itu.... Em, panas Bik," bohongnya, terlihat sekali jika dia berbohong karena ucpannya yang terbata.
"Ace nya gak dinyalakan Mas?" tanya pembantunya memastikan.
"Enggak Bik, Icha kedingingan," kilah Al, lalu dia mengambil air didalam kulkas.
"Apa ada yang bisa Bibik bantu Mas?" pembantu itu akan pergi tetapi dia memilih bertanya pada majikannya siap tahu membutuhkan bantuan.
"Enggak Bik, Bibik kembali ke kamar aja, aku cuma mau ambil minum," jawab Al.
Pembantu itu pergi setelah berpamitan dengan Al.
Al membawa satu botol air putih, dab satu gelas jus alpukat kesukaannya ke dalam kamar. Pembantunya selalu menyiapkan jus kesukaan Al itu di kulkas, karena tadi belum dia minum jadi masih ada disana.
Al membuka pintu dengan kakinya, karena kedua tangannya membawa nampan berisi air minum. Dia meletakkan nampan diatas nakas, lalu kembali kearah pintu untuk menutupnya.
"Sayang, katanya haus, ayo minum dulu." Tutur Al sambil memgang bahu Icha yang tidur memebelakanginya.
Icha membalikkan tubuhnya menghadap Al, dia ingin duduk tetapi area intinya terasa perih, "Duh," keluhnya.
"Sakit ya?" tanya Al, dia merasa iba melihat istrinya mengaduh. "maaf ya sayang, sini biar ku bantu." Al membantu Icha untuk duduk, lalu dia memberikan minuman pada Icha.
"Iya gak apa-apa, ini sudah menajadi kewajibanku," tutur Icha, dia tersenyum pada suaminya, takut jika Al merasa bersalah.
"Makasih sayang, aku mencintaimu," ucap Al dia menatap wajah Icha yang tersenyum kearahnya dan membalas senyuman itu.
"Aku juga mencintaimu," Icha tersenyum saat membalas ungkapan cinta Al.
Lalu Icha merebahkan dirinya dan disusul oleh Al. Mereka tidur saling berhadapan, tersenyum mengingat kejadian yang baru saja terjadi diantara keduanya.
"Sayang, kamu terlihat lebih cantik dan lebih manis kalau seperti ini," ucap Al lalu mencolek dagu Icha dengan gemas.
"Mulai deh gombalnya," Icha memasang wajah sejelek mungkin.
__ADS_1
"Beneran aku gak gombal, apalagi saat kamu polos seperti ini, kecantikanmu bertambah seribu persen," Al tersenyum menghoda.
Bugh
Icha memukul dada Al, sang empunya hanya tertawa ringan, karena dia tidak merasakan sakit dari pukulan yang diberikan oleh Icha.
"Kamu mesum!" seru Icha, dia malu digoda seperti itu oleh Al. Dia akan memukul kembali dada Al, tapi tangannya dengan cepat di tahan oleh Al.
"Nambah lagi ya sayang," pinta Al, dia menatap Icha penuh cinta.
"Emang kamu gak capek apa?" sebenarnya Icha akan menolak, karena rasa sakit dibagian intinya masih terasa, tetapi dia tidak mau mengecewakan suaminya.
"Aku nggak akan capek kalau seperti itu, selama kamu masih kuat," Al tersenyum karena Icha mengangguk, dia tahu Icha pasti tidak akan menolaknya.
Merekapun kembali melakukan olah raga malam, entah sampai berapa kali mereka melakukannya. Bahkan mereka tidak sadar tertidur pukul berapa.
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
Pagi menjelang, diluar kamar terlihat terang meskipun matahari belum menyapa dengan sinar jingganya. Dua manusia yang semalam baru melakukan kegiatan yang selama ini belum pernah mereka lakukan, masih terlihat pulas dengan saling memeluk satu sama lain.
Deringan dari ponsel sang istri membangunkannya. Meraih ponsel yang ada diatas nakas, lalu memencet tombol hijau di ponsel tersebut, tanpa melihat siapa si penelfon.
Al melihat ponsel Icha, tertera nama Nayla disana, "Ganggu orang tidur aja, pagi-pagi gini udah teriak-teriak," dengus Al.
"What? Jam segini masih tidur, astaghfirullah, ini udah jam berapa liat Al? Eh Icha mana? Kok kamu yang jawab?"
"Masih tidur," jawab Al malas.
"Kalian ini, jam segini belum bangun, gak takut telat apa? Ini udah hampir jam enam Al,"
Al melihat kearah jam dinding, benar kata Nayla jam sudah menunjukkan pukul 05.45, lalu dia melihat wajah Icha yang terlihat lelah karena kegiatan mereka semalam.
"Icha sakit, ntar ijinin ya Nay, tasnya bawa aja, ntar biar gue yang bawa pulang, gue tutup telfonnya," ucap Al, lalu dia memutus sambungan telfonnya tanpa mendengarkan jawaban Nayla.
Al membangunkan Icha dengan perlahan, "Sayang, bangun. Ini sudah siang, ayo kita mandi dulu." Ucap Al sambil menepuk-nepuk pipi Icha perlahan.
Icha mengerjapkan matanya, membuka perlahan kelopak matanya, menyesuaikan dengan cahaya yang ada di dalam kamar tersebut.
"Eeuhh, ini jam berapa sayang?" tanyanya setelah sadar kalau ternyata sudah terang diluar kamar.
__ADS_1
"Hampir jam enam, ayo mandi kita telat sholat subuh," tutur Al,
Icha terkejut mendengar penuturan Al, mereka kesiangan. Tetapi saat akan bangun, bagian intinya terasa sakit, bahkan lebih sakit dari semalam.
"Aduh," Icha mengaduh merasakan perih diarea intinya.
"Masih sakit ya? Biar aku gendong ke kamar mandinya," ucap Al, lalu dia menggendong tubuh Icha yang tertutup oleh selimut. Dia membawa Icha masuk kedalam kamar mandi.
"Aku mau mandi sendiri aja, biar cepet, nanti kita telat ke sekolah," celetuk Icha.
"Kamu gak usah sekolah, udah aku kasih tau ke Nayla kalau kamu sakit. Biar aku yang sekolah, kamu pasti akan sulit untuk jalan karena masih sakit, kan?"
"Tapi ...."
"Sttt, gak ada tapi-tapian, nurut ya. Sekarang mandi dulu,"
Icha mwngangguk, dia mandi didalam bathup sedangkan Al mandi dibawah guyuran shower.
"Biar ku gendong lagi, kalau masih sakit," tutur Al setelah dia menyelesaikan mandinya.
"Gak usah sayang, aku bisa sendiri, kamu duluan aja, ntar telat sekolahnya," titah Icha.
Al pun mengangguk, lalu dia keluar kamar mandi meninggalkan Icha yang masih membilas tubuhnya.
Mereka tetap melaksanakan sholat subuh, meskipun kesiangan.
Al sudah berpakaian rapi, dia akan berangkat kesekolah. Al menghampiri Icha yang duduk didepan meja rias, sambil memandang sekitar leher dan dadanya yang penuh tanda cinta dari suaminya.
Al tersenyum, saat mendapati banyak tanda yang dia buat diasana.
"Kenapa malah senyum-senyum gitu? Kamu sudah telat sayang, ini hampir setengah tujuh lho," ucap Icha saat mendapati Al malah tersenyum memandanginya.
"Gak apa-apa, aku bangga aja liat itu," ucap Al
"Udah ah sana berangkat, aku gak mau kamu telat," usir Icha.
"Baikah sayang, aku berangkat dulu ya. Aku mau naik motor biar cepet, kamu baik-baik dirumah ya sayang," pamit Al, dia mengecup singkat kening Icha, lalu Icha mencium punggung tangan Al. Setelahnya Al keluar kamar dan pergi kesekolah.
Bersambung.....
__ADS_1
jangan lupa like dan komennya ya, makasih