
Al menelusuri seluruh apartemen, tidak juga menemukan adanya orang disana, tetapi di sofa depan ada sebuah tas yang tergletak, dia yakin itu tas Martha, karena dia pernah melihat tas itu.
Martha memang memiliki apartemen sendiri, tapi apartemen itu dia gunakan untuk ngumpul bareng teman-temannya, tidak dia tinggali. Karena dia masih tinggal dirumah dengan orang tuanya.
Hanya kamar yang belum Al periksa, dia yakin mereka ada di dalam kamar. Alvian selalu mengekori kemanapun Al melangkah, dia tidak jengah sama sekali.
Al memasuki kamar yang terdengar ada orang didalamnya. Al lancang, memang iya karena dirinya dikuasai oleh emosi yang menggebu-gebu. Dia membuka pintu kamar dengan paksa, saat pintu terbuka terlihat tiga gadis yang sedang bercanda ria tanpa dosa diatas ranjang. Mereka tercengang dengan kedatangn Al dan satu temannya.
"Apa mau kalian sebenarnya, hah!" teriakan Al menggema di dalam kamar tersebut. Dia melangkahkan kaki lebih dekat dengan ketiga gadis itu. Dia menatap satu persatu dari ketiganya, "jawab!" teriaknya lagi.
Mereka sedikit ketakutan melihat Al yang murka seperti itu, karena selama ini yang mereka tahu Al adalah cowok yang suka gombalin cewek dengan gombalan recehnya, tidak seperti sekarang. Serasa ingin memakan ketiganya secara hidup-hidup.
"Jawab!" ulangnya lagi.
"Kalau kalian kecewa sama gue, kenapa gak bales ke gue!?" emosinya belum juga reda.
"Kenapa kalian diam, hah!" Al rasanya ingin memukul mereka jika saja mereka laki-laki.
"Karena dengan nyakitin istri lo itu, lo akan lebih terluka, dibanding kita nyakitin lo langsung," Nasita membuka suaranya lebih dulu, tatapannya menantang.
"Kalian semua harus tanggung akibatnya!" Al menatap Nasita bergantian dengan Martha, dia tidak menatap Anggun, karena Anggun menundukkan wajahnya.
"Lo mau mau apa? Mau laporin kita ke polisi? Atau mau laporin ke pihak sekolah? Silahkan, gue gak takut," Nasita menantang, dia memang yang paling berani jika berhadapan dengan Al langsung. "gue di DO dari sekolah lo dan istri lo juga akan bernasib sama," dia mengucapkan itu dengan santai.
Al mengernyitkan dahinya, dia berfikir. Dia lupa akan hal itu, jika Martha sudah mengetahui kalau dia sudah menikah.
"Sial!" Al menendang meja rias yang ada disampingnya berdiri. Sehingga semua yang ada diatasnya bergoyang bahkan ada yang terjatuh. "awas kalian gue gak akan tinggal diam, lihat saja!" Al melangkahkan kakinya untuk keluar dari kamar itu.
"Ingat Al jangan macem-macem, kalo gak mau rahasia lo terbongkar," Nasita mengancam Al.
Al berhenti melangkah, dia mendengarkan apa yang dikatakan oleh Nasita, tetapi dia tidak menoleh. Setelah Nasita dia Al melangkah lagi, dia menutup pintu kamar apartemen itu dengan kencang.
__ADS_1
Braak
Ketiga gadia yang ada didalam sana terkejut dengan kelakuan Al, tak urung Alvian pun terkejut, apalagi dirinya yang berada pas di samping Al.
Mereka berdua keluar dari apartemen Martha dan kembali ke kantor Papa Al lagi. Selama perjalanan Al terlihat masih kesal, dia tidak bisa berbuat apa-apa sekarang. Berkali-kali dia memukul setir mobil karena frustasi.
"Istighfar Al, mungkin Allah gak ngijinin lo buat bales perbuatan mereka, tapi Allah sendiri yang akan membalasnya bro, tenangkan diri lo saat ini," tutur Alvian, dia memang selalu bisa menenagkan hati sahabatnya.
Al menoleh sekilas kearah sahabatnya itu. "Gue gak bisa tinggal diam Yan, gue takut mereka berbuat yang lebih sama Icha," emosinya sudah semakin mereda.
"Yang harus lo lakuin sekarang, jaga Icha dengan baik, jangan beri mereka kesempatan untuk berbuat jahat pada istri lo. Gue yakin lo pasti bisa," lagi-lagi Alvian memberi petuah.
"Kalo itu pasti Yan, gue gak akan biarkan seorang pun melukainya. Gue akan jaga dia sekuat tenaga gue Yan," timpal Al, matanya tetap fokus pada jalanan.
"Biarkan mereka tertawa karena menang hari ini, tapi percaya lah Al, setiap kejahatan pasti akan dibalas dengan kejahatan juga, sekarang lo gak usah nambah masalah jadi runyam, biarkan mereka bahagia, mengalahlah untuk sekarang ini,"
"Tapi gak semudah itu Yan, gue gak bisa ngebiarin mereka tertawa bahagia karena udah berhasil ngancam gue,"
"Oke akan gue coba ikutin saran lo," akhirnya Al menyetujuinya.
"Satu lagi, bilang sama istri lo untuk hati-hati sama Martha, mulutnya manis banget, tapi sebenarnya dia menghanyutkan,"
"Pasti kalo itu, gak akan gue biarkan cewek itu deketin istri gue lagi," Al geram mengingat kemarin Martha pura-pura baik pada Icha.
"Gue percaya lo pasti bisa hadapin ini semua Al." Alvian menepuk pundak Al sekilas.
"Makasih Yan," Al tersenyum menatap Alvian sekilas.
Tak lama keduanya pun sampai di kantor Al lagi. Alvian masih saja mengekori Al, dia terlihat bagaikan asisten pribadi Al seperti dalam drama-drama yang disukai para ABG.
Al masuk kedalam ruangannya, dia duduk di kursi kebesarannya, seraya berfikir sesuatu.
__ADS_1
"Apa gue usik aja perusahaan keluarga mereka ya Yan? Gue batalin kontrak kerjasama misalnya?" Al mengeluarkan unek-unek yang baru saja muncul.
"Jangan gila Al, ini masalah pribadi, jangan bawa sampai ke bisnis. Gue yakin Papa lo gak akan menyetujui hal ini, secara Om Davit tidak pernah membawa masalah pribadinya dengan bisnis," Alvian melarang, dia tahu sifat Papa Al yang baik hati itu.
"Iya juga sih, apa alasan gue buat mutusin kontrak kerjasama, selama mereka tidak membawa urusan pribadi dengan bisnis, gue juga gak mungkin lakuin itu," Al benar-benar sudah kehabisan akal untuk membalas ketiga gadis itu.
"Nah itu maksud gue. Sekarang lakuin seperti saran gue tadi aja," Alvian mengingatkan ucapannya di mobil tadi.
Al menghela nafas, "Iya Yan emang itu yang harus gue lakukan sekarang,"
"Makasih ya Yan, lo udah ngasih nasehat buat gue. Gue beruntung punya sahabat seperti lo, ya meskipun gue sempat sebal juga, karena lo mencintai istri gue,"
"Ck, yang satu itu gak usah disebut-sebut, gue udah lupain dia Al. Karena dia udah jadi milik lo seutuhnya, gue gak berhak kecuali lo terlantarin dia," sebenarnya hati Alvian masih ada rasa untuk istri sahabatnya, tetapi dia selalu menepisnya, dia tidak mau melukai sahabatnya.
"Maafin gue Yan, udah ngrebut orang yang lo cintai. Coba aja lo ngomong dari dulu sebelum gue nikah, pasti gue akan tolak mentah-mentah dijodohin sama dia," Al menjeda ucapannya.
"Tapi kalau akhirnya seperti ini lebih baik gue gak tau aja, kalau gue tahu pasti gak bakalan miliki dia seperti saat ini," Al tersenyum
"Sudah jalannya seperti ini Al," ucap Alvian, lalu dia berdiri dari duduknya, "gue pulang, udah sore, di tunggu Nyokap dirumah," pamitnya.
"Gue juga mau pulang, udah di tunggu istri dirumah," Al tersenyum mengejek Alvian.
"Percaya yang udah punya istri mah bebas," Alvian mepangkah lebih dulu untui keluar dari ruangan Al, dan disusul oleh Al.
Merekapun pulang kerumah masing-masing. Al yang sudah sangat rindu dengan pujaan hatinya itu, dia ingin cepat-cepat sampai rumah.
.
Bersambung......
Jangan lupa like dan komen ya guys... makasih😘😘
__ADS_1