
Siang hari Al dan Icha berencana mengunjungi rumah keluarga Icha. Karena tidak ada kegiatan yang mereka lakukan, mengingat masih liburan dan masa perkuliahan pastinya belum di mulai.
Sudah rapi dengan pakaian santai yang mereka kenakan, menemui sang Papa yang sedang menonton berita di televisi.
"Pa, kita mau ...." ucapan Al terpotong saat mendengar suara bel rumahnya.
"Biar aku yang bukain," ucap Icha. Melangkah kearah pintu utama, melihat siapa yang bertamu.
"Mama, Papa!" seru Icha saat mendapati kedua orang tuanya lah yang berkunjung. "Baru aja aku mau kesama, Mama sama Papa udah datang duluan," tambahnya.
Menyalami kedua orang tuanya, lalu menyuruh keduanya masuk bergabung dengan suami dan mertuanya.
"Kami baru saja mau kerumah Mama," ucap Al setelah menyalami mertuanya.
"Sekali-kali kita berdua yang kesini, tidak masakah, kan?" ucapan sang Mama mertua.
"Iya Ma, terimakasih," timpal Al sungkan.
Icha menyuruh pembantunya membuatkan minum untuk kedua orang tuanya.
"Sebenarnya kami ke sini juga ada tujuan tertentu," Papa Bayu membuka pembicaraan, "Selain silaturrahmi kami juga mau menayakan suatu hal pada Al dan Icha," menoleh ke arah Al dan Icha.
"Sesuai perkataan Papa waktu itu sebelum kalian ujian, Papa akan memberikan tiket liburan buat kalian, apa kalian mau menerimanya atau tidak terserah kalian, mengingat kita masih dalam suasana duka," tambahnya panjang lebar.
Al dan Icha saling pandang, seakan melempar pertanyaan 'mau apa tidak?'.
"Kalian pergilah berlibur, sebelum masuk kuliah karena jika sudah masuk pasti kalian akan sibuk dan enggak sempat liburan," tutur Papa Davit.
"Enggak usah Pa, kita menikmati liburan di sini saja, lagian aku enggak mau merepotkan Al kalau harus keluar negri," Icha mebolaknya dengan halus karena ia tahu suaminya pasti meminta ia yang menjawab.
"Yaudah, itu terserah kalian saja. Untuk acara resepsi pernikahan, gimana? Mau kapan?" pertanyaan itu terucap dari bibir Papa Davit.
"Al sama Icha sudah sepakat untuk melakukan resepsi kalau anak kita sudah lahir saja, Pa. Sekalian syukuran buat bayi kita," ucap Al. Mereka memang sudah menyepakati jika resepsi akan dilakukan setelah anak Icha lahir, karena saat ini masih dalam keadaan duka.
"Baiklah, kami para orang tua hanya bisa mengikuti kemauan kalian saja,"
Mereka pun asyik berbincang-bincang hangat.
Al dan Icha tidak mengikuti kegiatan perpisahan yang diadakan oleh sekolah, karena selain masa duka, Icha juga tidak mau merepotkan suaminya dengan keadaan yang seperti itu.
Penerimaan ijazah di sekolah pun mereka tidak mengikuti, karena masih dalam masa duka. Orang tua mereka sudah mengonfirmasi ke pihak sekolah supaya keduanya di ijinkan tidak mengikuti acara terahir di sekolah itu.
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
Pagi ini setelah kepergian sang Papa ke kantor, Al dan Icha memutuskan untuk tetap stay di rumah. Sesuai permintaan sang Papa, Al tidak di perbolehkan ke kantor karena kondisi istrinya, ia di suruh menjaga istrinya di rumah saja, karena ada sang Papa yang bekerja.
__ADS_1
Ting tong
Ting tong
Ting tong
Suara bel berbunyi, dengan sigap pembantunya membukakan pintu. Mempersilahkan tamu tersebut masuk dan duduk di ruang tamu.
Al menghampiri tamunya, dia mengernyitkan dahi menjadi beberapa lipatan saat tahu siapa yang datang. Dua orang yang sangat dia kenali.
"Kenapa ngajakin dia?" tanya Al pada sahabatnya.
"Maaf Al, aku yang meminta Alvian buat anterin kesini, katanya dia juga ada perlu sama kamu," ucap gadis yang datang bersmaa Alvian.
Al menatap wajah Alvian, seakan menanyakan 'ada apa?'.
"Gue mau pamitan sama lo, minggu depan gue berangkat ke London. Gue menyetujui permintaan Bokap untuk kuliah disana," jelas Alvian, sebenarnya dulu dia pernah menolak jika disuruh kuliah di luar negeri.
"Lo serius? Kenapa?" tanya Al, ia paham sekali dengan sahabatnya itu.
"Yah, pengen aja. Kalo disini gue ketemunya lo melulu," ucap Alvian asal.
Al mengangguk, "Bagus deh," ucapnya.
"Enggak sama sekali, justru seneng, karena enggak ada yang lirikin istri gue lagi," masih dengan nada santai, seakan itu sudah biasa.
"Ck," Alvian berdecak. Saat ia akan bersuara Icha lebih dulu datang menghampiri mereka.
Icha duduk di sisi Al, "Ada apa? Tumben?" heran dengan kehadiran kedua insan itu.
"Cha, Al, aku kesini bener-bener mau minta maaf seperti yang aku katakan waktu itu di taman, aku serius, aku menyesal dengan semua kejahatan yang pernah aku lakukan ke kalian berdua," menjeda kalimatnya sebentar, "Aku minta doanya, seminggu lagi mau ke London kebetulan bareng sama Alvian, kita mau nerusin kuliah disana. Aku enggak mau pergi membawa dendam," ucapnya panjang lebar, terdapat ketulusan di bola matanya.
Icha mendekat, ia memilih duduk di samping gadis itu, "Iya, kami sudah memaafkanmu. Semoga kuliahnya lancar ya, Alvian juga," ucap Icha tersenyum.
"Makasih ya,"
Icha tersenyum lalu dia mengangguk lalu dia memeluk gadis itu yang tak lain adalah Martha.
"Good luck buat kalian berdua ya, hati-hati di negri orang. Jaga Martha disana Vian," tutur Icha.
"Kalian satu kampus?" tanyanya.
Martha mengangguk, "Iya, kebetulan banget. Padahal aku enggak tahu kalau Alvian kuliah disana juga,"
"Bagus deh, sudah punya teman dari sini, jadi kalian enggak seperti orang ilang entar," Icha cengengesan saat mengatakan 'orang hilang'.
__ADS_1
"Emang anak kecil, hilang," protes Alvian dia tidak terima dikatakan orang hilang.
"Becanda Vian," timpal Icha.
"Al maafin aku, kan?" tanya Martha pada Al.
Al hanya mengangguk, dia tidak ingin membalas ucapan Martha, takut istrinya cemburu dan merajuk lagi.
Pembantunya datang membawakan minuman untuk mereka.
"Makasih Bik," ucap Icha pada pembantunya.
"Ayo silahkan diminum," Icha mempersilahkan mereka meminum-minuman yang di sajikan pembantunya.
"Iya makasih,"
Keduanya pun minum, lalu melanjutkan obrolan tentang kuliah di London.
"Icha aku dengar-dengar kamu udah hamil ya?" tanya Martha, keduanya kini berada di samping rumah depan taman.
Sedangkan Al dan Alvian berada di ruang keluarga entah mereka membahas apa.
"Alhamdulillah, kamu tahu dari siapa?"
"Kemarin ada yang membicarakan kalian waktu di acara perpisahan, mereka menggosipkan kalian yang tidak-tidak, ada yang bilang kamu nikah sama Al karena hamil dulu, nah saat itu ada aku, dan aku menjelaskan semuanya. Maaf ya," jelas Martha panjang lebar.
Icha tersenyum, "Tidak apa-apa, justru aku berterimakasih, karena penjelasan kamu mereka jadi tidak suudzon," ucapnya.
"Nayla juga bilang sih, kalau ada yang gosipin aku seperti itu," tambahnya.
"Iya, anak-anak sekarang sudah banyak yang tahu kalau kalian ternyata sudah menikah. Guru-guru pun iya," ucap Martha.
"Iya, Papa sudah bilang ke guru-guru soal itu, setelah kita selesai ujian," jelas Icha.
"Pantes aja,"
"Gimana rasanya hamil Cha? Penasaran banget aku," tanya Martha antusias.
"Rasanya nano-nano Tha, tapi tetep aku syukurin semuanya, demi anak ini," ucap Icha sambil mengelus perutnya yang sedikit menonjol, tetapi belum terlihat karena usia kandungannya baru memasuki dua bulan setengah.
"Pasti bahagia banget ya, kalian berdua. Aku kok gemes bayangin kamu punya debay," ucap Martha membayangkan Icha menggendong bayi.
Icha menceritakan saat pertama hamil ia tidak menerimanya, hingga saat ini ia bahagia karena mengandung janin itu.
Bersambung...
__ADS_1