
Pagi ini Al dan Icha harus berangkat ke sekolah, karena hasil ujian akan diumumkan pagi ini. Ya, sudah sebulan berlalu setelah ujian dilaksanakan dan mereka was-was dengan hasil yang akan keluar nanti.
Al dan Icha sudah kembali kerumah mereka setelah pulang dari puncak waktu itu. Icha masih saja mual-mual di pagi hari, dia juga masih tak mau makan nasi, kalau sayur dia sudah mulai mau memakannya. Ngidamnya pun masih saja, kadang membuat Al kerepotan ketika Icha merengek di malam hari meminta sesuatu dan Al yang harus memasaknya. Minum susu saja jika bukan Al yang membuat dia tidak mau meminumnya. Al memaklumi keadaan istrinya itu.
"Sayang, ponselku ada di situ enggak?" tanya Al, mereka sedang berada di dalam mobil, akan menuju ke sekolah. Berpakaian layaknya anak SMA, karena memang mereka masih berstatus siswa SMA.
Icha mencari di dasbor depan, tetapi tak ada benda yang dia cari, "Enggak ada sayang," ucapnya masih meneliti seluruh dasbor. Wanita berjilbab itu kini terlihat makin gemuk saja, meski tak mau makan nasi tapi dia selalu mengkonsumsi makanan manis, seperti browniss, tiramissu dan sejenisnya.
"Coba aku hubungi ya, mungkin tertinggal di kamar," tutur Icha, dia mengambil ponselnya dan menghubungi nomer suaminya. "Nah kan, gak bunyi disini, berarti tertinggal di kamar," tambahnya.
"Iya mungkin, yaudah biarkan saja, kita kesekolah juga sebentar, nanti pulang dulu baru ke kantor," ucap Al pandangannya masih fokus kearah jalan raya.
Selama menunggu pengumuman, Icha memang selalu membuntuti Al kemanapun dia pergi. Selalu ikut ke kantor, dan disana dia hanya tidur seharian kadang juga mencari informasi tentang kampus yang dia inginkan. Dia ingin kuliah satu kampus dengan Al, karena tak bisa jauh-jauh dengan suaminya itu.
Tak lama mereka pun sampai di sekolahan yang sudah sebulan ini tidak mereka pijaki. Di area lantai bawah terlihat sepi, karena pengumuman di tempel di depan kelas mereka masing-masing yaitu di lantai tiga khusus untuk anak kelas tiga.
Al menuntun sang istri menuju lantai tiga, wanita yang sedang mengandung dua bulan lebih itu tak menolak ketika suaminya menggandeng tangannya dengan mesra.
Sampai di lantai tiga, mereka di sambut dengan suara histeris siswa lain, histeris karena mereka bahagia atas hasil yang mereka dapatkan.
"Selamat Icha sayang, kamu jadi juara umum lagi." Nayla menubruk tubuh Icha setelah melihat kedatangan perempuan itu.
Icha masih terdiam, dia belum puas jika belum melihat hasilnya dengan mata kepala sendiri. Tetapi dia tetap membalas pelukan sahabatnya itu.
Selama libur, Nayla memang sering datang kerumah Icha, mereka shopping bareng dan kadang nonton bareng tanpa Al tentunya, karena Al bekerja dan dia tidak mau di ganggu dengan orang lain saat hari minggu, jadi Nayla selalu datang selain hari libur.
__ADS_1
Icha melepas pelukannya, "Aku mau lihat Nay," ucapnya. Setelah mendapat anggukan dari Nayla dia pun menyusul Al yang sudah sejak tadi melihat papan pengumuman.
Wanita dengan tinggi 155 centimeter itu tak dapat melihat pengumuman yang terpasang, karena di depannya ada siswa yang lebih tinggi dari dia. Berjinjit pun hasilnya nihil, dia harus bersabar terlebih dahulu.
"Permisi, boleh aku maju?" ucapnya pada siswa di hadapannya.
Siswa itu mengangguk, lalu Icha maju melihat hasil pengumuman, "Alhamdulillah, Mama sama Papa pasti seneng," gumamnya, dia bersyukur karena nilai yang dia peroleh sempurna. Semua mata pelajaran mendpatkan niali sepuluh. Itu sudah menjadi hal biasa buat Icha, tetapi kali ini rasa syukurnya bertambah, karena ini nilai terahir yang dia dapatkan di bangku SMA.
Setelah melihat nilainya, dia mencari diaman sang suami, ingin sekali melihat hasil yang di peroleh sang suami. Karena pengumuman untuk anak IPA dan IPS berbeda, jadi dia memutuskan untuk mencari Al di area anak-anak IPS.
"Gimana hasilnya Al?" tanya Icha setelah menemukan sang suami yang masih mematung di depan papan pengumuman.
Al menoleh, dia hafal sekali dengan suara itu, "Alhamdulillah berkat kamu sayang, lihatlah." Al menunjukkan nama dirinya di papan pengumuman itu.
"Selamat ya sayang, aku ikut seneng," ucapnya, lalu dia melepas pelukannya karena menyadari banyak yang melihat mereka berdua. Tersenyum canggung karena merasa malu dengan teman-teman Al, karena di sekitarnya hanya ada dia senidir yang perempuan yang lainnya cowok semua.
Icha menarik Al menjauh dari mereka semua, "Sayang, aku malu," keluh Icha setelah mereka jauh dari kerumunan para cowok itu.
Al tersenyum, dia tahu kalau istrinya itu malu sekali, "Sudah enggak usah di pikirkan," ucapnya.
"Tapi tadi beneran malu banget, seakan-akan aku cewek agresif, meluk cowok duluan," Icha masih saja mengeluh, padahal Al suaminya, mau dia agresif atau apa, itu tidak masalah bukan?
"Enggak masalah kan? Aku suamimu, bukan orang lain," Al menegaskan.
Icha mengangguk, "Iya sayang," ucapnya.
__ADS_1
"Mau langsung pulang apa kumpul sama teman-teman dulu?" tanya Al, dia sebenarnya masih ingin bersama teman-temannya merayakan keberhasilan mereka, tapi dia tak mau egois lebih baik bertanya pada istrinya.
"Aku mau ketemu teman sekelas dulu ya, nanti kalau sudah selesai aku akan kesini, atau enggak aku kirim pesan ke Alvian aja," ucap Icha, dia juga mau berkumpul dengan teman sekelasnya.
"Baiklah, hati-hati sayang," ucap Al.
Icha pun mengangguk, dia meninggalkan Al yang masih setia berdiri menunggu sampai Icha mengilang dari pandangan matanya.
Al kembali ke tempat teman-temannya tadi, menghabiskan waktu di SMA ini yang sebentar lagi akan mereka tinggalkan.
▪︎▪︎▪︎▪︎
Satu jam berlalu, Icha telah selesai berkumpul dengan teman sekelasnya. Membahas acara perpisahan yang akan diadakan minggu depan dan juga mengucapkan selamat atas kelulusan mereka.
Icha membuka ponselnya, ada banyak sekali panggilan dari Mama, Papa dan juga Kakaknya. Sejak tadi ponselnya memang dia silent jadi dia tak mendengar ponselnya berbunyi. Beberapa pesan pun terlihat dari orang yang sama. Karena merasa khawatir dia tak mempedulikan pesan yang ada, lebih memilih menlefon orang-orang yang sejak tadi menghubunginya.
Telfon tersambung, belum sempat dia mebgucapkan salam orang di seberang sana sudah mengejutkan dengan ucapannya. Hampir saja Icha menjatuhkan ponselnya karena terkejut, tapi dia masih bisa menahan ponselnya hingga tidak terjatuh.
Tanpa menjawab omongan orang yang dia telfon, dia langsung lari keluar kelas, entah mencari siapa. Dengan posel yang masih dia genggam erat.
Bersambung.....
**Jangan lupa like dan komennya yah.
Buat kalian bisa banget follow ig ku @abil_rahma aku akan kasih info tentang novelku disana**.
__ADS_1