
Lama menunggu balasan suaminya tapi tak kunjung dibalas, tanpa terasa dia pun terlelap, masih dengan ponsel yang berada di genggamannya.
Setelah setengah jam mandi, akhirnya Nayla keluar juga. Dia menggelengkan kepala melihat Icha yang sudah tertidur, apakah dia terlalu lama di dalam kamar mandi, sampai-sampai Icha sudah terlelap begitu.
Nayla memang terbiasa mandi dengan berendam terlebih dahulu, apalagi tadi perjalanan cukup memakan waktu lama, karena jalanan macet juga, jadi dia memilih menghilangkan capeknya dengan berendam di air hangat.
Membangunkan Icha dengan perlahan, "Cha bangun, mandi dulu, ini juga sudah sore," ucap Nayla dia menggoyang-goyangkan tubuh Icha.
Icha mengulurkan kedua tangannya, seperti anak kecil saja saat masih malas untuk bangun, "Gendong," gumamnya.
Apalagi ini, benar-benar seperti balita. Bangun tidur harus di gendong segala, pikir Nayla.
"Icha, aku bukan Al tapi Nayla!" seru Nayla.
Icha membuka matanya, dia menyengir saat tahu ternyata yang ada di hadapannya itu Nayla bukan Al, suaminya. Icha memang kadang seperti itu saat bangun tidur minta di gendong sama Al, terutama saat dia sudah hamil.
Malu sekali rasanya, ternyata Nayla, pikir Icha.
"Manja banget sih Cha, Al mau gitu gendong kamu ke kamar mandi?" tanya Nayla, dia tak habis pikir sahabatnya bisa semanja itu pada sang suami.
Icha tersenyum malu-malu, tak urung dia pun mengangguk, "Iya," jawabnya.
"Yaudah aku mandi deh, kamu sih lama mandinya, aku ketiduran, kan?" ucap Icha, lalu dia beranjak dari tidurnya dan menuju kamar mandi.
Selesai mandi dan berganti pakaian, melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim. Icha melihat ponselnya, pesan yang dia kirim belum di buka oleh Al. Dia memilih untuk mendatangi kamar Al.
"Aku mau ke kamar Al dulu ya Nay, mungkin dia ketiduran. Setelah ini kita ngasih cemilan tadi," pamit Icha, dia keluar kamar, menuju kamar sebelahnya, karena dia yakin Al dan kedua temannya pasti berada di kamar sebelah.
Tok
Tok
Tok
Mengetuk pintu kamar, tapi tak ada jawaban dari dalam, mendorong sedikit pintu tersebut, ternyata tidak terkunci, dia melihat kedalam hanya ada Al yang tertidur. Memutuskan untuk masuk dan membangunkan suaminya.
"Sayang, bangun ini sudah sore." Icha mengguncang tubuh Al, tetapi belum ada respon dari Al, entah dia sengaja atau memang tidak merasakan jika di bangunkan oleh Icha.
__ADS_1
Dia kembali mengguncang tubuh Al, bukannya bangun Al justru menarik kedua tangan Icha, dan yang terjadi Icha terjatuh diatas tubuhnya. Lalu memeluknya dengan erat.
"Jangan seperti ini Al, kalau ada yang lihat gimana?" protes Icha.
"Enggak akan ada yang lihat, sayang." Al tersenyum, "Kamu wangi sekali? Sudah mandi ya?" tanya Al dia mencium puncak kepala Icha yang tertutup jilbab.
Icha hanya mengangguk, dia berusaha melepaskan diri dari kurungan Al, dia tidak mau jika ada yang melihat mereka dalam keadaan yang sanagat intim seperti itu, tapi tenaga Al lebih kuat, jadi dia tak mampu untuk melepaskan diri.
"Sayang, lepas dong, kamu mandi sana terus ...." Ucapan Icha menggantung begitu saja, karena Al melahap bibirnya. Tak urung Icha membalas ciuman itu.
Saking asyiknya mereka pun tak menyadari sedang dimanakah sekarang. Saat ada seseorang yang masuk dan membuka pintu pun mereka tak mendengarnya.
"Icha, kena ... Aaaa, aku gak lihat ya." Nayla berteriak, dia tak sebgaja melihat adega panas secara live dengan mata kepalanya sendiri. Bukan di sebuah drama tapi dalam kehidupan nyata.
Nayla menutup pintu dengan keras, hingga seseorang yang ada di hadapannya ikut terkejut.
"Kenapa teriak-teriak sih? Terus banting pintu lagi," protes seseorang itu.
"Eng ... Gak apa-apa. Stop jangan masuk dulu." Nayla memegangi handle pintu dan melarang orang itu masuk, dia tidak tahu harus menjelaskan apa.
"Lo habis ngintipin Al ya? Pantes teriak-teriak." Memaksa masuk kedalam kamar.
Pintu terbuka, dia mengernyitkan dahinya, "Lo tadi liat mereka?" tebaknya.
Di dalam kamar Icha sudah melepaskan diri dari dekapan Al, mereka mengahiri ciuman panas yang terjadi setelah mendengar teriakan Nayla.
Nayla mengangguk, tanpa mengucap sepatah kata pun.
"Makanya ketuk pintu dulu sebelum masuk," ucap seseorang itu, dia menebak jika Nayla main nyelonong saja tanpa mengetuk pintu.
Icha yang berada di dalam kamar, dia malu sekali melihat ada kedua orang itu di depan pintu, tapi dia memilih tak peduli, toh mereka juga tahu seperti apa dia dan Al.
"Permisi Vian, aku mau keluar," ucap Icha karena Alvian masih mematung di tengah-tengah pintu.
"Oke, silahkan," dia mempersilahkan Icha keluar kamar, dan dirinya memilih masuk menemui sahabatnya.
"Lo gila ya, untung yang lihat Nayla, coba kalo orang lain, bisa di grebek kalian," protes Alvian, mendudukkan dirinya disisi ranjang bersebelahan dengan Al.
__ADS_1
"Gue gak salah kan, melakukan begitu sama istri gue sendiri," Al tak terima jika dia disalahkan.
"Serah lo," Alvian menyerah, dia tak mau berdebat dengan sahabatnya.
Al memilih masuk kamar mandi.
Sedangkan disisi lain, Nayla juga protes atas kelakuan kedua sejoli itu, mereka tak tahu tempat, apalagi tadi pintu kamar tidak terkunci.
"Untung aja aku yang liat, coba kalo yang liat si Dea apa Rara, kalian bisa apa?" ucap Nayla sedikit sewot.
"Aku dipaksa sama Al, Nay, dia yang memulai duluan," jelas Icha.
"Iya, tapi kamu menikmatinya juga, kan?"
Icha tersenyum canggung, "Ya begitulah," jawabnya.
Nayla hanya mendengus, lalu dia memilih diam tak mau meneruskan pembahasan itu.
"Kamu tahu dimana tempat tinggal yang ngurus villa ini enggak sih, Nay? Perasaan kita muter-muter aja," keluh Icha, karena mereka sejak tadi berjalan tak samapi-sampai di tempat yang mereka tuju.
"Mana ya, semalam Doni bilang sebelah sini, kan?" Nayla justru bertanya balik, padahal mereka sama-sama tak mengetahuinya.
Berhenti sejenak, melihat sekeliling apakah ada orang disana? Benar saja di dekat kolam renang ada sesorang sepertinya sedang membersihkan kolam renang itu.
"Itu ada orang, tanya saja, mungin mereka salah satu dari keluarga yang mengurus villa ini." Nayla menunjuk seseorang itu.
Icha mengangguk, lalu keduanya mendekati orang tersebut. Seorang perempuan berumur sekitar dua puluh tahunan, dia terlihat membersihkan sampah yang masuk ke dalam kolam renang.
"Permisi Mba, dimana rumah yang mengurus villa ini ya?" tanya Icha dengan sopa pada perempuan itu.
"Iya Non, itu tempat tinggal kami, Non mau bertemu siapa?" Perempuan itu menunjuk sebuah bangunan, yang masih menempel dengan villa.
"Oh, itu. Kami mau ngasih ini, diterima Mba saja ya," ucap Icha. Padahal mereka berdua sejak tadi sudah melewati bangunan itu, karena sepi jadi mereka tak tahu jika itu tempat yang mereka cari.
"Terimakasih banyak ya Non, merepotkan Non saja," ucapnya dengan sopan.
"Sama-sama, ini tidak merepotkan, kok. Kalau gitu kita permisi ya Mba," mereka berdua pun berpamitan, lalu meninggalkan perempuan itu. Kembali kedalam kamar sambil menunggu senja tiba.
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa like dan komennya yah, makasih.....