Dirgantara Malik Alkeenan

Dirgantara Malik Alkeenan
S E P U L U H


__ADS_3

"Ikut keruangan Saya!"


Mendengar kata itu Dinda langsung frustasi. Seakan sial yang ia dapat. Ia menyesali dirinya yang tiba-tiba sok ramah. Seakan lupa siapa Dirga? Makhluk yang paling di takuti walaupun beberapa hari ini dia terlihat baik tetap saja Dinda harus waspada.


Jika Dinda sering di katain aneh, maka bagi Dinda Dirga lah yang lebih aneh dari pada dirinya.


Dinda menepuk-nepuk mulutnya dan mengikuti langkah Dirga dari belakang.


Detak jantung Dinda berpacu cepat seakan Dirga mau menerkamnya. Dirga menatap Dinda dari ujung kepala sampai ke ujung kaki


"Ini semua gara-gara kamu?" Ujar Dirga meluapkan emosinya. Bagaimana tidak, ia masih memiliki rasa kepada perempuan yang tengah menundukkan kepala


Dinda sudah menduga namun Dinda tetap harus mencari pembelaan "Sa... Saya salah apa Pak Dirga?"


"Pokoknya ini semua salah kamu!"


"Kenapa salah saya?" Dinda mengerutkankan bibirnya kebingungan


Apa salah menyapa ia di pagi hari, dasar manusia aneh. Batin Dinda ikut menggerutu


Dirga melipat tangan di depan dadanya, setelah terdiam sekitar lima detik. Ia melirik ke arah Dinda.


"Sana, kembali ke meja kerjamu" Suruh Dirga, gadis itu langsung menatap bingung. Ia mengusap wajahnya dan mengangguk lalu pergi


Dinda menyipitkan matanya, memutar leher, menatap ke arah pintu ruangan Dirga yang sudah tertutup "Dasar pria gila" Omel Dinda dan tiba-tiba ia di kagetkan oleh Radit


"Ada apa kamu pagi-pagi kesini?"


Mendapatkan pertanyaan itu Dinda langsung memasang raut wajah kesal. Memutar bola matanya "Bukan urusanmu!"


"Aku rasa ia benar-benar telah hilang akal!" Keluh Radit ketika Dinda berlalu meninggalkannya


Radit tampak agak resah ketika ia baru membuka separuh pintu, dia menekan bibirnya menjadi garis datar dan berdecak "Ini bukan yang kuharapkan pagi ini" Ia menutup kembali pintu itu secara pelan-pelan dan kembali ke tim manajemen

__ADS_1


#


"Bagaimana kabarmu, Dirga?" Wanita itu membuka pembicaraan. Wanita dengan tinggi 165cm dan memiliki paras cantik. Ia baru saja kembali setelah lama merantau di negara orang.


Naysa mendapatkan pesan dari Bu Vera untuk menemui Dirga disalah satu restoran. Dirga sedari pagi mendapatkan desakan dari Mamanya untuk menemui Naysa. Ia memutuskan untuk makan siang di Aulia Restaurant. Satu dari sekian banyak restoran di ibu kota yang menyediakan berbagai hidangan lezat.


"Aku baik, bagaimana denganmu?"


"Aku juga baik" Sahut Naysa


"Sudah lama kita tidak berjumpa, terakhir bertemu waktu aku berlibur ke Australia"


Dirga mengangguk.


"Aku baru kembali dari jerman. Bisnis Papa tidak berjalan baik disana. Dan kami memutuskan untuk menutupnya, sekarang aku sedang mencoba untuk membantu perusahaan Papa yang disini"


"Papamu membangun usaha di bidang apa?"


"Periklanan"


"Tapi tidak begitu lancar"


"Kenapa?"


"Ya kemungkinan pasang surut" Dirga hanya membalas dengan tatapan ramah


"Kamu... Masih menjalin hubungan dengan Syifa?"


Mendengar nama itu, Dirga seketika tertegun. Untuk sejenak ingatannya melayang pada sosok yang pernah menjadi kekasihnya. Semasa kuliah di Australia


"Tidak. Sebelum kelulusan, hubungan kami berakhir" Katanya kemudian


"Kupikir kalian akan sampai ke jenjang pernikahan"

__ADS_1


Dirga hanya tersenyum kecil. Hingga hening menyergap. Sampai akhirnya pelayan datang membawakan pesanan.


Tepat saat itu, melewati pintu masuk, seorang pelayan perempuan menyambut Rania dan Dinda dengan ramah. Kedua wanita itu baru saja melakukan wawancara kedua bersama majalah ZYN tak jauh dari restoran itu. Gadis itu menuntun mereka pada meja yang berada di bagian depan. Suasana restoran cukup ramai. Sebab waktu memang sudah menunjukkan jam makan siang


"Chicken steak disini enak loh Din, mau coba?" Ucap Rania. Dinda mengangguk setuju


"Restoran ini tempatnya unik, aku menyukai interiornya. Semoga toko roti Mama bisa sebagus ini" Kata Dinda berdecak kagum


Rania menyapu pandangan ke sekeliling sembari mengangguk-angguk. Benar saja, restoran berkonsep cermin. Atap restoran di buat sama dengan lantai restoran. Dan mereka juga memperbanyak tanaman hijau yang asri dan rindang. Membuat pengunjung betah berlama-lama.



Mendadak tatapan Rania terhenti pada salah satu titik ruangan, tepatnya di bagian sudut. Dimana, sepasang pria dan wanita tampak berbincang sambil tertawa.


Lelaki yang notabane kata orang orang kaum pelangi. Kini berbanding terbalik. Mereka berdua terlihat sangat serasi.


"Pak Dirga sama siapa dia?" Gumam Rania mengamati lebih saksama


"Kenapa?"


"Waah... Ini berita besar.. Waah" Rania begitu antusias


"Kenapa sih?"


"Pak Dirga ternyata diam-diam memiliki kekasih"


"Tahu darimana?"


"Noh" Tutur Rania mengarahkan pandangannya. Mata Dinda langsung menangkap Dirga tengah asyik tersenyum manis. Seakan tidak ada kecanggungan di antara mereka berdua


"Bagus dong Ran, biar dia tidak ngomelin kita terus"


"Iya juga sih, tapi aku belum percaya aja"

__ADS_1


Rania tidak ingin kehilangan momen. Ia mengarahkan kameranya ke arah Dirga. Di saat itu Dirga menyadari dua orang karyawannya juga berada disana.


__ADS_2