
Setelah selesai menikmati makan malam, Dinda melanjutkan beberapa pekerjaannya yang belum selesai. Dirga mengalihkan pandangannya melihat Dinda menguap beberapa kali.
"Kamu boleh pulang"
"Mari saya antar, mobil kantor tinggakan saja, besok biar orang kantor yang ambil" Katanya saat Dinda ingin menekan tombol lift, Dinda mengangguk setuju lalu tersenyum kecil.
Lift terbuka, Naysa keluar dari sana. Naysa tersenyum sumbing melihat mereka berdua. Dirga kembali membohonginya
"Kamu bilang pekerjaan kamu banyak?" Tanya Naysa ketus
"Saya kesini benar-benar mengerjakan beberapa file kita yang gagal itu!" Bela Dinda agar tidak terjadi kesalah pahaman
"Haah? Setelah pernikahan kamu hancur, kamu berniat menghancurkan hubungan orang lain juga? Benar begitu?"
"Dia nggak tau apa-apa" Pungkas Dirga
"Kamu juga Dirga, kamu bilang sama Mama nggak bisa makan malam sama aku malam ini karena banyak pekerjaan, tapi ini apa? Aku kecewa sama kamu"
Dinda menangkap ada hubungan yang mereka sembunyikan
"Kalau begitu saya permisi" Ujar Dinda langsung menekan tombol lift ke lantai dasar
Empat hari yang lalu. Dirga menerima tawaran Mamanya untuk mencoba menjalani hubungan dahulu bersama Naysa. Dan sesuai perjanjian mereka berdua jika tidak merasa tidak cocok dalam sebulan boleh menyudahi hubungan ini, Naysa menyetujui, bagaimana pun juga ia menyukai teman masa kecilnya itu.
"Dirga liat aku! Dia tidak akan pernah menyukaimu"
"Kamu udah janji buat jaga jarak sama dia, Ya? Aku paham dia banyak mengerti soal pekerjaanmu"
"Tapi nggak harus lembur berduan di luar kantor"
Dirga menghela nafas, lalu membawa Naysa ke dalam pelukannya
"Maafin aku" Ujarnya tidak ingin memperpanjang masalah, lalu Naysa tersenyum dan melingkarkan kedua tangannya
__ADS_1
Lift terbuka, Dinda menyaksikan mereka berdua saling berpelukan, Dirga terdiam dengan tatapan sayu menatap kehadiran gadis yang masih di sukainya
"M-maaf mengganggu, dompet saya ketinggalan di dalam" Ucap Dinda serba salah
Naysa melepaskan pelukannya lalu berkata "Silahkan ambil sendiri".
#
Pagi menjelang, Dinda masih tidak percaya apa yang di lihatnya semalam.
Dan sepagi ini juga Dirga sudah sampai di kantor.
Tim manajemen terlihat tidak bersemangat, Dinda masuk dan tersenyum kepada mereka yang sedang berkumpul dalam satu meja.
Delon terlihat memainkan beberapa kertas membentuk pesawat mainan, sedangkan yang lain sibuk berkutat di depan laptop
Anggun menghela nafas "Kamu hanya bermalas-malasan, pikirkanlah beberapa ide?"
"Ide tidak akan datang dari menganalisis data, kreativitas berasal dari wawasan, hal itu akan muncul dengan tiba-tiba" Ucapnya tertawa semringah tanpa beban
"Hah, berfikir secara mendadak membuat otakku bekerja lambat"
"Ayo pergi keluar, membeli kopi lalu menemukan inspirasi" Ucap Delon menutup laptop Anggun
"Ada apa denganmu?"
"Ayo semuanya, ini bukan waktu yang tepat untuk mencari ide" Tidak ada satu orang pun yang mendengarkannya,kemudian Delon pergi seorang diri. Ia duduk santai di kafe kantor sambil mengamati orang-orang yang lewat
Tak lama kemudian ia kembali dan berteriak "Akhirnya aku mendapatkan ide, kolaborasi bersama para elite walaupun membutuhkan waktu dan uang yang banyak"
"Astaga! Kamu keluar dan mendapatkan inspirasi, apa itu hasilnya? Kolaborasi?"
"Dengarkan aku, kita akan menciptakan bentuk dan merk furniture yang memilih sejarah dan tradisi, dan tentunya akan menghasilkan desain yang inovatif, agar lebih bernilai kita akan membuatnya menjadi edisi terbatas"
__ADS_1
"Satu lagi kita akan memberikan bonus satu rumah kepada konsumen yang berhasil menawarkan minimal lima orang keteman-temannya".
"Aku tidak yakin, itu semua tidak mudah"
"Mudah jika target kita perumahan elite dan hotel berbintang"
"Dinda gimana menurutmu?"
"Berikan proposalnya untuk di berikan kepada Pak Dirga, walaupun ini akan menjadi pekerjaan yang sulit,tapi kita akan tetap semangat" Ucap Dinda sedikit setuju dengan usulan Delon
Dinda mengetuk pintu dan masuk, ia melihat Dirga sedang banyak memikirkan suatu hal.
"Pak Dirga!"
"Apa? Kamu sudah ada ide?" Dinda memberikan proposal yang ia dapati dari tim manajemen. Kemudian Dinda juga menjelaskan hasil dari rapat mereka tadi.
"Untuk sekarang ini selain membujuk investor kita juga harus melakukan sistem referral, kita harus memperluas promosi dari mulut ke mulut"
Dirga tersenyum kecil, lalu menatap Dinda yang juga ikut tersenyum
"Beban yang Bapak pikul pasti sangat berat, aku tahu Bapak tidak ingin gagal karena semua hak karyawan yang akan Bapak pertanggungjawabkan"
"Aku peduli hal itu, aku pasti akan mendukungmu, aku akan tetap di sisi kamu untuk Membantumu!"
Dirga berdiri dari duduknya, ia semakin mendekat ke arah Dinda. Tanpa keraguan, Dirga memeluk Dinda sangat hangat "Kumohon tepati janjimu untuk tetap di sisiku"
Dinda membulatkan matanya, tidak percaya. Dirga begitu berani memeluknya tanpa permisi.
"Pak Dirga lepaskan"
"Aku lagi butuh dukunganmu, sebentar saja"
"Kekasihmu mana?" Tanya Dinda mencoba menggoda Dirga
__ADS_1
Dirga melepaskan pelukannya, kemudian menyentil lembut kening wanita yang masih tersenyum itu.