Dirgantara Malik Alkeenan

Dirgantara Malik Alkeenan
D E L A P A N B E L A S


__ADS_3

Suara bel penthousenya terdengar beberapa kali, padahal hari sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Dirga tidak menghiraukannya, Dirga sudah bisa menebak siapa itu. Tidak ada orang lain yang bisa mengganggunya selain Bu Vera.


Bu Vera tidak menyerah menekan tombol bel. Karena beberapa hari yang lalu Dirga telah mengganti password pintu masuknya. Dan sudah berhari-hari juga Dirga tidak memberi kabar.


"Anak ini benar-benar" Omel Bu Vera


Tak lama Dirga membuka pintu dan Bu Vera langsung menerobos masuk. Raut kesal terlihat dari wajahnya, lalu Bu Vera menatap Dirga yang berdiri di hadapannya "Apakah Mamamu ini juga orang asing bagi kamu?"


Dirga tidak mempedulikan perkataan Mamanya, ia memilih kembali duduk dan menatap monitor laptopnya.


"Kapan pacar kamu datang ke rumah?" Tanya Bu Vera sambil mengeluarkan bungkusan makanan yang di bawa dari rumah utama


Dirga menghela nafas dan langsung mendapat tatapan sinis dari Bu Vera "Kenalkan Mama sama keluarganya"


Dirga menatap wanita yang begitu menyayanginya itu "ma....." Entah kenapa Bu Vera langsung merasakan firasat buruk


"Tunggu? Apa kamu bohong sama Mama? Kamu tidak punya pacar atau di tolak oleh seseorang?" Tanya Bu Vera menatap tajam


"Hmmmm. A.. A-aku lagi berusaha, atau bisa di bilang begitu"


"APA?" Teriak Bu Vera menggelegar "Wanita mana yang berani menolak kamu?"


"Ma tenang dulu"


"Darah Mama mulai mendidih, sesempurna ini kamu masih di tolak? Kasih tahu Mama orangnya"


Dirga langsung menenangkan Mamanya. Ia membawa Bu Vera untuk duduk agar bisa lebih rileks. Beberapa menit Bu Vera terdiam, ia kembali bersuara "Naysa bagaimana?"

__ADS_1


"Dia wanita sempurna, nikahi dia tanpa alasan apapun


Keluarga kita sudah saling mengenal"


"Ma tidak semudah itu mencintai orang lain"


"Makanya Mama wanti-wanti kamu supaya mengurangi sedikit sikap dingin kamu itu"


"Lalu bagaimana dengan Papa kamu? Bagaimana Mama menjelaskannya?"


"Dirga kali ini bantu Mama, turuti kata Mama


Mama mohon, jangan keras kepala nak"


"Aku juga minta tolong sama Mama, stop, ikut campur urusan percintaanku"


Bu Vera tidak banyak berbicara lagi, tak lama setelah itu ia meninggalkan penthouse Dirga. Kekecewaan terlihat jelas di raut wajahnya. Dirga hanya terdiam menatap keluar jendela. Selama ini hidupnya telah di atur oleh keluarganya.


Sebenarnya tak masalah juga bagi Dirga menerima tawaran pernikahan dari Mamanya. Toh, ia mengenal siapa Naysa. Wanita pertama yang menjadi sahabatnya.


Berkali-kali Dirga mencoba mendekati Dinda, namun tidak pernah ada hasil. Beberapa kali juga terbesit dari pikirannya untuk menyerah. Dan pada akhirnya, ia akan memikirkan ucapan Mamanya.


Dirga berjalan ke arah kolam renang. Ia menatap air di kolam itu begitu tenang. Tak lama kemudian ingatan tentang Dinda ketika baru-baru bekerja di perusahaannya muncul begitu saja.


Pagi itu Dirga melangkah dengan mantap. Memasuki ruang kerjanya, dasi silver melingkar longgar di lehernya. Dengan jas yang ia dekap di lengan kanan. Sedangkan lengan kiri menenteng tas kerja. Lelaki itu meletakkan tas dan jas pada tempatnya.


Baru kemudian mengayunkan langkah mengitari perusahaan. Dirga diam cukup lama ketika pintunya terbuka. Sudah satu minggu Dinda bekerja di perusahaannya. Hingga kemudian bola matanya menemukan Dinda yang membalikkan badan dan mengulas senyum hangat ke arahnya.

__ADS_1


Seulas senyum yang Dirga pastikan bisa membuat beberapa lelaki menoleh berkali-kali termasuk dirinya. Senyuman itu begitu manis, sampai masuk ke hatinya.


Bertahun-tahun ia tidak melihat wanita itu. Kini dengan jelas ada di depan matanya.


"Pagi Pak Dirga" Dinda bersuara, suara jernih yang teramat merdu menyapanya


"Pagi" Balas Dirga seraya melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan


"Saya Dinda Anatasya dari tim manajemen.."


Dirga langsung memotong pembicaraan "Karyawan baru" Dinda langsung mengangguk


"Saya ingin mengantar berkas yang Pak Dirga minta"


"Silahkan masuk" Dinda mengikuti langkah Dirga, dan untuk pertama kalinya ia memasuki ruangan presiden direktur. Dirga menyuruh Dinda duduk dan kembali untuk mengecek laporannya sebelum di berikan


Dirga yang tengah berdiri menurunkan tatapannya. Melihat bulu mata lentik Dinda juga rambut perempuan itu yang sudah di kucir rapi. Tinggi Dinda hanya sebatas bahunya.


Tak lama kemudian Dinda menengadah mengulas senyum manis. Teramat manis. Membuat jantung Dirga berhenti berdetak sebentar.


"Laporannya sudah sesuai semua Pak Dirga" ia berkedip pelan lalu mengarahkan tatapan pada map biru yang di pegang Dinda


Sore harinya, dari lantai atas Dirga menatap mobil yang menjemput Dinda. Ia melihat sosok Bayu keluar dan tersenyum menyambut kekasihnya. Dirga masih berdiri disana cukup lama, sebelum akhirnya menghela napas begitu pelan.


Suara getaran ponsel membuyarkan lamunan Dirga, ia merogoh saku celana


"Hallo" Jawab Dirga kembali melangkah menuju kamar

__ADS_1


__ADS_2