
Suasana kembali menjadi riuh ketika Dinda mengatakan ia akan menggantikan posisi Radit untuk beberapa hari ke depan, yang membuat mereka geli ketika bos tidak memberikan alasan mengapa harus memilih Dinda menjadi sekretarisnya, padahal beberapa minggu yang lalu dia dengan teganya mengusir Dinda keluar dari tim manajemen.
"Radit kemana Din?" Tanya Anggun begitu penasaran
"Kata si boss ada urusan keluarga" Mendengar jawaban dari Dinda, raut wajah Anggun langsung berubah murung
"Lupakan Radit, haruskah kukatakan bos kita itu aneh, dia menyukai superlatif, dia berpikir hanya itu yang harus di ikuti karyawan, sungguh pemikiran yang picik!" Keluh Delon yang memiliki mulut setajam pisau
"Iya sih, lalu apa kalian tidak berpikir juga bahwa dia terlalu kekanak-kanakan di tambah lagi dia adalah atasan kita, tapi dia berkomunikasi saat dia mau saja" Timpal Aelin merasa yang di ucapkan Delon ada benarnya juga
"Dan yang lebih menjengkelkan lagi, ia sesuka hatinya memindahkan karyawan tanpa memikirkan resikonya, giliran kita keteteran dia marah-marah"
Tiba-tiba, entah dari sudut mana Dirga sudah berdiri di balik sekat kaca. Ia menatap tajam melihat karyawannya sibuk mengobrol di jam kerja "Kalian sedang membicarakan saya?" Mereka kompak menggelengkan kepala dan kembali ke kubikel masing-masing
Beberapa menit kemudian Dirga Duduk di kursi yang biasa di tempati Radit. Tim manajemen mulai membahas beberapa proyek yang sedang mereka jalani
"Ini akan berbeda dengan yang lain karena konsepnya terbatas" Ucap Delon
"Selain itu terlalu sedikit promosi tanpa memperluas relasi bisa menghambat jalannya" Sambung pria yang memiliki tinggi 183cm itu
"Dan beberapa investor sudah mulai mengeluhkan beberapa hal itu? Apa kamu punya rencana untuk mengatasi masalah ini?"
__ADS_1
Rania juga ikut angkat suara "Dan itu adalah masalah yang tidak bisa di abaikan! Bagaimana pun juga mempertahankan dan meyakinkan investor di awal untuk menetap agak sedikit sulit"
"Delon kalau begitu apa kamu punya ide, sesekali otak kamu di pakai untuk hal yang berguna, dan hal unik apa yang bisa menargetkan beberapa investor untuk tetap bertahan?" Tanya Anggun
"Aku tidak ada ide" Sambung Delon tertawa semringah tanpa beban
"Ada apa denganmu?" Anggun kembali menatap kesal
"Hmmm, Apa yang Bapak pikirkan?" Tanya Naysa melihat Dirga berpikir sedari tadi
"Tidak ada, saya perlu mendalami dulu"
"Kita harus bergerak cepat agar bisa memuaskan pelanggan karena kita juga masih baru dalam bidang properti ini" Timpal Dinda yang lain ikut setuju
"Kemana lagi dia?" Gumam Dinda melihat ruangan itu kosong
Tanpa berpikir panjang dan sedikit penasaran, Dinda memberanikan diri berkeliling ruang kerja presdir. Ada satu pintu yang membuat Dinda penasaran, Dinda membuka pintu satu itu, mulut Dinda terbuka melihat ruangan luas, sebuah tempat tidur berukuran besar di tempatkan di dekat jendela, sebuah meja kerja dan satu sofa di sudut berlawanan.
Dan di ranjang itu Dirga sedang tidur "Mati aku!" Gumam Dinda menahan nafas seraya menutup pintu pelan-pelan
Ia ingat kata Radit, Pak Dirga tidak suka orang lain mengotak-atik barang pribadinya, membuka pintu ruangan tanpa izin, tidak suka berisik dan tidak suka melihat meja berantakan ada kerjaan segera di selesaikan.
__ADS_1
Dinda bersyukur ketika ia telah keluar dari ruangan Dirga. Satu jam, dua jam Dirga juga tidak keluar. Dinda bingung apa yang harus di kerjakan.
Beberapa jam telah berlalu
Saat semua karyawan sudah pada pulang, Dinda masih duduk di depan pintu ruangan Dirga, beberapa kali ia melihat ke dalam, menunggu Dirga pulang. Tak lama kemudian pintu ruangan itu terbuka, tidak ada percakapan di antara mereka. Dinda hanya mengikuti langkah bossnya.
Ketika memasuki lift, Dirga menatap Dinda dengan saksama "Saya berhalusinasi bahwa kamu mengintip saya saat sedang tidur"
Dinda tertawa lepas menyembunyikan ketakutannya "Aaaahhh, mana mungkin Pak Dirga, itu hanya mimpi" Kemudian Dirga mengangguk setuju
Naysa wanita cantik dan anggun telah menunggu Dirga di lantai dasar.
Wanita itu bergerak mendekati Dirga dengan senyuman khasnya, suara ketukan sepatu tingginya seperti sebuah irama yang menyatu
"Aku kelamaan ya?" Ucap Dirga penuh senyuman
Naysa membalas dengan senyuman manis "Dikit, tapi it's okay"
Dinda Menghentikan langkahnya, menatap mereka berdua yang terlihat sangat serasi, lalu membiarkan dua orang itu pergi dahulu. Tidak ada alasan untuk Dinda bertanya karena ini bukan jam kerja
Di sisi lain, Bayu merebahkan diri di kasur ternyamannya. Matanya menatap dinding yang masih di hiasi oleh foto Dinda dan dirinya. Bayu menghela napas dalam, ingatannya menerawang saat ia pertama kali bersama Dinda.
__ADS_1
Baginya Dinda bukan wanita populer ia hanya wanita biasa yang mempunyai senyum manis yang sangat luar biasa. Bayu kembali menghela napas saat merindukan gadis itu "Ah, aku benar-benar merindukanmu Din"