Dirgantara Malik Alkeenan

Dirgantara Malik Alkeenan
D U A P U L U H E M P A T


__ADS_3

Sebelum turun Dinda memoles lipstik serta merapikan rambut lurusnya yang tergerai, Dinda melangkah memasuki pintu yang terbuka otomatis, ia pun menghentikan langkah ketika melihat Dirga keluar dari lift.


"Ikut saya" Ucap Dirga kembali memasuki lift yang sama. Dinda hanya Diam dan lift itu semakin naik keatas


"Kita mau kemana?" Dirga tidak menjawab pertanyaannya


Lift itu tepat berhenti dan menghadap langsung ke sebuah ruangan, Dinda terdiam lalu Dirga menyuruh untuk masuk, sesaat Dinda mengagumi interior dalam penthouse yang menampakkan kesejukkan serta tak lupa kemewahan di dalamnya. Aura duit berserakan tercium jelas oleh gadis itu.


Dinda kembali bertanya "Pak Dirga ada apa?"


"Kamu akan lembur malam ini" Respons Dinda tidak terduga, mulutnya menganga, alis terangkat dan spontan kedua tangannya melingkar menutupi dada


"Hilangkan pikiran kotormu itu!" Ucap Dirga seraya menunjuk ke sebuah tumpukan kertas di atas meja


"Kenapa tidak di kantor?"


"Saya tanya disini siapa bossnya?"


"Gaji kamu akan saya bayar 5X lipat dari biasa"


Dinda menelan ludah,hal yang luar biasa dan tidak pernah terjadi seumur hidupnya. Dinda mengatur senyum dan bergegas kearah meja yang berserak dengan beberapa file


Sedangkan Dirga memasuki kamarnya, tak berapa lama ia kembali keluar dengan kaos bewarna putih yang di padukan dengan celana bewarna hitam, ia langsung duduk di ruang tengah sambil kembali menatap layar laptopnya


"Bagaimana hasil dari perusahaan Aditama?" Tanya Dirga dengan posisi yang sama, kemudian Dinda terdiam mengingat penawaran Bayu


"Ada apa?" Tanya Dirga kembali melihat Dinda masih terpaku diam


"Katanya dia akan mengkaji ulang"


"Lalu?"


"Tetapi dia tidak yakin untuk melanjutkan, kecuali.." Dinda kembali terdiam


"Kecuali apa?" Tanya Dirga sudah berdiri di depan meja gadis itu


Dinda tersenyum ramah "Kecuali perusahaannya banyak mendapatkan keuntungan"


Dirga tersenyum kecil lalu kembali ke ruang tengah. Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam, Dinda merasakan badannya mulai lelah. Pekerjaan sekretaris benar-benar menguras tenaga.


"Pak Dirga" Panggil Dinda ketika ia mulai kebingungan mencari file yang di privacy

__ADS_1


"Hmmm"


"Ini, beberapa file tidak ketemu" Dirga langsung berdiri dan menarik kursi kosong di samping Dinda, seketika Dinda menggeser kursinya dan langsung tangan Dirga menahan kursi itu.


"Lihat dan perhatikan" Ia melihat dan mendengarkan dengan saksama apa yang di jelaskan Dirga.


...



...


Kruk... Kruuk..


Dirga tertawa begitu mendengar cacing di perut Dinda mulai berontak minta di isi, Dinda ikut tersenyum seraya mengelus perutnya


"Kamu lapar?" Dinda mengangguk malu


"Mau ikut makan? Tadi pagi Mama mengantar beberapa lauk rumahan" Dinda kembali mengangguk setuju, dari pada mengikuti gengsi, akan membuat ia mati kelaparan.


Dirga mengeluarkan semua lauk yang di kirim Mamanya, Dinda ikut menata piring di atas meja. Sebenarnya lauk itu di berikan kepada Dirga untuk di suruh menikmati berdua bersama Naysa.


Ketika semua sudah tersusun, Dinda mulai mencomot lauk yang semuanya terlihat enak "Waaah, luar biasa masakan Mama Pak Dirga, enak semua"


"Kamu wanita pertama yang masuk ke rumah saya selain keluarga" Dinda menghentikan suapannya, keadaan mulai canggung


"Kunyah makananmu" Suruh Dirga melihat mulut Dinda penuh terisi, Dinda mengangguk kaku


Dinda membuka obrolan,memecah kesunyian "Menurut Pak Dirga apa perlu kita mencari perusahaan lain selain Aditama grup?"


"Sedikit sulit, perusahaan Aditama adalah investor terbesar yang saat ini kita punya dan jika kita menyerah kita tidak bisa menutupi kerugian"


"Lalu bagaimana?"


"Kita perbaiki beberapa kesalahan, harus ekstra kerja keras dan tak lupa membujuk mereka kembali untuk bergabung"


"Bayu menyakiti kamu lagi?"


Dinda menggelengkan kepala lalu tersenyum kecil "Tidak".


#

__ADS_1


"Kamu!" Anggun terdiam ketika melihat Radit berdiri di depan perusahaan


Anggun dan beberapa karyawan juga memilih lembur sampai pukul 7 malam, Anggun menyapu pandangannya, orang-orang kantor sudah tidak terlihat


Radit membuka pintu mobil "Ayo masuk"


"Enggak usah!" Tolak Anggun, lalu Radit menggapai lengan kekasihnya itu ketika akan melangkah pergi


"Lepaskan, kamu kira siapa kamu dapat mempermainkanku dengan wanita di luar sana? Haah?" Anggun meluapkan emosinya pada pria yang telah mengabaikan dirinya


"Apa maksudmu?" Radit masih bicara lembut


"Ingat baik-baik aku tidak peduli lagi dengan dirimu, hubungan kita tidak pernah ada"


"Tunggu dulu, kamu kenapa? Ya aku salah tidak menghubungimu tapi aku ada alasan"


"Alasan? Memilih cuti kerja lalu berdua-duan dengan wanita? Itu alasan kamu?"


"Hi sayang, dengarin aku, aku cuti bukan untuk main-main, tetapi Mama masuk rumah sakit"


Radit lalu melangkah mendekat dan tersenyum manis, jantung Anggun berdetak kencang


"Kamu pernah melihat aku bersama wanita lain?" Anggun mengangkat kepalanya lalu mengangguk lemah


"Ini?" Tanya Radit seraya memperlihatkan foto wanita cantik dari ponselnya


"Sayang" Suaranya begitu lembut, Anggun seperti terkena sihir, ia mematung ketika melihat senyuman Radit begitu manis


Cup


Stempel!


Radit mencium kening Anggun, spontan gadis itu kaget "Iih ini masih di kawasan kantor"


"Lalu kenapa?"


"Kalau ada yang lihat bagaimana?"


"Biarin! Mana peduli kita"


"Lalu wanita itu siapa?"

__ADS_1


"Adikku namanya Elsa, lagi kuliah semester 4" Jelas Radit seraya mengacak-acak manja poni Anggun


"Kalian sedang apa?" Tanya Delon entah darimana ia muncul.


__ADS_2